2 tahun lalu · 236 view · 4 menit baca · Lainnya child-330394_960_720.jpg
Foto: pixabay.com

Budak Jalanan dan Omong Kosong Bangsa

Tak bisa dipungkiri, urusan jalanan selalu saja menuai jalan buntu. Ada yang berusaha membantu, ada juga yang tidak peduli. Yang membantu mencoba dengan sekuat kaki dan tangan melalui bantuan kemanusian, dan yang tidak peduli entahlah apa yang mereka kerjakan.

Begitulah urusan jalanan. Banyak kejadian di sana. Ada laki-laki dan perempuan, bahkan dewasa terkadang tidak ketinggalan. Mereka inilah budak jalanan. Budak yang dari kecil sudah tidak beruntung nasibnya. Tentang mereka, sebenarnya ini membuat hati merinding. Jangan dikira budak jalanan ini urusannya hanya makan dan perut. Tolong jangan dikira.

Lihatlah mereka, banyak di antara mereka korban pemerkosaan, korban kekerasan, dan korban dari hukum yang pincang. Kalau ada yang berhak disalahkan, maka pihak keluarga adalah kambing hitam yang paling utama. Betapa tidak, banyak dari keluarga yang cacat moral dan ekonomi menjadikan anak mereka sendiri sebagai budak jalanan.

Jadi, jangan terlalu heran dengan banyaknya PSK (Pekerja Seks Komersial) di kota-kota besar. Itu sudah lumrah dan lagi-lagi keluarga penyebab utamanya. Anak perempuan kalau sudah di jalanan, kecil kemungkinan budi dan bahasanya selamat. Malahan yang banyak dijalanan adalah korban pemerkosaan dari ayahnya sendiri. Atau paling tidak hasil dari hubungan gelap ayah dan ibunya, sehingga kehadiran anak ditolak secara psikis.

Inilah asal mula menjadikan mereka terjun ke jalanan. Jalanan itu kejam, tak pandang bulu. Tua muda sama saja, yang berhasil makan dialah yang berhasil selamat. Korban pemerkosaan mungkin saja awalnya mencoba mencari makan via asongan atau mengamen, tapi lama kelamaan sudah tentu tidak tahan pula. Akhirnya miriplah seperti pepatah lama “Kepalang basah, mandi sekalian.” Kepalang sudah korban perkosaan, jadi PSK sekalian. Kira-kira begitu.

Soal PSK ini sebenarnya kalau diusut asal muasalnya sungguh sangat tragis. Rata-rata orang menjadi PSK karena pernah menjadi korban salah gaul. Bila dilihat pada budak jalanan, terutama anak perempuan, banyak di antara mereka ditipu oleh kawannya sendiri.

Awalnya hanya mengamen atau asongan, lalu dibujuk dan dirayu untuk ditiduri, kemudian habis manis, sepah dibuang. Hilanglah kehormatan dan keperawanannya. Jadilah ia perempuan yang hina dalam pandangan umum.

Begitulah ganasnya jalanan. Membuat anak-anak menjadi budak. Sialnya masyarakat sudah terlanjur menilai. Menilai dengan perasaan jijik dan busuk terhadap mereka. Apalagi mengenai korban pemerkosaan. Padahal anak perempuan itu tidak tahu menahu, dia hanyalah korban. Sudah sakit fisiknya, sakit pula psikisnya. Entahlah masyarakat apa yang hidup di sini. Banyak keluarga yang juga tidak peduli dengan perkembangan anaknya.

Ada pula yang lebih miris. Keluarga yang suka kawin-cerai. Anaknya dibuang ke jalananan. Dijadikan budak, dijadikan korban seksual, dan dijadikan peminta-minta. Entahlah, mungkin keluarga ini mengambil enaknya saja. Sudah ijab nikah, malam pertama, dan kemudian cerai dengan alasan tidak bahagia.

