Jakarta, Arisan adalah sebagai momentun pengikat tali silatuhrahmi untuk bertemu dengan hubungan saudara atau keluarga kampung baik dalam satu Provinsi, Kabupaten, Kecamatan, dan Desa. Atau hubungan satu Negara bahkan satu Agama, dan lain sebagainya.

Dalam kesempatan kali ini, saya bersama anak rantau "Silatuhrahmi Sedusun Muratara" dengan singkatan "SSM" melaksanakan pertemuan dengan kegiatan Arisan dan makan bersama, Minggu (20/6/2021). Di tempat salah satu saudara sedusun "Mahmud dan Masito" sebagai pemenang arisan.
***
Konsep yang dibangun adalah untuk pemenang arisan diberikan kebebasan untuk mencari tempat "bertemu atau berkumpul" tempat indoor (bisa dilaksanakan di rumah pemenang arisan) sedangkan tempat outdoor (bisa mencari tempat wisata kecil-kecilan yang bisa bertemu secara bersama-sama) dengan anak rantau "Musi Rawas Utara".

Dari kegiatan pertemuan arisan tersebut, melihat dari kasus lonjakan Covid-19. Bila Covid-19 makin meningkat maka pertemuan arisan dilaksanakan di rumah dengan sistem tidak semua peserta arisan yang datang, serta tetap mengikuti protokol kesehatan "menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak".
***
Hal ini menjadi pertimbangan dan keputusan oleh ketua group SSM "Hj. Juarsyah dan Helmi" jika tidak memungkin arisan tetap jalan namun untuk bertemu akan dibatasi secara bersama-sama dengan anak rantau Muratara yang berada disekitar "Jabodetabek" ungkap ketua berkali-kali selama pandemi Covid-19.

Kebetulan budaya arisan anak rantau Muratara dilakasanakan dua bulan sekali, dengan "membangun dan menciptakan dalam  kebersamaan dan kekompakan" dari kegiatan ini membawa makanan dan minuman dari rumah masing-masing. Kemudian dilakukan makan bersama dengan bertukaran lauk-pauk dari masing-masing peserta arisan atau anak rantau Muratara tersebut.  
***
Bahasa kampung atau bahasa daerah kami Musi Rawas Utara adalah "Bakela" yang artinya membawa makan masing-masing dari rumah, lalu dimakan juga bersama-sama sembari "canda tawa dengan obrolan bahasa kampung". Ini lah yang menjadi nilai budaya untuk terus bersatu dalam membangun tanah kelahiran tercinta.

Selain dua bulan sekali acara arisan dan pertemuan ini dilaksanakan satu tahun sekali ditempat "outdoor" atau tempat wisata yang bisa menginap dan membawa keluarga masing-masing. Pemilihan tempat menjadi keputusan bersama seperti di area Puncak, Sukabumi, Bandung, dan wilayah lainnya. 

Mungkin berbeda dengan anak rantau lainnya, terutama dalam mengadakan pertemuan atau membangun persatuan antar daerah baik Kabupaten maupun Provinsi tertentu. Artinya tidak melakukan budaya arisan tapi bisa lebih kompak dan menjalin kebersamaan satu sama lain.

Berdasarkan data dari laman "statistik.jakarta.go.id penduduk pendatang dan bermukim di DKI Jakarta Maret 2020 (6/4/2020). Tercatat sebanyak 7.421.000 orang". Sedangkan menurut data Badan "Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta dengan jumlah penduduk sebanyak 10.562. 088 orang ".
***
Analisa data diatas bahwa pendatang yang bermukim ke Ibukota DKI Jakarta sekitar 70 % dari jumlah penduduk 10 juta orang lebih. Artinyan sekitar 3 Juta orang hanya pribumi asli DKI Jakarta sedangkan 7 jutaan orang adalah orang pendatang atau yang dimaksud anak rantau diatas.

Sebagai pendatang atau penduduk berimigrasi ke Kota DKI Jakarta. Selain sebagai Ibu Kota Republik Indonesia, sebagai "pusat ekonomi bisnis" di Indonesia. Penduduk luar DKI Jakarta berbondong-bondong untuk mengaduh nasib dan mencari peruntungan kehidupannya.

Itulah tujuan perantau datang ke Ibukota untuk mengadu nasib yang penuh suka dan duka. Keberhasilan anak rantau terkadang menjadi perjalanan hidup yang sangat panjang, tentunya dalam hal mencari pekerjaan tetap untuk menafkahi kekuarga, kebutuhan hidup dan masa depan yang lebih cemerlang. 

Dalam kegiatan arisan dan pertemuan "Sedusun Musi Rawas Utara" diatas masing-masing mempunyai profesi yang berbeda-beda seperti ada yang bekerja sebagai guru, PNS, dosen, wirausaha, pembisnis, karyawan swasta dan lain sebagainya. Intinya profesi tidak menjadi persoalan dalam pertemuan tersebut, walaupun ada saja yang "minder atau menjaga jarak" itu sih pasti ada tergantung perasaan individu masing-masing.

Keutuhan dalam mengadakan arisan dan pertemuan agar tetap menjadi keluarga dengan perasaan dan hubungan emosi yang terjalin. Karena hal ini seakan-akan  kami semua berada di kampung dan berkumpul bersama keluarga, dengan menikmati makan bersama dan bahasa ciri khas palembang. Sehingga satu sama lain tetap menjaga sikap dan perilaku dalam kesempatan bertemu dalam situasi dan kondisi apapun.
***
Sikap dan perilaku lebih di kenal bagaimana menempatkan diri dengan tata krama, sopan dan santun, yang muda menghormati yang tua bahkan sebaliknya. Dan yang paling penting tidak membuat sahabat atau keluarga satu kampung tersinggung, bisa saja dengan perbuatan dan tindakan kita yang berlebihan, ucapan kita yang tidak membangun dan tidak mendidik lainnya.

Walaupun terkadang itu semua, sembari canda dan gurauan semata namun tetap asyik dan kompak sepanjang pertemuan berlangsung. Secara usia sih, memang banyak yang tidak seumuran artinya ada yang sudah lanjut usia dan masih banyak juga yang muda sekitar umur 30 tahun ke atas. Salam anak rantau Muratata "Musi Rawas Utara" (SSM).