Para pendahulu yang berjuang pada masa kolonialisme, pada mulanya berjuang di medang perang dengan bambu runcing dan saling membunuh, tapi kemudian berubah dengan cara berjuang yang jauh lebih terpelajar dan terhormat dengan pikiran dan politik yang tersusun rapi. Kaum terpelajar mengekspresikan suara hati melalui tulisan dan karya. 

Mengadakan kongres yang damai dan membuahkan hasil signifian seperti sumpah pemuda. Hal demikian merupakan masa kebangkitan nasional. Kebangkitan masyarakat dari keterpurukan ilmu. Budaya berpikir demikianlah yang harus dimiliki dan dikembangkan mahasiswa zaman sekarang. Mahasiswa adalah agent of change. Dimana perubahan yang dibawa dan proses yang dituju untuk sebuah perubahan itu adalah serangkaian aktivitas yang terpelajara. Proses yang baik akan membuahkan hasil yang baik pula. 

Suatu perubahan akan menemui titik temu ketika proses yang dilalui mencapai titik akhir. Namun ketika proses yang tengah dijalani masih terasa jauh, tidak ada tindakan lain selain berteriak – teriak, membakar ban, merusak pot bunga, melempar telur busuk hingga membakar foto. Melampiaskan amarah sesaat yang pada akhirnya akan berdampak bukan hanya pada lingkungan sekitar melainkan kepada diri mereka. Hal inilah yang dilakukan puluhan mahasiswa ketika melakukan unjuk rasa. Jika kendala masih bisa diselesaikan secara internal melalui mediasi, tidak dengan melibatkan emosional yang berujung perusakan.

Demonstrasi adalah hak seluruh warga Negara, hak untuk mengemukakan pendapat di depan umum. Mengemukakan pendapat bukan berarti merusak kepentingan umum. Dalam praktiknya, demonstrasi yang dipertontonkan mahasiswa seringkali tidak sejalan dengan jati diri mahasiswa, sering terjadinya aksi bakar bakaran, jegal musul politik, mempublikasikan keburukan orang lain, dan tak jarang pula terjadinya kekerasan yang merugikan berbagai macam pihak. Hal – hal tersebut apakah akan menghasilkan suatu hasil yang baik? Apakah akan menghasilkan suatu keputusan yang adil untuk berbagai macam pihak? Rasanya jawabannya adalah mutlak tidak.

Menekni bidang akademik merupakan salah satu keterampilan dan jati diri mahasiswa sesungguhnya sebagai calon pemimpin masa depan yang intelek. Keterampilan yang harus ditekuni ialah sesuai dengan kemampuan di bidang masing – masing mahasiswa. Memperoleh dan melakukan suatu perubahan merupakan modal awal dalam membangun tatanan pemerintahan. 

Pola pikir dan sikap mahasiswa haruslah menjadi contoh dan teladan di mata masyarakat, terutama mahasiswa yang berada dalam jalur kependidikan. Konstelasi pergerakan mahasiswa sepanjang sejarah telah melukiskan warnanya sendiri. Penjara, darah, peluh dan nyawa sekalipun menjadi taruhannya. Walaupun demikian, demonstrasi terus bergulir entah sampai kapan.

Budaya demonstrasi tetap lah suatu alat bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya. Tetapi demonstrasi hendaknya ditempatkan pada prioritas terakhir dalam usaha penyampaian aspirasi dan kritik tersebut kepada pemerintah. Sebelum demonstrasi dilakukan kritik dapat dilakukan melalui Tulisan dan media lain. Jika itu tidak diperhatikan, maka silakan berdemo dengan sehat dan tertib. 

Apabila pemerintah sudah kebal dan tuli terhadap kritik maka bedemolah dengan keras dan teriakkan revolusi serperti yang dilakukan pendahulu terhadap negeri ini. Anarkisme, tawuran, dan segala jenis kekerasan lainnya jelas sama sekali tidak lekat dengan nilai – nilai luhur yang tersemat pada mahasiswa sebagai agen perubahan. Saat ini yang ditonjolkan mahasiswa dalam demonstrasinya lebih kepada tindakan anarrkisme daripada tawaran solutif yang diajukan atas sebuah ketidakadilan. Mahasiswa harus dapat bersikap cerdas dan tidak bersikap amoral apapun situasinya sebagai agent of change dari masyarakat dan Negara.