Petualang
1 bulan lalu · 1161 view · 4 min baca menit baca · Agama 78482_77827.jpg
Dok. Pribadi

Buat Apa Memegahkan Masjid Sampai Harus Utang?

Beberapa hari lalu saya berbuka puasa di Masjid UGM. Walau saya sudah lulus, saya pikir tak ada salahnya mengincar takjil gratis. 

Semula, semuanya tampak baik-baik saja; tak ada yang berubah. Sampai kemudian, saat saya tengah menyantap takjil berupa nasi bungkus dengan lauk orek tempe yang diberi oleh panitia, perhatian saya tertuju pada banner yang terletak di depan pintu masuk.

Pada banner itu, tertulis soal dana pembangunan menara masjid, yang kalau saya tidak salah ingat, sudah dimulai sejak tahun 2016 lalu. Biaya pembangunan menara adalah Rp9 miliar. Biaya yang sudah dikeluarkan Rp7,5 miliar, dan masjid kampus UGM sampai saat ini masih memiliki utang sebesar Rp1,5 miliiar.

Kalimat persisnya begini: Untuk penyelesaian dibutuhkan dana Rp 1,5 miliar. Di bawah tulisan itu, terpampang permohonan sumbangan untuk melunasi utang itu agar pembangunan menara bisa dirampungkan.

Melihat banner itu saya jadi tersadar, pantas saja menara Masjid UGM saat ini tidak boleh dinaiki lagi. Padahal tahun lalu, orang-orang bisa naik ke atas menara setinggi 99 meter itu untuk melihat pemandangan Kota Jogja sambil menunggu azan magrib.

Di bawah tangga untuk naik ke atas tertulis “Maaf, sedang perbaikan”. Saya membatin, untuk apa membangun menara semegah itu kalau ujung-ujungnya tak mampu membayar? Benar-benar tidak lucu. Terlalu memaksakan.

Saya pun jadi teringat pembangunan-pembangunan masjid besar di beberapa tempat lain yang pernah saya lihat. Semuanya dibangun dengan megah. Berpuluh-puluh bahkan beratus miliar dana dikucurkan. Di kota-kota lain, termasuk di kampung saya di Medan, pembangunan masjid malah jadi ladang korupsi.

Saya tidak akan bilang bahwa bermegah-megah dalam membangun masjid itu tidak boleh. Saya tahu, saya tidak otoritatif untuk mengatakan itu. Yang pasti, dari sejumlah literatur yang saya teroka, secara garis besar ada tiga pendapat berbeda terkait hal ini.


Pendapat pertama mengatakan bahwa boleh memegahkan masjid, antara lain dari kalangan ulama Mazhab Hanafi. Dalam Kitab Al Mabsuth, misalnya, Imam As Sarkashi Al Hanafi berpendapat bahwa tidak masalah memegahkan masjid, termasuk melapisi fisik bangunannya dengan cairan emas.

Mereka yang sepakat dengan pendapat pertama ini biasanya akan menukil Surat At-Taubah ayat 18, yang berbunyi: Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian.

Pendapat kedua, antara lain disuarakan oleh Imam Malik, menyatakan bahwa membangun masjid dengan megah adalah makruh. Artinya tidak haram, tapi juga tidak dianjurkan.

Sedangkan pendapat ketiga, di antaranya dari Mazhab Hanbali dan Mazhab Syafi’i, justru menyatakan larangan memegahkan masjid. Bermegah-megahan dalam membangun masjid adalah haram hukumnya, sebab tindakan itu tergolong kemungkaran karena berlebih-lebihan (israf). Tindakan itu juga dianggap dapat melukai perasaan kaum dhuafa.

Dalam Kitab Al-Madkhal, Ibn Al Hajib bahkan mengatakan bahwa memegahkan masjid adalah bid’ah dan tanda-tanda kiamat. Ia juga berpendapat bahwa penggunaan uang wakaf untuk memegahkan masjid hukumnya tidak boleh.

Saya sendiri tak akan mempermasalahkan apakah memegahkan masjid itu haram, makruh, atau boleh. Yang pasti, uang Rp9 miliar itu sangat besar—bagi saya dan juga bagi banyak orang.

Dalam logika sederhana, uang sebesar itu akan sangat bermanfaat jika diperuntukkan bagi keperluan yang lain untuk adik-adik mahasiswa. Misalnya untuk bantuan mahasiswa kurang mampu yang tidak mendapatkan beasiswa. Saya yakin, mereka yang sudah mendapatkan beasiswa saja pun masih banyak yang kekurangan.

Lagi pula, untuk apa menara semegah itu? Mau unjuk kemegahan? Apa yang mau dibanggakan dari bangunan peribadatan yang megah? 

Jika memang ingin konsisten dengan napas keberimanan, apa korelasi antara kadar iman yang kuat dengan menara yang megah? Apa di menara itu kita bisa bentang karpet sajadah buat menambah saf? Memangnya bangunan yang megah membuat salat menjadi makin khusyuk? Bukankah beriman itu seharusnya menjadi bersahaja, tidak berlebih-lebihan?

Saya, sih, bukannya tidak senang kalau masjid-masjid itu cantik dan berdiri megah. Tapi, sepanjang masih ada kemiskinan di sekitar lingkungan masjid, masih ada orang yang mengemis-ngemis di pekarangannya, itu akan menciptakan ironi. 

Bagi saya, masjid yang bersih—bersih karpet sajadahnya, bersih lantainya, bersih toilet dan tempat wudhunya, bersih pekarangannya—serta teduh dan rindang, sudah lebih dari cukup.

Yang nggak lucu, baru kali ini saya melihat ada pihak yang memohon sumbangan sebesar itu. Secara terang-terangan pula. Apa tidak malu minta sumbangan sampai Rp1,5 miliar?


Bagaimana pun, saya penasaran, apakah petinggi-petinggi UGM sudah melihat banner utang sebesar Rp1,5 miliar itu. Saya ingin tahu apa yang ada di benak mereka ketika membaca tulisan di banner itu. Saya tidak bisa membayangkan, seandainya gaya mengutang pembangunan menara Masjid UGM ini diadopsi oleh banyak orang.

Misalnya ada seseorang atau sekelompok orang mau bangun masjid. Mereka langsung beli tanah, belanja material bangunan, panggil kontraktor, atau sewa jasa buruh bangunan, dan sebagainya.

Ternyata di belakang, ketika masjid hampir rampung, uang belum disediakan sepenuhnya. Total biaya Rp1 miliar, sementara dana yang terkumpul hanya Rp500 juta. Lalu pasang banner minta sumbangan di depan masjid: 

“Biaya pembangunan masjid Rp1 miliar. Dana yang terkumpul Rp500 juta. Butuh dana Rp500 juta agar pembangunan masjid bisa diselesaikan. Mohon sumbangannya.”

Oh, tidak. Akan ada begitu banyak bangunan megah yang statusnya menunggak utang kalau begitu. Jangan, jangan sampai terjadi.

Sembari menuntaskan nasi bungkus di pinggir kolam yang ada di depan Masjid UGM, dalam hati saya berharap: semoga takjil yang saya makan ini bukan utang.

Artikel Terkait