Hidup hemat senantiasa menjadi semboyan yang sering kita dengar sejak dahulu kala saat masih anak-anak. Gaya hidup hemat adalah antara pemasukan dan pengeluaran harus mempunyai sisa. 

Menyisihkan sebagian penghasilan merupakan salah satu cara belajar budaya hidup hemat. Sikap boros yang sering dilakukan dapat menyebabkan beberapa akibat yang buruk diantaranya adalah sifat rakus, tamak, dan berlebihan. 

Budaya hidup hemat bukan berarti hidup yang serba kekurangan serta pelit. Hidup hemat merupakan gaya hidup yang tidak berlebihan dalam segala hal.

Dengan berhemat kita dapat memperoleh manfaat yang banyak baik sekarang maupun untuk masa depan. Uang atau penghasilan yang didapatkan harus dikelola dengan benar, jika tidak dikelola dengan baik maka uang akan habis dengan sia-sia belaka. 

Dengan berhemat kita dapat lebih berhati-hati dalam menggunakan uang serta akan saling memilih mana kebutuhan yang harus didahulukan. Manajemen keuangan harus dihemat agar kebutuhan yang bersifat penting dan lebih bermanfaat bisa didapatkan.

Salah satu aspek dalam mengelola keuangan adalah membedakan kebutuhan dan keinginan. Namun, tidak dapat dipungkiri hal ini sangatlah sulit karena kebanyakan orang sekarang sudah terjebak dalam gaya hidup hedonisme.

Hedonisme adalah gaya hidup yang berfokus mencari kesenangan dan kepuasan tanpa batas. Salah satu contoh gaya hidup hedonisme adalah perilaku berbelanja secara boros dengan membeli apa yang diinginkan. 

Orang dengan gaya hidup hedonisme memiliki sifat konsumtif. Mereka hanya berfokus pada kepuasan nafsu.

Ditambah lagi kini kemajuan teknologi berhasil memberikan warna baru dalam kehidupan. Namun yang perlu diperhatikan, ada dua sisi yang kerap terjadi akibat kemajuan teknologi. Hal yang positif dan juga negatif. 

Berbagai hal positif bisa dirasakan dengan kemudahan yang ditawarkan oleh kemajuan teknologi. Namun, sisi negatifnya, kemajuan teknologi dapat meningkatkan gaya hidup hedonisme hingga menyebabkan kecanduan. Khususnya dalam berbelanja online. 

Belanja online saat ini sudah menjadi kelaziman di tengah banyaknya toko online dan marketplace. Tidak seperti aktivitas berbelanja konvensional yang menuntut mobilitas secara fisik, berbelanja online memberikan sensasi tersendiri terkait kepraktisan dan kemudahan berbelanja.

Belum lagi dengan begitu banyak penawaran promo dari aplikasi e-commerce, membuat belanja online semakin menarik. Cara pembayarannya juga tersedia dalam berbagai pilihan. 

Apalagi sekarang sudah ada fitur Paylater di aplikasi Shopee. Dimana fitur ini memudahkan konsumen membayar atau mengangsur produk yang dibeli dengan rentan waktu satu sampai dua belas bulan.

Dengan semakin banyaknya situs e-commerce, pelelangan online, dan fasilitas kredit tanpa kartu membuat banyak orang semakin mudah mengeluarkan uang untuk berbelanja. Berbagai fasilitas dan kemudahan yang ditawarkan tersebut tidak masalah untuk digunakan, jika mereka paham dengan batas wajarnya. 

Hal yang menjadi masalah adalah ketika berbagai kemudahan tersebut membuat mereka melakukan belanja secara impulsif dan berlebihan sehingga tidak bisa membedakan mana kebutuhan dan keinginan. Bahkan mereka lebih mengedepankan keinginan mereka untuk berbelanja hal-hal atau barang-barang yang semestinya tidak mereka butuhkan.

Jika kebiasaan ini tetap dilakukan, maka tentu akan sangat mengganggu berbagai pengeluaran lain yang lebih penting.

Namun bagaimana cara mengatasi gaya hidup hedonisme? 

Pertama, kita harus mengubah mindset konsumtif menjadi produktif. Kita harus memiliki pola pikir memandang sesuatu berdasarkan produktivitasnya. Selain itu, kita juga harus membatasi diri dalam melakukan self-reward. 

Biasanya kebanyakan orang memuaskan diri mereka dengan cara berbelanja. Terlebih lagi yang mempunyai aplikasi berbelanja online. Rasa keinginanannya semakin bertambah. Jadi kita harus paham kapan waktunya self-reward, sehingga tidak melakukannya secara terus menerus.

Selain membatasi gaya hidup hedonisme, kita juga harus bisa melestarikan budaya hemat dan mengurangi kecanduan berbelanja online lewat suatu aplikasi. 

Bagaimana caranya? 

Pertama, kita harus bisa mengurangi mengunjungi aplikasi berbelanja online apapun. Hal ini merupakan salah satu cara yang sangat ampuh untuk melestarikan budaya hidup hemat. Dengan tidak atau mengurangi mengunjungi aplikasi berbelanja online, maka secara otomatis kita tidak akan mudah tergiur dengan barang bahkan diskon yang tertera. 

Cara yang selanjutnya agar kita tidak candu dengan belanja online adalah dengan menghapus aplikasi mobile banking. Keberadaan aplikasi ini memang memudahkan kita dalam urusan transaksi sehari-hari. Namun, disaat yang sama, kemudahan mengakses rekening membuat aktivitas berbelanja juga semakin gampang tanpa hambatan. 

Supaya hasrat berbelanja online bisa sedikit berkurang, salah satu cara yang mudah adalah mempersulit akses terhadap rekening kita sendiri. Jadi, setiap kali hendak bertransaksi, kita harus memaksa diri untuk pergi ke ATM sehingga memberi kita waktu untuk berpikir ulang apakah belanja online tersebut benar-benar perlu diselesaikan transaksinya atau tidak.

Selain menghapus aplikasi mobile banking, bagi yang memiliki kartu kredit di aplikasi belanja online, maka bisa menghapus data kartu kredit tersebut bila memungkinkan. 

Seperti yang kita ketahui, sekarang semua aplikasi belanja menyediakan berbagai pilihan cara pembayaran. Mulai dari transfer manual, pembayaran lewat minimarket, aplikasi kartu kredit, sampai cicilan non-kartu kredit. Dengan alasan kepraktisan belanja, banyak orang yang tidak segan menyimpan data kartu kredit mereka di aplikasi berbelanja. 

Hal ini menjadi bumerang bagi diri sendiri bila tidak bisa mengerem hasrat untuk berbelanja. Maka budaya hidup hemat dalam diri kita akan semakin menurun sehingga bisa merugikan diri kita sendiri baik di masa sekarang maupun masa depan. 

Jadi, mulai dari sekarang, belajarlah melestarikan budaya hemat dan jangan membiasakan melakukan gaya hidup hedonisme. Dan jangan sampai pula sebuah aplikasi menyebabkan budaya hemat menurun.