Mahasiswa
2 minggu lalu · 91 view · 4 min baca · Budaya 84666_86981.jpg
banggood.com

Budaya, Bahasa, Kertas, dan Dominasi Manusia

Pertanyaan tentang manusia dan asal-usulnya mungkin tidak akan pernah habis. Darimana asalnya, bagaimana masa depannya, hingga bagaimana seniman primitif yang menggunakan tembok gua sebagai wadah untuk menunjukkan eksistensinya ribuan tahun silam mampu mendominasi dunia masa kini. 

Semuanya merupakan tugas sekaligus hiburan bagi mereka yang haus akan ilmu. 

Terlebih lagi jika membandingkan manusia dengan mahluk lain di bumi. Manusia bahkan tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk berhadapan dengan gajah. Namun hewan itu kini menjadi tontonan bagi manusia di kebun binatang. 

Bagaimana kalau kertas kujadikan salah satu pemeran di baliknya?

Sebelumnya mari kita tengok salah satu primata yang konon paling cerdas di antara primata lain. Kawanan simpanse hidup dengan kelompok-kelompok, berisikan puluhan individu, dan satu pejantan yang dengan kuasanya berusaha menjaga keteraturan dalam kelompok mereka. 

Ketika kelompok mereka makin besar, cenderung akan terjadi perpecahan dan melahirkan kelompok baru. Kelompok-kelompok simpanse jarang bekerja sama. Mereka cenderung bersaing dalam hal makanan dan wilayah. Para peneliti telah mendokumentasikan adanya perang antarkelompok, bahkan genosida oleh kelompok yang lebih besar terhadap yang kecil. 

Manusia memiliki sejarah yang hampir sama dengan konflik antarkelompok simpanse. Namun hanya butuh waktu hingga manusia mampu hidup berdampingan dengan kerja sama yang berkepanjangan. Bahasa yang kompleks, memori yang cukup untuk mengingat dan kemampuan untuk menafsirkan apa yang dilihat membuatnya mampu melampaui otot dan kelincahan simpanse.

Lalu di manakah letak kertas, bahasa, dan budaya dalam penaklukan manusia atas rantai makanan hingga menjelajahi luar angkasa?


Semua mahluk hidup di bumi, terkecuali manusia, secara biologis memiliki spesialisasi terhadap lingkungannya. Nalurinya pun cocok dengan rangsangan lingkungan luarnya. Berbeda dengan manusia yang terlahir prematur jika dibandingkan dengan hewan lain. 

Lingkungan lahiriahnya tidak dapat diterima begitu saja. Terjadi mediasi antara naluri dan lingkungannya melalui rasio atau kesadarannya. Mediasi antara naluri manusia dan lingkungannya akan menghasilkan budaya sebagai usaha tak kunjung usai untuk melengkapi keganjilan manusia dan lingkungannya.

Budaya menghasilkan perkakas sebagai perpanjangan tangannya untuk berbaur dengan alam. Jika manusia berhadapan dengan harimau dengan tangan hampa, harimau akan dengan mudah mencabik-cabik manusia. Tapi manusia dengan senjatanya mampu menghabisi harimau tanpa menyentuhnya sekalipun. 

Budaya sebagai alam artifisial manusia, dengan perkakasnya, menjadi perantara antara manusia dan alam lahiriahnya. Sebagai hasil dari usaha manusia untuk mencocokkan dirinya dengan lingkungannya, juga menciptakan lingkungan yang cocok dengan dirinya. 

Selain lingkungan lahiriah, manusia berhadapan pula dengan sesamanya. Jika primata berkomunikasi melalui lengkingan dan bahasa tubuhnya untuk memberi tahu apa yang dilihatnya. Manusia mampu mengubah lengkingan-lengkingan itu menjadi lebih berpola, dengan bahasa tubuh yang beragam hingga ekspresi wajah yang menjelaskan banyak makna terhadap sesamanya. 

Bahasa yang kompleks memungkinkan manusia untuk berkomunikasi dengan luwes. Bukan hanya peringatan, dia mampu menceritakan kisah dewa-dewi dan hal-hal mistis yang mengelilinginya. 

