Agama dan sekularisasi selalu hadir dalam pertentangan tak berujung. Iman dan ilmu pengetahuan (Glauben und Wissen) tak pernah benar-benar berdamai. Keduanya terlibat dalam konflik berdarah sepanjang sejarah, baik secara kasat maupun tak kasat mata.

Modernisasi makin menonjolkan jarak antara agama dan dunia sekuler. Ilmu pengetahuan menempati takhta sentral sementara agama mendapat kursi hamba yang kurang didengar suaranya untuk menentukan kebijakan publik. Agama mendapat tempat yang marginal dalam dunia bersama.

Sistem yang demikian memberi pupuk bagi pra-pemahaman yang salah tentang eksistensi institusi agama maupun makna sekularisasi. Jurgen Habermas, filsuf Jerman, misalnya, memberi dua model pemahaman sempit tentang sekularisasi yang mendasari konflik tak berujung tersebut.

Model pertama, Vendrangungsmodell melihat ilmu pengetahuan sekuler sebagai ‘pemberontak’ yang akan merebut peran sentral agama. Perebutan peran ini melahirkan antagonisme. Karena menggeser kekuasaan agama, ilmu pengetahuan dianggap sebagai musuh.

Selanjutnya, dalam model kedua yang disebut Enteignungsmodell, ilmu pengetahuan dan sekularisasi telah melahirkan banyak kejahatan moral. Agama memusuhi dampak negatif dari ilmu pengetahuan dan berkeras ialah penjaga moralitas publik. Barangsiapa mempertanyakan wibawa ini, ia dianggap sebagai musuh.

Bingkai pemahaman yang sempit ini membuka peluang bagi munculnya babak-babak konflik baru. Sejauh setiap institusi tidak menyadari peran dan keterbatasannya, perseteruan akan tetap abadi.

Di tengah sengkarut perebutan takhta pengaruh, masih mungkinkah agama dan ilmu pengetahuan berdiri sebagai rekan? Mampukah sinisme dan antagonisme ini terjembatani? Dalam hal apa saja dan pada momen seperti apa agama dan ilmu pengetahuan bisa saling bergotong royong untuk menciptakan kualitas hidup bersama yang lebih baik?

Berkah Terselubung Pandemi

Pandemi Covid-19 memberi jawaban yang jelas atas permasalahan ini. Di saat seluruh dunia berjuang menangkal keganasan pandemi global, agama dan ilmu pengetahuan mengesampingkan permusuhannya. Secara serentak, baik institusi agama maupun sekuler, keduanya berdamai dan menjadi rekan kerja.

Desakan krisis global mendorong sebuah pertobatan. Agama berhenti menonjolkan kewibawaannya yang akhirnya tetap tak mampu menyelamatkan ribuan nyawa korban virus yang tiap detik terus bertambah. Ilmu pengetahuan di sisi lain mulai meninggalkan arogansinya dan membangun kerja sama dengan institusi agama. Ini adalah sebuah berkah terselubung.

Selain kerja sains untuk menemukan vaksin dari virus Covid-19, para tokoh agama memiliki peran yang penting untuk mengurangi jumlah penyebaran kasus. Otoritas para tokoh agama dapat digunakan untuk mengoordinasi umat beragama dalam mengikuti protokol kesehatan.

Sejak Maret 2020, Vatikan mengeluarkan kebijakan penutupan gereja untuk sementara di seluruh Italia. Tempat-tempat wisata seperti Museum Santo Paulus ditutup. Doa, ibadah, dan khotbah oleh Paus Fransiskus disampaikan melalui jaringan live-streaming ke seluruh dunia untuk mencegah kerumunan massa di lapangan Santo Petrus, Vatikan.

Selain itu, Paus sendiri mengadakan pemeriksaan kesehatan dengan hasil negatif terhadap virus. mIbauan ini juga diberlakukan kepada semua gereja di berbagai negara.[1]

Di Arab Saudi, ledakan kasus virus corona menjadi acuan pertimbangan aktivitas keagamaan. Pada 16 Maret 2020, Kementerian Urusan Islam, Dakwah dan Bimbingan Agama mengeluarkan keputusan penutupan masjid di seluruh Saudi. Salat jemaah dan salat Jumat sempat dilarang untuk mencegah massa yang berkerumun. Lockdown diberlakukan di kota suci Mekah dibarengi aturan jam malam 24 jam. 

Selanjutnya, pada 17 April 2020, Abdul Aziz bin Abdullah Al Al-Shikh, mufti besar Arab Saudi menganjurkan salat Tarawih di rumah masing-masing untuk menindaklanjuti protokol kesehatan penanggulangan Covid-19.[2]

Di kalangan masyarakat Hindu, Suartanu selaku Ketua Bidang Kesehatan dan Sosial Kemanusiaan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) mengimbau untuk tidak menyelenggarakan kegiatan sembahyang secara bersama-sama.[3]

Protokol kesehatan, kebijakan politik dan agama jalin-menjalin untuk mengatasi pandemi global. Pemerintah dan institusi sains dapat memanfaatkan kerja sama dengan para tokoh agama untuk mengarahkan masyarakat.

Selain koordinasi terhadap mobilitas kegiatan beragama, kontribusi agama juga mampu memberikan justifikasi teologis terhadap kebijakan institusi sekuler. Hal ini dapat membantu, baik ‘orang yang buta secara religius’ (der religios Unmusikalische) maupun yang taat beragama memahami alasan ideal, normatif, dan etis di balik kebijakan yang sedang diberlakukan.

