Menurut sejarah, kata paper dalam bahasa Inggris berasal dari tanaman papirus (papyrus), tanaman yang digunakan bangsa Roma untuk membuat kertas.

Sejarah Cina mencatat bahwa kertas dibuat dari hasil olahan serat bambu. Sementara di Indonesia, diperkirakan penggunaan kertas berasal dari kulit kayu.

Saat ini, di Indonesia, bahan baku utama pembuatan kertas adalah kayu. Jenis kayu yang digunakan untuk produksi ini adalah kayu dengan kadar serat tinggi. Tentu saja, karena kandungan utama pada kertas adalah selulosa dan hemiselulosa, dengan kadar lebih dari setengah berat kertas itu sendiri.

Akasia adalah jenis tanaman yang dibudidayakan untuk produksi bahan mentah kertas dan olahannya, karena akasia dinilai memenuhi persyaratan, baik ditinjau dari jenis serat maupun kandungan selulosa dan hemiselulosanya.

Struktur, tekstur tanah, iklim, serta cuaca tropis membuat akasia dapat tumbuh subur di Indonesia. Usia panen ideal untuk akasia adalah berkisar lima hingga enam tahun. Salah satu pertimbangannya adalah, pada usia ini, kandungan selulosa terdapat pada batang tanaman paling ideal untuk pembuatan bubur kertas (pulp).

Oleh APP Sinar Mas, tanaman akasia dibudidayakan di Hutan Tanaman Industri (HTI), mulai dari proses pembibitan, penyemaian, pemeliharaan, hingga pemanenan. Dibanding jenis tanaman lain yang juga sesuai digunakan sebagai bahan baku kertas, tanaman akasia dinilai lebih mudah dibudidayakan di Indonesia.

Sebelum batang kayu akasia masuk ke mesin untuk produksi, batang kayu sudah harus bersih dari daun dan dahan. Kayu didiamkan terlebih dahulu di ruang terbuka (log yard). Tujuannya agar mengubah tekstur kayu yang keras menjadi lebih lunak dan mudah diolah.

Dengan bantuan alat berat jenis excavator grapple, batang kayu pada log yard dipindahkan ke alat lain yang akan membawa batang kayu tersebut ke tahap produksi (conveyor). Sebelum batang kayu masuk ke tempat pengelupasan kulit kayu (Drum Barker), batang kayu harus melewati wash station untuk proses pencucian.

Batang kayu yang telah melalui proses pengulitan juga harus melalui proses pencucian kembali. Setelahnya, batang kayu tanpa kulit akan dibawa mengarah ke mesin pencacah (chipper), sementara kulit kayu akan diteruskan ke pembuangan.

Sisa kulit kayu tidak lantas menjadi limbah buangan, melainkan masih dilakukan pemanfaatan. Kulit kayu digunakan menjadi sumber bahan bakar yang diolah untuk menghasilkan uap. Uap hasil pembakaran inilah yang menjadi salah satu sumber tenaga penggerak mesin pada pabrik.

Sementara, batang kayu yang telah bersih masuk ke chipper. Dalam hitungan detik, batang kayu sudah menjadi kepingan-kepingan kecil (chip). Hanya kepingan yang sesuai standar yang dapat melewati bagian penyaringan (chip screen).

Kepingan yang tidak sesuai standar didorong keluar dari chip screen untuk kembali dihancurkan agar mendapat ukuran yang sesuai. Kepingan-kepingan besar ini tidak akan masuk ke chipper lagi, tetapi akan dibawa ke tempat pencincangan yang lebih kecil (chip cracker).

Hanya kepingan kayu yang sudah sesuai standar yang dapat diproses untuk diolah menjadi bubur kertas (pulp). Jika belum memenuhi standar ukuran, kepingan kayu tersebut akan melalui proses pengulangan, hingga didapat ukuran yang bisa ditoleransi atau mendekati standar.

Kepingan-kepingan kayu tersebut sudah dapat diolah untuk tahap pemasakan, proses pemasakan dengan sistem penguapan. Uap panas dapat mengurangi kadar air dan udara dari kepingan kayu. Tambahan bahan kimia dalam proses pemasakan bertujuan untuk memisahkan serat kayu dari lignin, bahan pengikat serat kayu.

Setelah melalui proses pemasakan, kembali dilakukan proses penyaringan (screening). Yang dipisahkan dari proses ini adalah bahan terlarut yang secara kimia tidak dibutuhkan dalam proses produksi selanjutnya untuk mendapatkan hanya serat yang sesuai.

Proses pencucian dan oksidasi juga dilakukan setelahnya. Masih dengan tujuan sama, memastikan tidak ada lignin yang tersisa pada serat kayu yang akan diteruskan untuk proses pengolahan.

Seperti pada proses chipping, pada proses pemasakan ini juga dilakukan beberapa kali proses screening agar diperoleh serat dengan kualitas yang baik, sehingga dapat memberikan hasil sesuai standar ISO. Hasil dari proses pemasakan inilah yang disebut bubur kertas.

Bubur kertas yang sudah masak dan sesuai standar harus kembali diolah. Dalam proses pembuatan bubur kertas menjadi lembaran, juga dilakukan proses pengeringan. Bubur kertas dibuat menjadi lembaran yang tidak terlalu tebal agar mudah didistribusikan.

Bubur kertas kering dibentuk menjadi lembaran-lembaran panjang siap pakai, kemudian dipotong-potong untuk dikemas. Bubur kertas kering inilah yang kemudian diolah kembali menjadi kertas, karton, kardus atau tisu, serta produk lainnya.