Melalui bahasa pula, manusia mampu menyelesaikan konflik antarindividu atau kelompok, hingga bekerja sama dengan lebih baik bersama individu atau kelompok lainnya yang berbeda ras sekalipun. 

Bahasa adalah sarana utama untuk menegakkan budaya, memungkinkan manusia membagikan pengetahuannya mengenai budaya itu terhadap sesama. 

Adanya bahasa juga menghasilkan pertukaran budaya dan pengetahuan. Menghasilkan ide baru yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Bahasa memungkinkan manusia hidup berdampingan bekerja sama dalam jumlah yang besar untuk menaklukan dunianya. 

Bahasa yang disampaikan secara lisan tentunya tidak akan selamanya bertahan. Ingatan manusia juga terbatas untuk mengingat segala detail dari kejadian dan pengetahuan yang dimilikinya. 

Mulai dari meninggalkan simbol dan ukiran di dinding gua, hingga prasasti untuk mengenang dan menyimpan ingatan mereka. Ingatan yang berharga perlu dilestarikan melalui perantara lainnya. 


Seni pun lahir sebagai bahasa yang mampu menerobos ruang dan waktu. Bahasa universal hasil dari eksternalisasi manusia yang bersedia untuk internalisasikan kembali oleh manusia lainnya. Bahasa yang mampu menyatukan manusia yang berbeda zaman sekalipun.

Ingatan yang diukir di gua berkembang menjadi ukiran di batu hingga menjadi patung. Ingatan lainnya yang terukir di batu kemudian tertulis di medium yang mampu dibawa ke mana-kemana untuk disebarluaskan pula. 

Kulit hewan, kulit kayu, bambu menjadi pilihan untuk mengalihkan ingatan itu ke dalam simbol tertulis. Kebudayaan yang kian maju menghasilkan kain sutra yang langka sebagai medium lainnya.

Penemuan terbesar yang akan menemani usaha manusia mendominasi dunia pertama kali berawal di era mesir kuno. Kertas pertama berasal dari serat tanaman Papyrus yang diolah menjadi media untuk menggantikan tembok dan kulit kayu atau hewan. 

Redup sebentar karena bahannya yang langka. Kertas kembali hadir di Cina pada masa Dinasti Han (202-220 SM). Budaya baca-tulis lahir seiring dengan pemikiran-pemikiran baru yang hadir mewarnai dunia artifisial manusia. Membuat manusia dan budayanya selangkah lebih maju dari makhluk lainnya di muka bumi.

Sementara kelompok-kelompok simpanse masih berperang demi memperebutkan wilayah dan makanan. Manusia mampu menciptakan perjanjian yang menghentikan konflik, hingga menyatukan kelompok yang berbeda diatas kertas. 

Pengetahuan dan kejadian masa lampau yang disampaikan ke generasi selanjutnya menjadi pelajaran untuk menjadi lebih baik lagi. Dan kertas memiliki peran yang besar di situ.

Hubungan timbal balik antarmanusia dan lingkungannya melalui bahasa menghasilkan budaya. Budaya menghasilkan perkakas yang terus berkembang sebagai perpanjangan tangan manusia untuk berbaur dengan alam. Selanjutnya, kertas membantu manusia untuk menyampaikan pengetahuan itu menembus ruang dan waktu. 

Karya sastra menjadi alat utama untuk mempelajari manusia masa lampau. Dan kertas mengantarkannya ke masa depan. Mengantarkan ingatan masa lalu yang menjadi fondasi bagi peradaban manusia hingga teknologi mulai menggantikan perannya perlahan. 

Walaupun Internet telah hadir melampaui penggunaan kertas. Tanpa kertas yang menjadi media yang tak pandang waktu, teknologi masa kini akan sulit bahkan mustahil untuk ditemukan. 

Demikian bagaimana pertautan antara budaya, bahasa, dan kertas yang membantu manusia mendominasi dunia. Sejak awal di mana manusia berada pada pertengahan rantai makanan, hingga dia mampu menginjakkan kaki di bulan. Pertautan antara ketiga-tiganya memberi kontribusi yang besar bagi peradaban manusia hingga kini. 

Artikel Terkait