Selama menemani masa-masa belajar anak saya di rumah, saya dan isteri saya benar-benar sangat terbantu dengan program kartu check list yang diberikan oleh pihak sekolah. Kartu check list yang diberikan kepada orang tua atau wali ini merupakan kartu kendali supaya si anak didik mau menuruti permintaan orang tua selama belajar di rumah.

Saya merasa heran, kenapa anak saya bisa begitu senang dan antusias ketika mendapatkan check list dari kami? Bahkan kegirangannya melampaui rasa senangnya saat mendapatkan uang lebaran begitu tanda check list kami bubuhkan pada lembar kartunya.

Sehabis shalat subuh, anak saya yang masih duduk di bangku TK ini sangat mudah untuk diarahkan untuk belajar mengaji, mandi sendiri, sarapan tanpa disuapi, dan ketagihan mengerjakan tugas-tugas dari sekolah. Tujuan ia melakukan semua ini tidak lain adalah supaya mendapatkan check list dari kami.

Dari beberapa manfaat sistem check list yang telah diterapkan ini sebenarnya ada perihal yang membuat saya khawatir, yakni lahirnya sifat pamrih pada anak yang ingin setiap aktivitasnya diberi penilaian oleh orang lain. 

Saya begitu khawatir jika hal ini akan terus berlanjut dan menjadi sebuah kebiasaan pada saat dewasa. Ia selalu ingin dinilai baik oleh orang lain, dipuja puji oleh orang lain, harus ada yang melihat setiap kegiatannya, dan wajib mendapatkan respon yang baik dari orang sekitarnya. 

Jika memang demikian, saya sebagai orang tua benar-benar akan menjadi orang yang senantiasa bersalah karena telah mengenalkan budaya check list ini kepada anak saya.

Kekhawatiran saya berikutnya adalah jika ternyata suatu saat ada pihak yang memanfaatkan check list ini demi meraih tujuan mereka. Mereka akan mengiming-imingi siapa saja yang punya potensi dan punya kehausan akan check list ini supaya berada dalam kendali mereka. 

Walhasil, mereka yang punya kepentingan akan berjaya dengan sistem check list itu, sementara mereka yang telah dikendalikan akan semakin mabuk dan terjerat dalam sistem check list yang mereka buat.

Saya tidak mengatakan budaya check list ini semuanya buruk, setelah melihat banyaknya manfaat yang saya peroleh dalam mendidik anak saya melalui sistem ini. Namun, bukan berarti juga menyimpulkan bahwa sistem ini tanpa celah untuk mengedukasi sang anak. 

Sebab, di samping kebaikannya yang dapat menjadikan anak menjadi penurut, ada sisi lain yang harus diperhatikan yakni harus memberikan pemahaman pada diri saya pribadi maupun anak saya bahwa apa yang kita lakukan tidak harus melulu mendapatkan tanda dari orang lain, dalam bentuk apa pun itu. Entah itu uang, jabatan, sanjungan, bahkan sekadar ucapan terima kasih pun, jangan.

Bukannya saya sok tulus ikhlas, tetapi ini sebagai langkah antasipasi jika seandainya tidak memperoleh itu semua, kita tidak akan mengalami kekecewaan dan sakit hati. Sebab dari awal kita memang tidak merencanakan dan mengharapkan itu semua. Fokus kita adalah mengupayakan karya terbaik yang mampu kita persembahkan, yang terlepas dari penghambaan pada check list manusia.

Saya akhirnya memiliki formula khusus untuk meluruskan paham check list ini dengan mengorientasikannya pada hasil akhir perbuatan. Pada apakah sebenarnya check list itu akan ditujukan? Apakah supaya diakui oleh orang lain, dipuja puji orang lain, mendapatkan balasan berupa materi. 

Ataukah telah ada kesadaran pada diri kita untuk mengesampingkan tujuan-tujuan semu itu, dengan mengharapkan penilaian semata-mata dari Sang Maha Pemberi check list. Sebab itulah kesejatian tujuan yang menentukan baik buruknya manusia yang telah mendapatkan rahmat-Nya atau akan mendapat laknat dari-Nya.

Berangkat dari pemahaman ini, saya akhirnya menjadi tersadar mana check list yang semu dan mana check list yang asli. Mana check list yang original dan mana yang check list check list-an. Mana yang harus diburu dan mana yang dapat diabaikan.

Sekali lagi saya tidak menyimpulkan dengan serta merta bahwa program check list yang telah dibuat oleh instansi pendidikan, perusahaan atau instansi apa saja itu buruk. Mengingat pada umumnya tanda itu memang sangat mudah digunakan sebagai indikator ketercapaian tugas dan program-program yang telah disusun. 

Namun melalui tulisan ini saya hendak mengingatkan saya pribadi yang barangkali juga akan dibaca dan dipahami oleh siapa saja bahwa jika hanya check list semu itu saja yang diburu, maka apakah tidak rugi keadaan kita kelak di hadapan Tuhan? Itu pun jika masih memercayai keberadaan-Nya.

Pada saat ini banyak orang yang mengaku memercayai Tuhan, namun hanya sebatas di lisan. Ia hanya dijadikan retorika untuk menarik simpati sesama. Padahal sejatinya mereka hanyalah menuhankan jabatan, sanjungan, materialisme dunia, dan beraneka check list kehidupan.

Saya benar-benar tidak tahu siapakah sebenarnya yang memulai kesalahan ini? Setan-kah? Manusia? Atau Tuhan? Apakah Tuhan yang bersalah? Ataukah manusia yang terlalu bodoh sehingga memandang Ia yang bersalah?

Jika memang kesalahan ini bersumber dari setan, apakah gara-gara ia telah mengenalkan pada Nabi Adam tentang check list filosofi kehidupan yang harus identik dengan kebahagiaan dan keabadian di surga sehingga ia terperosok dalam derita sesal di alam dunia? 

Atau jangan-jangan kesalahan ini karena kebodohan setan saja yang gagal paham atas pesan Tuhan bahwa sebenarnya Ia telah menentukan check list bahwa manusia pasti akan berada di dunia yang skenarionya adalah seolah-olah melalui tipu dayanya. Jika memang demikian siapa sebenarnya yang bodoh? Siapa yang malah tertipu? Manusia atau setan? Siapakah yang lebih pandai bersiasat?

Di alam dunia, setan sekali lagi membodohi manusia dengan check list gambaran kebahagiaan berupa harta, status sosial, prestasi, perhiasan-perhiasan, yang harus dipenuhi dan diisi tandanya oleh manusia, supaya mereka masuk  dalam kategori orang-orang yang bahagia. 

Sekali lagi, itu adalah check list ciptaannya yang dipromosikan kepada manusia. Dan manusia sebagai pelanggan sekaligus pengguna check list, berhak menentukan pilihan mana yang terbaik untuk mereka sendiri.

Di antara gelintiran orang, kita bersyukur masih ada orang yang sama sekali tidak terpikat oleh strategi pemasaran check list setan. Ia mampu mengalihkan pandangannya dan lebih memilih check list Tuhan. Meski konsekuensinya, dalam pandangan manusia, mereka akan tampil dan tampak sebagai makhluk rendahan tanpa perhiasan apalagi jabatan. 

Bagi mereka, itu semua tidaklah mengapa. Sebab memang bukan jenis check list itu yang mereka idamkan. Mereka adalah orang yang sadar dan paham akan kesia-siaan memperjuangkan pseudo check list yang sama sekali jauh dari misi mereka untuk mengejar kebahagiaan hakiki dengan memenuhi check list-check list dari Tuhan. Bukankah seharusnya demikian?