Keputusan physical distancing, lockdown, atau mencuci tangan sebelum dan sesudah aktivitas, misalnya, bisa dipahami sebagai usaha untuk menjaga kesehatan. Merawat kesehatan diri adalah bentuk penghayatan iman. Dengan demikian, iman yang terdapat dalam agama dapat menerjemahkan dirinya ke dalam bahasa ilmu sekuler berupa protokol kesehatan.

Commonsense: Kunci Perdamaian Kepentingan

Tanpa kita sadari, pandemi global membuahkan momen perdamaian antara institusi agama dan ilmu pengetahuan. Simbiosis mutualisme semacam ini sangat kita butuhkan untuk bergegas mengatasi tantangan yang menghadang. 

Kekuatan bersama jauh lebih berdaya guna daripada bila berusaha secara individual. Untuk itu dibutuhkan sebuah kepekaan sosial guna merangkul sumber-sumber bantuan lain yang dapat menunjang perbaikan kualitas hidup bersama.

Sudah saatnya agama dan institusi sekuler bergerak dari nostalgia otoritasnya masing-masing. Jumlah korban Covid yang terus membengkak harus menjadi suatu pecutan kesadaran bahwa iman tidak bisa mencegah kematian umat beragama. Demikian pula, ilmu pengetahuan tidak akan punya cukup daya untuk mengarahkan masyarakat mengikuti protokol kesehatan tanpa kerja sama yang baik dengan para tokoh agama setempat.

Dalam kacamata Jurgen Habermas, perdamaian dan kerja sama semacam ini disebut commonsense. Commonsense dimengerti sebagai sebuah ruang tengah yang menjembatani berbagai kepentingan. Ia bersifat rasional dan demokratis.

Di dalamnya, agama dan sains mampu bergelut dan menyepadankan diri mencapai suatu konsensus bersama. Konsensus ini berupa suatu kesalingpahaman. Lahirlah persepsi bersama: pandemi Covid-19 adalah masalah kemanusiaan yang perlu diatasi secara bersama.

Konsensus lahir dari sebuah diskursus rasional. Rasionalitas ini disebut oleh Habermas sebagai rasionalitas komunikatif. Di dalamnya termuat sebuah sikap bersama yang lahir dari persetujuan bersama.

Untuk mencapai tahap ini, baik agama dan institusi sekuler perlu mengesampingkan sentimen kulturalnya. Penanganan pandemi Covid bukan lagi sebuah tanggung jawab salah satu instansi, melainkan tanggung jawab semua kepentingan.

Agama dan institusi sekuler telah menunjukkan dirinya dapat berdamai selama masa pandemi global dan mengadakan diskursus rasional bersama. Kerja sama yang terbangun bukan hanya berdasarkan sebuah pertimbangan tindakan strategis semata, melainkan pula berdasarkan pada komunikasi yang bebas represi (herrschaftsfreie Verstandigung).

Tetap tidak bisa diabaikan, bahwa dalam praktiknya, sebagian tokoh agama masih keras kepala tidak mau diatur oleh kebiijakan institusi sekuler semacam pemerintahan. Masih banyak juga masyarakat ‘saleh’ yang tidak mengindahkan instruksi kesehatan dengan alasan keagamaan yang labil. Bahkan argumen dan dalil-dalil kitab suci dipakai sebagai pembelaan melawan kebijakan publik. Pada kasus seperti ini, tidak tercipta ruang diskursus.

Batasan argumen religius dan ilmu pengetahuan sering kali kabur. Di tengah zona abu-abu ini, kedua kepentingan bisa saling menyikut untuk mengafirmasi statusnya. Kepentingan yang keluar sebagai pemenang dianggap sebagai kebenaran dan memutlakkan solusinya atas suatu permasalahan. Padahal kebenaran memiliki standar jamak yang dengan demikian membutuhkan kerja sama multidisipliner dan intersubjektif.

Di tengah masa pandemi, agama dan sains memainkan peran sosial yang khas. Sains berjuang menyelamatkan nyawa masyarakat melalui pencarian vaksin dan pemberlakuan standar kesehatan komunal. Sedangkan agama mendorong para pemeluknya untuk menjadi subjek bebas dan bertanggung jawab terhadap krisis kemanusiaan yang sedang dialami. Dua peran ini bermuara pada satu tujuan tunggal: peningkatan kualitas hidup bersama.

Akhirnya, kita boleh berharap semoga perdamaian antara agama dan sains ini tidak hanya timbul karena desakan krisis situasional dan rusak kembali pada masa-masa yang akan datang. Perdamaian ini harus merupakan sebuah usaha sadar berbagai kepentingan untuk memajukan kehidupan bersama. Maka, ia harus diperjuangkan setiap saat.

Oleh karena itu, benarlah tawaran Filsuf Jurgen Habermas, bahwa syarat paling masuk akal untuk terus memperjuangkan perdamaian semacam ini adalah menciptakan commonsense, ‘ruang tengah’ di mana berbagai kepentingan (agama dan institusi sekuler) dapat menemukan bibit konsensus dan mewujudkan sebuah sikap bersama melawan pandemi Covid-19. Itulah kunci perdamaian.

[1] “Antisipasi Corona, Vatikan Tutup Semua Gereja Katolik di Roma”, AyoBandung.com, edisi Jumat, 13 Maret 2020, diakses pada Selasa, 4 Agustus 2020.

[2] Abdullah M. Umar, “Kebijakan Arab Saudi Menghadapi Pandemi Corona”, detiknews, edisi Jumat, 24 April 2020, diakses pada Selasa, 4 Agustus 2020.

[3] Sania Mashabi, “Ada Pandemi Covid-19, PHDI Imbau Umat Hindu Tak Sembahyang Bersama”, KOMPAS.com, edisi Sabtu, 28 Maret 2020, diakses pada Selasa, 4 gustus 2020.