Beginilah garis hidup budak jalananan. Tidak punya apa-apa. Keluarga sudah habis dan retak karena cerai, kehormatan sudah hilang diburu orang. Ujung-ujungnya, yang tersisa hanyalah urusan makan. Kalau berhasil dapat uang, tertutuplah kelaparan saat itu. Kalau tidak dapat, bisa ditahan untuk beberapa hari. Kalau selalu sial, ujung-ujungan gelap mata dan pikiran, dan yang bisa dilakukan hanyalah menjual diri.

Bagi anak laki-laki mungkin lebih cerdik dan biadab lagi, dicarinya teman perempuan, ditawarkannya kepada orang dewasa kenalan, dia dapat uang dan perempuan kehilangan mahkota. Begitulah seterusnya, mirip seperti lingkaran setan. Pun saat mereka menjadi dewasa. Laki-laki menjadi preman, pembunuh, pemerkosa, sementara perempuan jadi wanita tunasusila.

Benar bahwa negara dan bangsa ini sudah mencoba menolong mereka. Tapi tetap saja hasilnya tidak kelihatan. Atau sebatas terotitis yang dijadikan proyek saja. Benar bahwa ada undang-undang yang mengatur tentang anak jalanan. Lihat UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1 yang berbunyi fakir miskin dan anak terlantar dipelihara negara. Hebat bukan? Bahkan negara turun tangan untuk memelihara mereka. Tapi apa buktinya? Apa bentuk praktisnya?

Yang ada hanyalah omong kosong bangsa. Ini bukan soal menjelekkan negara, tapi mau minta pembuktian di mana penerapan undang-undang yang mulia itu? Kalaupun ada, sudah tentu bukanlah gerakan nasional, bukanlah pembinaan berjangka panjang. Lagi-lagi yang ada hanyalah omong kosong bangsa.

Bangsa ini sepertinya tidak bosan dengan penerapan sebatas teoritis saja. Kalau penerapan itu berhubungan dengan keluarga mereka, cepat responsnya. Kalau tidak ada hubungan, bak pepatah lama, “Loe loe gue gue.”

Memang masih ada yang mengurusi tentang budak jalanan ini. Tapi urusan ini lebih banyak digerakkan oleh lembaga swasta, yang pergerakannya masih terbatas. Sementara dari negara sedikit pula mengucurkan dananya ke swasta buat bencana kemanusiaan ini. Negara dan bangsa ini lebih melihat bencana kemanusiaan sebagai bencana alam dan bencana perang. Jadi tidak heran kalau-kalau dunia internasional pun ikut-ikutan menyumbang buat isu kemanusian ini.

Sementara isu kemanusian yang berlatar jalanan, apa pun bentuknya, tidak pernah menjadi prioritas untuk diselamatkan. Padahal mereka adalah generasi yang akan melanjutkan estafet bangsa. Negara dan bangsa bisanya hanya menakut-takuti.

Cobalah lihat ulah negara ini, merazia anak jalanan sesuka-sukanya. Padahal mereka bukanlah penjahat, dan tidak pula melakukan kesalahan, tapi tetap saja mereka jadi incaran. Ulah negara seperti inilah yang membuat mereka merasa sangat takut saat razia berlangsung. Tentu saja negara di sini adalah pemerintah itu sendiri.

Begitu juga dengan penilaian masyarakat atas mereka. Jijik dan buruk menjadi kata yang beriringan yang keluar dari mulut. Bukan rahasia umum lagi bahwa citra anak jalanan memang demikian. Bahkan anak jalanan disamakan dengan budak jalanan. Yang tidak punya harga diri, perilaku buruk, dan korban kekerasan.

Disayangkan dari semua ini adalah sikap masyarakat itu sendiri, terlanjur justifikasi ke arah negatif. Sehingga hak anak jalanan terhadap rasa aman dan rasa dilindungi sirna dan lenyap. Hak-hak mereka yang telah diatur oleh undang-undang seolah-olah permainan semata.

Masyarakat telah merampasnya. Bangsa telah memperkosanya. Yang tersisa adalah omong kosong belaka. Lalu, di manakah fungsi negara sebagai pemelihara anak jalanan?  Inilah tragedi kemanusian yang dilupakan.

#LombaEsaiKemanusiaan