Abang saya adalah tipikal laki-laki berhati lembut, setia, dan berambut kribo. Abang saya mencintai perempuan dalam jangka waktu yang lama. Bertahun-tahun. Itulah mengapa bisa dihitung jari perempuan-perempuan yang pernah menjadi gebetan abang saya. Sayangnya, hanya sampai pada level ‘gebetan’. Tidak lebih.

Secara finansial, abang saya menyedihkan. Berpikir berkali-kali untuk pacaran karena tidak ingin tekor secara ekonomi. Dengan konstruksi sosial di mana laki-laki yang harus bayar biaya kencan, abang saya sungguh tampak tidak bermodal. Tapi, itu dulu. Syukurlah sejauh ini belum ada juga yang sudi menjadi kekasihnya.

Sejak abang saya melanjutkan studi pascasarjana, ia tidak perhitungan lagi tentang uang. Sialnya, walaupun mulai royal, gebetannya sejak masih menempuh strata satu belum juga memberikan kepastian mau dibawa ke mana hubungan mereka. Lebih sial lagi, adalah diri ini yang mengikuti setiap hari perkembangannya, namun tidak bisa mengatakan apa-apa.

Lebih dari empat tahun, hati dan perhatian abang hanya terfokus pada satu orang perempuan. Dari sejak perempuan itu punya pacar, putus dengan pacarnya, mantan pacarnya menikahi perempuan lain, hingga tuh perempuan menyukai laki-laki lain yang tentu saja bukan abang saya, Abang saya tetap menyukai dan mengharapkan perempuan itu.

Perempuan itu, sebut saja namanya B. Ia bukannya tidak tahu perasaan abang saya. Abang pernah menyatakan perasaannya dan ditolak. Perempuan itu mengharapkan abang sebagai teman saja. Abang saya putus harapan, tentu saja. Tapi, melepas perempuan macam B, yang pintar, cantik, supel, bukanlah perkara mudah. Perempuan seperti itu pasti langka, pikir abang saya.

Ketika abang saya ‘menyet’ dan ditolak, saya mengatakan kepada abang untuk move on saja. Mencari perempuan lain. Abang saya menyanggupi. Namun, beberapa bulan kemudian, terjadilah hal-hal yang menggiring abang saya ke dalam penderitaan permainan panjang.

Si B meminta pertolongan kepada abang saya untuk diantar ke sana dan ke sini, ditemani begini dan begitu. Sialnya, abang saya menyanggupi dan merasa senang-senang saja. Bisa menghabiskan waktu bersama, memberikan pertolongan, menunjukkan kebaikan hati. 

Mungkin suatu hari nanti B akan luluh. Begitu kira-kira pikir abang saya. Pemirsa, move on menjadi sekadar angan-angan.

Abang saya terjebak. Saya terheran-heran. Saya ingin ngatain abang saya sebagai bucin (budak cinta)—istilah yang lagi trend belakangan ini. Tapi, saya takut dikutuk jadi jomblo seumur hidup. Saya sendiri tidak bisa menjamin selalu ada, setia setiap saat bagi abang saya, tapi abang saya selalu ada untuk B. Benar-benar setia setiap saat macam Rexona

Ah, saya lupa. Bukankah ini yang dinamakan jatuh cinta, pembaca?

Abang saya yang dilanda cinta, dimabuk asmara, tentu saja berbeda dengan saya yang melihat hubungan laki-laki dan perempuan berdasarkan kepentingan bertahan hidup, pencapaian tujuan, dan kebahagiaan personal.

Kau hanya tidak sedang jatuh cinta, anak muda, begitu kira-kira yang ingin disampaikan abang saya. Kenyataannya, seperti itulah cara abang saya mencintai. Bahkan, abang saya bisa berflower-flower dengan satu pesan pendek ‘makasiih..’ dan emot mata berlope-lope.

Saya heran dengan si B. Jika hanya ingin menganggap abang saya sebagai teman, mengapa kok dia seolah-olah membuat abang saya untuk selalu berada di dekatnya, yang membuat abang saya merasa dibutuhkan dan sekali lagi- memiliki harapan?

