Dalam upaya saya untuk memahami agama dengan benar, khususnya agama Islam yang saya anut, dan lebih khusus lagi memahami praktik keagamaan yang belakangan menimbulkan pelbagai permasalahan, saya memutuskan menerbitkan kumpulan tulisan saya yang sejauh ini hanya beredar di kalangan terbatas, dalam bentuk buku (Mizan Pustaka Publishing).

Memahami apa sebenarnya makna dan manfaat agama bagi Muslim seperti saya, khususnya manfaat bagi kehidupan masa kini, akan sangat berarti bagi menjaga iman saya. Buat apa beragama bila keberagamaan saya tidak menjadikan saya lebih baik dari mereka yang tidak beragama?

Dalam merenung tentang agama, muncul berbagai pertanyaan dalam benak yang harus dicari jawabannya. Sejauh ini pelbagai dogma sering kali dipaksakan oleh para petinggi agama untuk diterima apa adanya dan dipatuhi sebagai kata akhir. Banyak di antara para pemuka agama itu yang, disadari atau tidak, menempatkan dirinya sebagai wakil Tuhan dan penafsir tunggal firmanNya.

Ketika Allah menurunkan wahyunya kepada berbagai Nabi, khususnya Nabi terakhir Muhammad SAW, apakah agama ini hanya untuk menyiapkan kita pada kehidupan setelah mati saja atau berguna bagi kehidupan kini dan di sini? Apakah Islam untuk kehidupan di dunia atau hanya untuk akhirat? Apakah di akhirat masih ada agama?

Sudah terlalu sering kita dengar para ustaz dan dai mengutip ayat Quran yang mengatakan bahwa kehidupan duniawi ini hanya sementara. Yang abadi nanti di akhirat. Tuhan menciptakan manusia hanya untuk beribadah kepadaNya dan menyiapkan bekal untuk akhirat. Dunia penuh dengan permainan dan tipuan. Dan seterusnya.

Semua kutipan wahyu itu tidak salah. Yang salah bisa jadi adalah pemahaman apa yang dimaksud dengan ibadah. Apakah itu sekadar salat, puasa, haji, zikir, dan sejenisnya atau lebih luas dari itu? Apakah Islam itu pada saat salat atau perilaku kita setelah salat? Apakah memuji dan menyembah Tuhan itu karena Tuhan butuh dipuji dan disembah atau semua itu untuk kepentingan kita?

Apa sebenarnya tujuan Tuhan mencipta Adam di surga kemudian menurunkannya ke bumi sebagai “khalifah di bumi” kalau bukan agar Adam melihat surga dan mewujudkan kehidupan surgawi di dunia agar bebas dari kelaparan, ketakutan, dan kesengsaraan? Mengapa kita jarang mendengar khotbah dan ceramah-ceramah ulama dan para ustaz yang berisi inspirasi untuk membangun umat yang maju, berilmu, dan kuat?

Apakah agama itu sebuah perkumpulan atau paguyuban yang harus dibentengi dan dijaga dari serangan musuh atau agama adalah penghayatan jiwa dan roh yang akan menguatkan keduanya dari segala bentuk keguncangan yang melanda diri? Apakah agama itu tujuan akhir kita atau agama adalah jalan yang akan membawa kita kepada tujuan sebenarnya menjadi manusia yang paripurna?

Apakah sebagai orang beragama kita harus menutup pintu rapat-rapat dan mencurigai semua pengaruh luar sebagai berbahaya dan dapat mencemari iman kita, atau kita buka pintu kita lebar-lebar dan mengambil semua manfaat dan kearifan yang bisa menambah wawasan beragama kita? Apakah agama atau Tuhan perlu dibela?

Sudah sadarkah sebagian besar Muslim bahwa ada lima tujuan syariah yang harus didahulukan dari kewajiban-kewajiban lainnya dalam beragama? Bahwa agama Islam menempatkan maslahat kemanusiaan di atas kepentingan peribadatan?

Sulitkah menjadi Muslim dengan segala kewajiban dan larangan yang diatur dalam syariah? Apakah agama membebani kita dengan berbagai kewajiban dan larangan yang terlalu berat untuk dipikul? Apa hubungan agama dengan politik yang benar? Mengapa di banyak negeri non-Muslim kita dapati warganya lebih Islami dari di negeri-negeri Muslim?

Ketika Muslim mengucap assalamualaikum atau meneriakkan takbir atau memulai suatu perbuatan dengan membaca bismillah dan lain sebagainya, tahukah mereka makna sebenarnya dari berbagai berbagai kebiasaan sehari-hari seorang Muslim itu? Ataukah itu hanya sekadar kebiasaan di mulut tanpa dihayati arti dan makna sebenarnya?

