Bagaimana kabar kalian?

Ketika kalian membaca surat ini, aku harap kalian membaca dengan hati yang bersuka cita dan senantiasa dipenuhi dengan semangat yang menyala-nyala seperti saat kalian baru lulus SMA dan menerima pengumuman bahwa kalian diterima di perguruan tinggi yang kalian harapkan ini.

Atribut ospek kalian masih kalian simpan atau kalian buang? Oh, terserah hendak dibuang atau disimpan, adik-adik yang bersemangat, namun tetaplah hidupkan gelegar semangat ospek itu setiap hari. Semangat yang sejati, murni apa adanya.

Atau kalian merasa salah jurusan? Merasa jurusan dan program studi alias prodi yang kalian tempati ini bukan pilihan yang tulus melainkan disetir oleh orang tua?

Waktu sudah berlalu untuk menyesal dan tenggelam dalam perasaan mengasihani diri sendiri. Tidak, aku tidak hendak meminta kalian untuk bersyukur karena banyak kawan kalian yang gagal lolos tes masuk universitas atau sekolah tinggi. Sama sekali bukan.

Kehidupan akan terus berjalan. Kalian harus buang perasaan menyesal itu. Makin lama kalian tenggelam dalam penyesalan dan melampiaskannya dalam emosi buta untuk mengulang tes masuk universitas tahun berikutnya, makin parah kalian menyiapkan diri untuk kegagalan di tempat yang kalian tempati saat ini.

Dan kalian tak jadi apa-apa di masa mendatang selain kaum melankolis cengeng.

Perasaan salah masuk jurusan itu hanyalah sindrom, adik-adik terkasih. Sungguh. Di negeri kita, entah kalian cintai atau tidak, tidak ada jurusan favorit dan menjamin untuk sukses. Banyak perkuliahan diadakan sering kali tak lebih dari sebagai SMA lanjutan.

Kalian datang ke kelas, bersikap manis pada dosen, lalu nanti lulus. Syukur kalau nilainya cemerlang. Mau kerja atau kuliah lagi, kampus tak peduli. Inilah realitas.

Lihat sendirilah pada kelas-kelas yang kalian datangi. Bukankah kalian duduk dalam bangku-bangku yang ditata sedemikian rapi dan bersiap melihat dosen mengajar secara dogmatis? Bahkan, beberapa dosen mengajar tanpa benar-benar paham dengan yang dia ajarkan.

Sekalipun demikian, perkuliahan sejatinya bukan sekolah menengah atau sekolah dasar. Kalian tidak bisa mengharapkan untuk bisa menantikan ilmu untuk “ditransfer” dari para dosen kepada kalian. Kalianlah yang bertanggung jawab atas ilmu itu sendiri.

Kalian yang harus belajar dari banyak hal dan sumber. Kunjungilah perpustakaan dan baca buku yang baik di sana. Acap kali buku lebih baik daripada kuliah.

Manfaatkanlah akses internet kampus untuk membuka diri akan isu-isu yang dikaji oleh lingkup studi kalian. Indonesia sudah terlalu jenuh dengan politik praktis dan identitas. Keluarlah dari kerangkeng itu dan jangan tersesat karenanya dan di dalamnya.

Gunakan akses internet itu buat membuka jurnal-jurnal yang berkualitas dan kalau perlu, bandingkan cara para peneliti di mancanegara mengupas masalah dengan skripsi, tesis, atau disertasi yang disimpan dalam perpustakaan dan arsip universitas, fakultas, atau jurusan. 

Apakah semua yang kalian terima di kelas benar? Lalu, bertanyalah: Mengapa murid di universitas disebut “mahasiswa”, bukan cuma “siswa”?

Eksploitasilah semua itu, sebab ilmu bukan uang atau migas. Ilmu akan selalu berbuah bila ia digali, ditambang, dan diserap. Di situlah apa yang disebut idealisme dibentuk dan diasah. Apa yang semula sekadar passion, ditransformasi secara radikal menjadi panggilan dan tujuan hidup.

Maka, jangan takut pula untuk hidup sendirian meskipun kalian belajar demi mengkaji realitas di sekitar kalian, entah sosial, budaya, seni, maupun alam dan teknologi. Ilmu yang dipelajari adalah untuk membantu manusia menyelesaikan masalahnya meski nampak amat teoritis dan “abstrak”.

Oleh sebab itu, aku berdoa kiranya kalian juga tidak sombong dan saling mengadu pamor fakultas dan jurusan kalian. Kiranya kalian tidak hendak menjadi para “fasis fakultas” atau “fasis universitas”. Dalam jagat keilmuan, buanglah sikap bersaing dan bangunlah sikap solidaritas serta kerja sama satu sama lain.

Bersainglah melawan diri sendiri saja dan kiranya sikap persaudaraan terus dibina. Jangan terlalu termakan oleh predikat dan peringkat yang seolah-olah menyatakan satu perguruan tinggi lebih digdaya daripada perguruan tinggi lain. Namun, jangan mudah puas juga dengan apa yang kalian rasakan sekarang.

Jika kalian melihat bahwa kehidupan kampus telah melucuti kesempatan kalian untuk bertemu dan beranjang sana dengan kawan-kawan lama kalian, janganlah bersedih. Jika kalian berkesempatan untuk meraih yang lebih tinggi dengan cara kuliah, kenapa kalian bersedih teman kalian merasakan hal yang sama?

Apa pun yang terjadi di kampus, kalian semoga sudah mampu untuk mengenali dan memahami diri sendiri, khususnya bagaimana kalian dapat belajar dengan baik. Tak jarang kalian harus belajar sendiri, benar-benar sendiri tanpa mitra.

Tak ada pilihan lain. Kalian hanya bisa bersikap berani dan yakin pada diri sendiri. Di dalam diri setiap insan, ada sosok “guru” yang setia menuntun kalian dalam menimba ilmu asalkan kalian punya kesungguhan belajar dan paham makna di setiap ilmu yang kalian pelajari secara seksama dan sistematis, entah dalam kuliah atau seminar.

Meskipun begitu, tetaplah sayangi diri sendiri. Berilah diri waktu untuk istirahat. Juga, sibuk bukan berarti produktif. Sekadar bergerak tidak sama dengan berjalan maju. Buatlah progress, bukan cuma kelelahan akibat banyak riset dan kuliah.

Kembangkanlah potensi kalian, entah musik, jurnalistik, seni rupa, tata boga, atau apapun itu, selama tidak mengganggu tanggung jawab kalian. Alangkah memuakkannya hidup jadi mahasiswa bila hanya sekedar belajar hal yang “itu-itu melulu”.

Jangan lupakan orang tua, saudara, sahabat, atau pacar kalian yang kalian miliki. Kasih sayang apapun wujudnya sangatlah berarti sebab mahasiswa bukan kuda beban yang hanya bisa kerja, kerja, kerja. Kuliah, kuliah, kuliah. Kalau kalian mati akibat kuliah, kampus tak akan (terlalu) kehilangan.

Percayalah. Aku, si mantan mahasiswa ini, menyesal karena terlalu mengejar nilai tanpa mau memberi diriku sendiri untuk terjun dalam organisasi pengembangan diri hanya karena aku enggan mencari potensi terbesar dalam diriku. Harapanku, kalian tak terjatuh dalam jurang yang sama.

Kepada adik-adik mahasiswa baru, kiranya kalian menjadi cendekiawan yang utuh, yang tidak sekadar cerdas. Melainkan cerdas secara holistik dan mampu menghargai keindahan dalam hidup ini.

Salam.