“Aakhh….!!” Reflek saya teriak dan menarik rem motor. Seketika bunyi klakson mobil dan motor pun gaduh. Mobil dan motor di depan dan belakang saya pun rupanya sama, ngerem mendadak dan kaget sehingga spontan membunyikan klakson. Beberapa di antara mereka, sekilas saya perhatikan memaki. Tapi tidak jelas makiannya ditujukan kepada siapa.

Pergumulan kendaraan yang menimbulkan kemacetan mendadak dan sesaat itu terjadi beberapa hari yang lalu di puncak flying over Jl. Ibrahim Ajie, Bandung. Biang kerok inseden ini baru terjawab setelah kendaraan di depan saya perlahan mulai bergerak maju kembali.

Selang dua motor di depan saya, tampak sebuah motor matic hitam sudah berada di bahu jalan flying over. Untuk memenuhi  kepoan saya, sengaja saya memperlambat kembali laju motor ketika hampir melintas di samping motor metic hitam tersebut. Tampak dari helmet yang kacanya tersingkap ke atas, pengendaranya seorang bapak setengah baya, berjaket warna hijau dengan logo dari salah satu ojek online.

Kenapa si bapak menepi? Apakah dia kesakitan? Atau urgensi lainnya?? Tidak!! Si bapak tampak baik-baik saja, dan sangat terlihat santai!!! Ketika saya melintas pelan di sampingnya, si bapak tampak membuka resleting saku jaket dan mengeluarkan handphonenya. Tepok jidat saya!

Dalam pikiran saya, pasti dia bermaksud mengambil orderan yang masuk, atau ada customer chat di massage. Mungkin malah telephon dari customer.  Bisa jadi, karena bagi para ojek online pergerakan di handphone sekecil apapun artinya uang. Saya berusaha memaklumi kejadian tadi. Tapi tiba-tiba di kepala terlintas kembali, saat terkejut melihat di depan saya kendaraan berhenti mendadak dan membunyikan klakson panjang hampir bersamaan. Andai ada salah satu orang lengah, terlambat menarik atau menginjak rem, dapat dipastikan, tabrakan berantai tidak terhindarkan.

***

Niat hati di Ramadhan tahun ini belajar untuk berempati dan mengelola hati untuk dapat lebih slowly dalam menghadapi dan menyikapi sesuatu. Tidak mudah panik dan emosi. Betewe apa yang melandasi niat sunyi tersebut? Supaya tidak cepat tua, seperti kata pepatah? Hahaha… bukan! Tua sih takdir siklus hidup manusia, jadi bukan pilihan. Saya hanya ingin menjalani hari-hari dengan lebih tenang dan nyaman saja. 

Saya berpikir dengan empati dan ketenangan yang dimulai dari diri sendiri, dapat membawa kenyamanan untuk orang lain dan sekitar kita. Lebih jauhnya, berharap menjadi sebuah ibadah kecil yang tak hanya Insyaalloh untuk rohani saja, tapi juga untuk kesehatan jasmani.

Tapi mengingat kejadian di flying over beberapa hari lalu itu, haruskah saya berempati? Memahami dengan mencoba mengerti atas tindakan yang diambil si bapak pengendara motor berjaket hijau itu? Mengelola hati untuk tidak merasa kesal dengan mencoba menempatkan diri sebagai si bapak pengendara motor metic tersebut??

Setelah membolak balikan pertanyaan itu pada diri sendiri, alih-alih rela berempati, malah koq muncul lagi perasaan kesal. Bayangan kecelakaan berantai andai kata waktu itu terjadi, menyulut emosi saya. Hanya karena kelakuan tidak displin si bapak pengendara motor tersebut, lebih dari satu orang akan menderita kerugian. Kerugian karena badan terluka, kerugian karena kendaraan rusak dan kerugian karena urusan jadi terhambat.

Eh, si bapak itu ojol lho, sedang bekerja mencari rejeki untuk menafkahi keluarganya. Terselip lagi kata hati untuk tetap berusaha berempati. Bekerja itu memang ibadah, tapi tidak harus sampai menyebabkan orang lain merugi juga  bukan! Hati kecil saya tetap menolak untuk berempati.

Ternyata belajar berempati itu bukan kelas yang mudah. Untuk sedikit membuatnya lebih mudah, saya mencoba bertoleransi pada diri sendiri dengan mempersempit objek. Bukan kepada siapa harus berempati, tapi kepada kejadian apa saya berempati.

Peristiwa di flying over itu terjadi karena ketidak disiplinan dari salah satu pengendara kendaraan bermotor. Jadi rasanya bukan suatu kegagalan dari kelas belajar empati saya. Semua orang pun mungkin berpendapat sama, kejadian tersebut tidak pantas mendapat empati.

***

Merujuk kepada salah satu sumber di internet, disiplin adalah suatu sikap menghormati, menghargai, patuh dan taat terhadap peraturan-peraturan yang berlaku, baik yang tertulis maupun tidak tertulis. Tujuan dari disiplin antara lain mengembangkan pengendalian diri, membuang kebiasaan buruk dan menciptakan keteraturan. Dari pengertian dan tujuan disiplin, ada suatu benang merah dengan empati. Ya, keduanya dimaksudkan untuk menyatakan bahwa di dunia ini hidup tidak hanya sendirian, ada orang lain yang sama-sama sebagai ciptaan Allah SWT. Dimana sebagai ciptaanNya wajib saling menjaga rasa, saling menghormati dan saling mempermudah urusan.

Sekali lagi, benar jika si bapak ojol tersebut sedang bekerja demi menafkahi keluarganya, dan ini salah satu bentuk dari ibadah. Tapi apakah akan tetap menjadi ibadah jika karena  kebocoran  disiplinnya  menyebabkan banyak orang emosi dan terhambat urusannya hingga mengalami kerugian moril dan materil?  

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran, supaya mentaati kesabaran.” (QS. Al-Ashr)

Demikianlah, surat di atas sangat menjelaskan, bekerja seperti apa dan bertindak serta berprilaku bagaimana yang akan menjadi ibadah kita kepada Allah SWT.

Mentaati kebenaran adalah keterkaitan dengan disiplin. Seluruh ibadah yang diwajibkan dalam Islam mengharuskan dilakukan dengan disiplin, disiplin karena ada keterbatasan waktu dan syarat. Sehingga apabila abai terhadap kedisiplinannya, ibadah akan menjadi tidak benar dan tidak sah.

Mentaati kesabaran merupakan implementasi dari berempati. Dimana tata kehidupan antara manusia dengan manusia lainnya, ketimbalbalikan diantara mereka, merupakan hakekat dari manusia sebagai makhluk sosial yang telah dikonsepkan dalam Islam sebagai Hablumminanas.

Jadi disiplin dan berempati merupakan hidup yang islami. Akan menjadi suatu ibadah jika hal ini dilakukan dalam tindakan nyata disegala aspek kehidupan. Hidup menjadi lebih aman, karena segala sesuatunya berjalan sesuai aturan tanpa dilanggar. Menjadi lebih nyaman karena saling  mempermudah urusan dan saling menimbang rasa.