‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍Dari rumahnya di California, Buck diculik kemudian dibawa ke Yukon Alaska, belantara eksotis, pada masa Demam Emas Klondike di tahun 1890-an. Buck menjadi regu anjing untuk penarik kereta salju pengirim surat. Di bawah kendali Perrault dan Mercedes yang ceria, ia menikmati perjalanan hidupnya.

Alaska, sejauh pandangan mata terhampar salju bercuaca ekstrem. Di Kanada ini, Buck bersama kedua petugas itu mengalami petualangan yang menyenangkan sekaligus menegangkan. Buck bebas menikmati hidup di alam terbuka. Walau demikian, longsor salju dan binatang buas sesekali datang mengancam nyawanya.

Ketika sedang menarik kereta berisi kiloan surat, di tengah perjalanan, tak diduga terjadi longsor salju. Beruntung, berkat kepiawaiannya, Buck pemimpin regu itu melihat jalan pintas meski penuh risiko untuk menyelamatkan dua manusia dan kawanan anjing sahabatnya. Mereka akhirnya bisa lolos dari mara bahaya.

Satu kali, di malam hari. Buck sedang menikmati sinar rembulan. Melihat seekor kelinci sendirian, ia dan sahabat-sahabatnya datang menghampiri. Binatang kecil itu takut dan berlari. Tak dinyana, di hadapannya, anjing lain yang ganas menunggu lalu memangsanya. Sebuah penanda, belantara ini dalam kendalinya.

Begitulah hukum yang berlaku di rimba sana. Di sebuah belantara raya, begitu pula. Dalam kawanan, hanya ada satu pemimpin. Setelah kelinci berbulu putih itu jatuh tak bernyawa, anjing buas yang jahat itu lalu menerkam Buck tanpa ampun. Ia harus mengalahkan untuk menasbihkan diri sebagai penguasa Alaska.

Namun ia keliru. Meski terluka dan jatuh nyaris kehilangan nyawa, Buck masih mampu berdiri dan melawan. 

The Call Of The Wild, sebuah film yang menceritakan tentang perjalanan Buck, anjing yang baik.

Bukti kebaikan Buck. Sebelum akhirnya Perrault dan Mercedes tidak dipekerjakan lagi sebagai pengantar surat dan anjing-anjing itu kemudian dijual, Buck pernah menyelamatkan Mercedes yang tenggelam. Di atas lautan yang semula permukaannya mengeras beku, Mercedes berjalan tanpa merasa takut.

Langkah perempuan berkulit putih itu terhenti ketika melihat permukaan lautan tiba-tiba retak dan berlubang. Mercedes jatuh tanpa bisa menyelamatkan diri. Perrault, berkulit hitam, melihat temannya tenggelam hanya bisa berteriak. Mendengar teriakan, Buck berlari kencang lalu menceburkan diri.

Dari dalam lautan, Mercedes didorong ke permukaan. Tak lama, perempuan cantik itu muncul. Perrault lalu menarik tubuhnya. Mercedes selamat. Namun sial, penyelamat luput dari perhatian. Buck yang mencoba keluar, tangannya tak meraih apapun akhirnya tenggelam. Kedua orang itu tak bisa membantunya.

Buck menolong manusia tanpa peduli keselamatan dirinya. Selain seorang Ibu, anjing bernama, Buck, yang berani melakukannya.

Saat kedua orang berbeda kulit itu dibalut kesedihan, sekonyong-konyong Buck ada di samping mereka. Mengejutkan. Entah dengan cara apa ia menyelamatkan dirinya. Rupanya, Tuhan masih berkehendak lain. Malalaui Buck, Tuhan ingin menyebar lebih banyak kebaikan di belantara Yukon Alaska ini.

Setelah di tangan Hal, si majikan baru, bukan kebaikan yang ia terima. Buck diperlakukan secara kasar. Ia harus menarik lebih berat dari pada kemampuannya. Puncaknya, di tengah pendakian, saat Buck dan kawan-kawannya kehilangan tenaga, Hal menyiksanya, agar perjalanan berlanjut.

Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak.