Ringkasnya, apakah keberagamaan kita sebagai Muslim sejauh ini telah menciptakan nilai tambah bagi kemanusiaan dan umat manusia atau justru sebaliknya telah lebih banyak menimbulkan kerusakan tetapi kita merasa telah berbuat yang benar sesuai ajaran agama seperti dijelaskan dalam Surah Albaqarah ayat 11 dan 12?

Berbagai renungan dalam buku ini juga didorong antara lain oleh observasi keterpurukan sebagian besar Muslim di dunia selama beberapa ratus tahun terakhir. Banyak sudah analisis sejarah dan ilmiah ditulis oleh ahlinya tentang berbagai penyebabnya.

Salah satu penyebabnya yang mendorong penulis untuk merenung adalah pemahaman tentang agama yang menurut penulis telah guncang dan meleset karena berbagai trauma kolonialisme dan kekalahan Muslim dalam sejarah modern.

Sebagai akibatnya, Muslim mencari perlindungan di balik tirai-tirai konservatisme dan kekolotan. Muslim lebih banyak melihat ke belakang pada masa “kejayaan” Islam daripada ke depan dengan mengembangkan ilmu pengetahuan dan kemakmuran. Agama dipakai sebagai alat defensif untuk membela diri. Bukan sebagai pendorong untuk kemajuan. Simbolisme lebih ditonjolkan daripada kerja dan hasil nyata.

Sebaliknya, di bagian dunia Islam lain, agama telah menjadi ajang permusuhan dan perpecahan antar sesama Muslim. Perang saudara antar sesama penganut agama tak terhindarkan. Agama ditunggangi oleh nafsu kekuasaan dan yang dicari bukan pemahaman untuk mencari kebenaran tetapi pembenaran terhadap perilaku yang sesungguhnya jauh dari Islam.

Ringkasnya, agama itu bisa bermanfaat tetapi bisa pula merusak dan mengacau kehidupan pribadi dan bermasyarakat. Agama tidak netral. Tinggal terserah kita bagaimana mau memaknai agama. Sejarah telah membuktikan bahwa agama bisa menginspirasi tumbuhnya peradaban yang tinggi tetapi juga bisa menghancurkannya lewat perang dan perilaku yang menyengsarakan dan mengorbankan jutaan jiwa manusia.

Islamofobia

Kita mengeluh bahwa di bagian dunia non-Muslim, banyak terjadi kecurigaan dan bahkan diskriminasi dan persekusi terhadap Muslim. Istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan situasi itu adalah Islamofobia. Fobia artinya ketakutan ekstrem yang tidak rasional dan tidak berdasar karena tidak memiliki cukup pengetahuan dan informasi.

Jangan salahkan mereka yang hanya melihat tingkah laku sebagian Muslim seperti teror ISIS dan Alqaeda yang sebenarnya ditentang oleh mayoritas Muslim tetapi menjadi berita halaman depan media internasional. Dari mana lagi mereka akan menilai Islam kalau bukan dari wajah penganutnya karena mereka tidak pandai membaca Alquran dan sumber-sumber Islam autentik lainnya.

Mereka juga melihat Dunia Islam yang umumnya terbelakang sebagai representasi agama Islam. Jihad yang punya arti luas sebagai perang melawan hawa nafsu diartikan oleh sebagian Muslim yang vokal sebagai lisensi untik membunuh mereka yang dianggap mengancam eksistensi Islam. Pengekangan terhadap hak-hak perempuan dan sistem kenegaraan yang represif dan otoriter di banyak negeri dengan penduduk Muslim pun menciptakan citra yang merugikan Islam sebagai agama.

Keadaan menjadi lebih buruk ketika dalam situasi seperti itu mayoritas Muslim yang sebenarnya moderat dan tidak agresif enggan bersuara, diam, dan membiarkan jagad informasi dikuasai oleh kelompok garis keras yang meski minoritas tapi vokal dan lebih baik organisasinya. Mayoritas moderat dan diam ini juga makin lama makin terkikis karena mereka menganggap yang bersuara lantang dan keras dianggap memperjuangkan nasib mereka yang memang sering kali tersisihkan dalam persaingan memperebutkan sumber daya.

Karenanya, meski agak terlambat, sudah saatnya para pemuka agama dan semua kita duduk kembali dan bertanya kepada diri sendiri buat apa kita beragama bila hasilnya justru mendiskreditkan agama itu sendiri. Apakah keberagamaan kita lebih cenderung menghukum atau menyelamatkan penganutnya. Apakah cara beragama kita telah menjadi inspirasi untuk kemajuan atau justru kemandegan dan kemunduran.

Intinya, kita harus berani menerobos dengan mengajukan pertanyaan fundamental apakah keberagamaan kita telah membuat kita dan lingkungan kita lebih bahagia atau sebaliknya. Semua ini menurut pandangan saya dapat kita lakukan dengan melakukan re-interpretasi ajaran pokok Islam tanpa harus melakukan reformasi besar-besaran seperti yang terjadi pada agama Kristen Protestan.