Mengapa dia tidak membuang abang saja? Sejauh mungkin, sekasar mungkin hingga hati abang saya patah sepatah-patahnya? Apakah ini yang dinamakan tarik-ulur—taktik dan strategi jitu yang dimiliki perempuan untuk menguji kesetiaan laki-laki? 

Betapa mengerikannya perempuan seperti itu. Bukankah perempuan memang racun dunia?

Selama bertahun-tahun mengikuti perkembangan kisah cinta abang saya, saya belajar bahwa jatuh cinta memang selalu hadir dengan efeknya yang berbeda-beda. Seorang laki-laki yang paling rasional sekali pun bisa hilang akal dan klepek-klepek di hadapan perempuan yang dicintainya.

Di hadapan cinta, abang saya menjadi yes man! Selalu mengiyakan, menjadi penurut, dan tampak bodoh.

Di antara semua hal tentang perempuan dan khususnya si B, yang membuat saya tidak habis pikir adalah chat-chat si B dengan abang saya yang berisi kode-kode seolah-olah ada peluang di antara mereka di masa depan. Bahkan, perbincangannya pun hingga ke perihal uang panaik.

Uang panaik—momok pemuda-pemuda Sulawesi untuk menjalin cinta dengan gadis-gadis sepulau. Abang saya sampai berpikir berapa tahun kira-kira yang dibutuhkan untuk mengumpulkan uang panaik sebanyak yang B sebutkan. Oh Tuhan, dalam momen seperti ini, saya tidak tega untuk berkomentar sarkas.

Abang saya mungkin hanya sebuah contoh dari frasa bahwa ‘mati satu tumbuh seribu’ tidak berlaku dalam cinta. Macam Zainuddin yang tetap mendamba Hayati walau nyata-nyatanya ditinggal kawin. Abang saya pernah dekat dengan perempuan lain, tapi, sekali lagi, ia tak kuasa menangkis daya tarik si B.

Bahkan, ketika ia merasa hanya dijadikan pengisi kekosongan oleh si B, abang saya tetap senang-senang saja. Terlebih lagi, abang saya masih sempat juga mengirimkan cokelat Valentine kepada B yang kini tinggal beda kota. Sedang saya? Boro-boro dikasih cokelat, malah dikatain kambing.

Setiap kali abang menceritakan kisah cinta dan impiannya untuk menikah dengan B, saya berusaha untuk tetap memberikan respons positif. 

Mungkin memang sia-sia saja berbincang tentang move on dengan abang yang jatuh cinta begitu dalam kepada seorang perempuan selama bertahun-tahun. Lagi pula, tidak ada hukumnya setelah cinta ditolak, hati dipatahkan, move on adalah sebuah keharusan.

Bagaimanapun, hanya yang bersangkutan yang tahu dengan apa, siapa dan bagaimana dia berbahagia nantinya. Toh tak seorang pun di antara kita yang akan dan sudi bertanggung jawab terhadap hidupnya kelak. Saya pun tidak akan bertanggung jawab atas ketidakbahagiaan abang saya nantinya. 

Bagaimanapun, mampu memutuskan sendiri kepada siapa hati terpaut adalah sebuah kemewahan.

Hanya Tuhan yang tahu bagaimana hidup ini akan berakhir. Sedangkan manusia—abang saya hanya ingin memperjuangkan kebahagiaannya hingga tidak ada kemungkinan lagi—tentu saja bersama dengan B. 

Entah akan diperlakukan bagaimana lagi abang saya ke depannya, saya tidak ingin ambil pusing. Saya hanya ingin melihat sisi positifnya, yang berarti tambahan ide-ide cerita yang baru.

Cinta mungkin memang bisa membuat orang jadi bodoh. Tapi, jangan sebut abang saya bodoh. Abang saya hanya belum ingin berpaling dari B. Bahkan, jika harus sedih dan patah hati—berkali-kali lagi, belum saatnya untuk berhenti. 

Demikianlah kisah cinta abang saya yang entah apakah dia seorang pejuang cinta atau orang yang membudakkan diri demi cinta.