Hal, lelaki perlente berkumis tipis, hampir membunuh Buck dengan menimbaknya. Beruntung, lelaki tua datang mencegahnya. Buck pingsan. Di tempat penginapannya, orang tua itu merawatnya. Buck kini jauh terpisah dari kawan-kawannya. Kesepian. Ia rindu saat-saat bersama dan berpetualang.

Buck melolong. Tak ada sahutan. Ia telah benar-benar sendiri.

Orang tua yang baik kepada Buck itu beranama, John Thornton. Jhon, sejak kematian anaknya, memilih mengasingkan diri. Istrinya, tak lagi mau bicara dengannya pun dengan yang lainnya. Setelah hari yang kelam itu, kedukaan tak bisa lagi lepas dari jiwa kedua orang tua itu. Jhon memilih sendiri mencari ketenangan.

Kali pertama pertemuan Jhon dan Buck sangat mengesankan. Ketika Jhon yang berkehendak menitip surat, kala itu pengantar surat Perrault dan Mercedes, telah berangkat. Jhon yang agak ringkih terus mengejar dan memanggil tukang pos itu. Tak ada yang mendengar suara panggilan itu kecuali Buck.

Buck yang anjing, instingnya lebih kuat dari pada sisi kemanusiaan kedua petugas itu. Dalam kecepatan, Buck berhenti menunggu pemilik suara. Jhon datang membawa sepucuk surat, sesuai prosedur, kedua petugas tak menerima karena terlambat. Tapi, mulut Buck telah mengambilnya dari tangan si tua.

Sejak itu, antara Jhon dan Buck satu sama lain mulai mengenal. Kini, dalam ketiadaan teman regu pengantar surat, Buck tak punya pilihan lain kecuali bersama Jhon. Pun sebaliknya. Keduanya disatukan karena kesamaan nasib. Chemistrynya lambat-laun tumbuh sebagai sepasang sahabat baik. Saling menjaga.

Bersama Jhon, petualangan selanjutnya dimulai. Mengikuti aliran sungai yang curam, kedua sahabat baik itu menuju sebuah tempat yang cukup jauh. Tempat itu, hanya ditemui satu bekas hunian tak layak. Tak ada lainnya. Konon, yang disinggahi mereka adalah hutan yang cukup berbahaya untuk manusia.

Malam hari, keadaan sunyi sepi. Di dalam gubuk, Buck ketakutan mendengar aungan gerombolan serigala silih berganti. Jhon lalu menenangkannya, "barusan adalah bagian dari leluhurmu, Buck".

Di sungai, di sekitar tempat tinggal mereka, tidak hanya ikan. Ada banyak kerikil emas yang ditemukan oleh Jhon. Di saat yang bersamaan, Buck menemukan kehidupan yang baru. Dengan kemampuan adaptasi yang cukup baik, Buck diterima oleh segerombolan serigala. Di tengah sekawanan itu, ia bebas bergaul.

Hari-hari terus berlalu. Jhon, dalam diam, mengikuti perkembangan Buck. Bersama serigala, meski bukan habitatnya, rupanya Buck telah temukan dunianya. Jhon merasa senang, akhirnya ia paham kenapa waktunya mulai berkurang. Buck selalu pulang malam, dan Jhon mengerti itu.

Sebelum malam jahanam itu tiba, Jhon berniat meninggalkan hutan. Jhon merasa telah mengantarkan Buck ke sebuah tempat yang semestinya. Hal, lelaki yang menaruh dendam tiba-tiba datang menembak Jhon. Hal pun tahu, di tempat ini, Jhon telah mengumpulkan banyak emas. Hal, semakin gila.

Buck yang sedang berada jauh, gelisah. Ternyata, Jhon sudah sekarat saat ia kembali. Meski mampu menghempaskan tubuh lelaki mantan majikannya ke dalam gubuk yang terbakar, ia tetap merasa berdosa telah membiarkan sahabat baiknya sendirian. Malam itu terakhir kalinya kebersamaan mereka.

Jhon telah tiada. Sepanjang malam, Buck menemani jasadnya yang sudah tak bernyawa.