2 bulan lalu · 185 view · 4 menit baca · Budaya 67920_11810.jpg
Millennial Demographic

Budaya Konsumerisme Generasi Milenial

Lima tahun terakhir, pertumbuhan industri kreatif telah menciptakan budaya berbelanja baru di pasaran. Para startup yang tidak memiliki banyak modal untuk menginvestasikan sebuah outlet untuk memamekan produk mereka, memulai dengan tren e-commerce, pop-up market, dan penjualan invidual di media sosial di kota-kota besar Indonesia. Ini membuat segala sesuatu menjadi mudah di lakukan, seperti berbelanja.

Permintaan yang tercipta memacu kemajuan teknologi dengan makin bertumbuhnya berbagai macam aplikasi, terutama yang memungkinkan untuk berbelanja dengan mudah dan cepat. 

Dilansir dari kabar24.bisnis.com Founder OMG Consulting, Yoris Sebastian, mengatakan, hal ini membuat tumbuh suburnya aplikasi mobile shopping, baik dalam bentuk market place seperti tokopedia, bukalapak, elevenia, maupun online retail shopping seperti Lazada dan Zalora. Hal ini juga bisa berdampak pada meningkatnya perekonomian karena terus tumbuhnya nilai transaksi belanja, budaya belanja secara online di kalangan generasi muda saat ini

Kemudahan-kemudahan yang didapat sekarang menimbulkan budaya konsumerisme. Budaya konsumerisme merupakan sebuah paham yang dijadikan sebagai gaya hidup yang menganggap barang mewah sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, dan pemuasan diri sendiri. Budaya konsumerisme ini bisa dikatakan sebagai contoh gaya hidup yang tidak hemat.

Dampak dari budaya konsumerisme itu terlihat dari konsumtifnya generasi milenial. Generasi milenial merupakan sebutan untuk generasi yang lahir tahun 1980 - 2000-an. Generasi itu juga disebut Generasi Praktis, karena untuk mendapatkan informasi hanya dengan mengakses internet. 

Generasi milenial saat ini lebih pragmatis dan ingin segala sesuatu yang serbainstan. Hal ini berbeda dengan perilaku generasi sebelumnya terkait keuangan yang lebih menghargai proses.


Dari data OJK, di Indonesia, rasio Marginal Prospensity to save (MPS) berada di bawah rasio Marginal Prosperity to consume (MPC) sejak tahun 2013. Hal ini menandakan bahwa sejak beberapa tahun terakhir, lebih banyak masyarakat menghabiskan pendapatan untuk kegiatan belanja dibandingkan untuk menabung.

Ini diperkuat oleh Survei Manulife Investor Sentiment Index pada 2015 yang lalu, mengungkapkan 53% responden menghabiskan 70% dari penghasilan mereka untuk berbelanja, dan 10% dari responden menghabiskan 90% dari penghasilannya untuk belanja. 

Dari kacamata individu, lemahnya budaya menabung sejak dini akan mengurangi kesempatan generasi milenial untuk mengakumulasi kekayaannya, yang seharusnya dapat mereka nikmati ketika usia mereka sudah tidak lagi produktif dan tidak sanggup berkerja lagi.

Riset yang digelar lembaga independen Provetic tentang perilaku belanja konsumen juga menunjukkan para generasi milenial cenderung memiliki perilaku menabung untuk hal-hal yang bersifat konsumtif. 

Dikutip dari kabar24.bisnis.com, CEO Provetic, Iwan Setyawan mengatakan bagi generasi millenial, menabung tidak hanya untuk tujuan finansial yang besar seperti membeli rumah, tetapi juga untuk pembelanjaan yang bersifat konsumtif, seperti beli tiket konser musik atau untuk keperluan wisata.

Dalam riset media sosial oleh lembaga independen Provetic, selama 1 Desember 2015-31 Januari 2016, ditemukan sebanyak 41% dari 7.809 perbincangan mengenai alasan utama menabung demi keperluan konsumtif tersebut. Temuan lainnya, 38% dari 7,757 responden masih menggunakan uang dari ibu atau orang tua mereka dalam melakukan metode pembayaran, selain penggunaan kartu debit yang populer.

Munculnya platform belanja online banyak menarik minat kaum milenial, khususnya remaja atau anak muda. Ia dapat diakses dengan mudah dan dengan berbagai alasan platfrom yang menyediakan transaksi online. Bahkan belanja online menjadi keharusan oleh mereka.

Berbelanja online mulai menjadi kebutuhan anak muda, bukan hanya sebagai alternatif harga atau model, tetapi karena mereka sudah menikmati pengalaman belanja secara online. 


Marketeers.com memaparkan Survei MarkPlus Insight bertajuk Youth Monitoring 2015 yang di dalamnya mengatakan, motif terkuat anak muda untuk belanja online adalah karena butuh belanja secara online dengan 29,3%; karena model yang bagus dengan 25,2%; karena mengincar harga murah dengan 21,5%; dan karena modelnya yang trendi dengan 20,6%.

Dengan membudayanya konsumerisme, tentu banyak menimbulkan dampak-dampak negatif yang timbul. Ketika diberi kemudahan dalam apa pun, timbul inisiatif ingin membeli apa pun selama itu mampu dibeli. Menjadikan perilaku boros dan mengganggu perencanaan-perencanaan yang sudah direncanakan dengan matang untuk masa depan.

Bersikap pamer dan selalu mencari kesenangan hidup tanpa memikirkan dengan matang juga dapat membahayakan masa depan generasi milenial. Apalagi hingga timbul uniformitas dan alienasi. Membuat suatu kelompok entah itu mayarakat lokal atau komunitas internasional menjadi sama atau seragam itulah uniformitas. 

Akibat adanya uniformitas inilah mereka yang tidak sama atau menolak untuk menjadi sama menjadi teralienasi dan dianggap asing dari suatu kelompok.

Konsumerisme secara tidak langsung membuat pola yang kemudian akan mendorong kita pada uniformitas. Contohnya, penggunaan handphone di kalangan remaja kini sangat marak bahkan jika tidak menggunakan atau tak memiliki handphone dinilai rendah bahkan diabaikan oleh kawan di sekitarnya.

Melihat karakter generasi milenial yang serbakonsumtif dan kurang memiliki perencanaan keuangan yang baik dan berbagai dampak yang ditimbulkan dari sifat konsumtif tersebut, tentunya harus diberikan solusi, terutama melalui kemajuan teknologi. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bersama bagi semua pemangku kepentingan, baik pelaku industri keuangan maupun non-keuangan untuk menciptakan satu ekosistem yang dapat membantu generasi millenial untuk mengatur keuangannya.

Masyarakat sekarang, terkhusus generasi milenial, harus mulai bersikap positif dalam menujukan penerimaan terhadap arus yang sedang berlangsung ini. Mengembangkan sifat selektif hingga dapat mampu menilai pengaruh yang terjadi dan memilih pengaruh mana yang baik dan mana yang tidak baik bagi kita. Jangan terpaku pada keinginan untuk memiliki barang-barang konsumtif yang memaksa kita untuk bersifat boros dan membelajakan uang, dan berhematlah dalam membelanjakannya.


Artikel Terkait