Marjuki melangkah gontai. Wajahnya kemerah-merahan disengat matahari yang nyalang. Di keningnya, butir-butir keringat menunggu jatuh di pintu pori-pori.

Di bawah keteduhan pohon beringin di depan halaman kantor kecamatan, beberapa tukang becak tampak beristirahat. Tak jauh di depan, seorang tukang becak bercaping bambu mengusapkan handuk kecil yang menggelantung di pundak ke wajahnya setelah mengayuh becaknya melewati jembatan. 

Suasana jalan menuju pasar itu tidak seramai di pagi hari. Beberapa kendaraan yang lalu lalang tak sampai mengganggu perjalanan. Akan tetapi, cuaca yang terasa membakar itu sudah cukup mengganggu para pengguna jalan atau orang yang ada di sekitarnya. Apalagi, jika ada truk atau kendaraan besar yang melintas. Tentu saja debu-debu segera berhamburan. 

Setelah melewati jembatan, dengan kedua kakinya Marjuki membawa tubuhnya memasuki gang. Tak lama lagi, rumah yang setahunan yang lalu dikontraknya akan segera terlihat. 

Dari sebuah warung tak jauh dari gapura gang, dua orang laki-laki bertelanjang dada menyapanya. Mengundangnya mampir. Namun, Marjuki hanya membalas lemah. Ia tak ingin menunda-nunda untuk segera tiba di rumah.

Seorang perempuan muda berkelebat masuk rumah setelah melihat Marjuki berjalan ke arahnya. Ia adalah Nuryati, istrinya.

*

Marjuki menemukan Nuryati tiduran di punggung kasur. Tubuhnya miring menghadap tembok. Marjuki tahu bahwa Nuryati kecewa kepadanya. 

“Mana?” kata Nuryati setelah beberapa saat membiarkan Marjuki duduk di belakangnya tanpa mengucapkan serangkai kata. Hanya desahan berat dan panjang. 

“Maaf. Tapi harus bagaimana lagi? Lha, semuaa…” Marjuki menghentikan bicaranya ketika Nuryati membalikkan tubuhnya. Matanya menatap tajam.

“Tapi, kau harus mendapatkannya!” kata Nuryati. “Demi si jabang bayi ini!” lanjutnya sembari mengarahkan telunjuk kanannya ke arah perutnya yang mengandung enam bulan.

Marjuki mencoba menghindari tatapan Nuryati. Ia sudah menduga bahwa alasannya bakal mentah di hadapan istrinya. Akan tetapi, ia tetap menyatakannya. Paling tidak, alasan tersebut menunjukkan bahwa ia mencintainya dan bayi yang dikandungnya. Ya, bagaimana lagi. Semua kios di pasar tidak ada yang menjual sesuatu yang diminta oleh istrinya. 

Memang, apa yang diidamkan oleh Nuryati tidak muluk-muluk. Hanya jambu kelampok. Namun, jika keadaannya seperti apa yang diceritakan oleh para penjual buah yang mengatakan bahwa jambu kelampok belum musimnya berbuah, maka cukup membuat Marjuki pusing. 

Nuryati memutar tubuhnya, dan memasang posisi seperti semula. 

“Jangan pulang sebelum mendapatkannya!” serunya. 

Ada yang hendak muntah di dada Marjuki. Ia tak rela disalahkan begitu saja tanpa diberi kesempatan untuk membela diri. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa. 

Di ruang tamu, Marjuki teringat kepada beberapa orang tetangga kanan-kirinya. Saat itu usia kandungan istrinya baru sekitar tiga bulan. Mereka berpesan kepadanya agar sabar menghadapi seorang istri yang lagi hamil. Marjuki juga teringat tentang pesan Emak dan salah seorang kakak perempuannya yang tinggal di kampung. 

“Kalau bisa, jangan sampai kamu tidak memenuhi keinginan istrimu, sebab bisa berpengaruh pada bawaan si jabang bayi. Anakmu,” kata Emaknya. Sementara kakak perempuannya berkata: “Lunaskanlah apa yang diidam-idamkan oleh istrimu. Insyaallah, anakmu akan menjadi anak yang baik. Tidak durhaka sama orang tua.”

*

Marjuki melangkah gontai melintasi gang. Ia berniat pergi ke pasar besar di kota. Dulu, ketika istrinya ngidam kurma, ia memperoleh buah tersebut di sana setelah tidak menemukannya di semua kios buah di pasar kecamatan. Ia kemudian membeli sebungkus. Ia begitu bahagia. Dan setelah kurma tersebut diberikan, ternyata istrinya hanya memakan dua biji. Malah, dia yang bertugas menghabiskannya. Aneh juga tingkah wanita yang sedang ngidam, pikirnya saat itu.

Setelah melewati empat rumah, Marjuki memasuki halaman sebuah rumah. Di serambi depan, ia mendapatkan seorang lelaki yang dicarinya.

“Win, aku mau pergi. Nanti kalau jam empat aku belum pulang, kamu buka sendiri, ya?” 

“Oya. Tak apa-apa, Mas,” kata Win, seorang yang membantunya bekerja di warung kopi.

“Memangnya sampeyan mau pergi ke mana?”

“Ke pasar besar.” 

*

Marjuki berdiri di depan toko buah terakhir yang ia kunjungi di pasar besar kabupaten. Di sampingnya, seorang wanita setengah baya tampak mengeluarkan selembar uang sepuluh ribuan dari dompetnya untuk beberapa kilo buah apel yang baru saja dibungkus oleh si penjual. 

Setelah wanita setengah baya pergi, Marjuki mengutarakan maksudnya. Namun, sama saja. Seperti para penjual buah yang lain. Jambu kelampok belum musim berbuah.                    

*

Sebuah mikrolet berhenti di depan salah satu los pasar besar kabupaten oleh lambaian tangan kanan Marjuki. Dan mikrolet melaju menuju tujuannya setelah Marjuki naik.  

Dalam mikrolet, Marjuki hanya diam. Pandangan matanya menerawang jauh menembus jendela kaca. Pikirannya tak karuan. Tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Beberapa anak gadis berseragam sekolah smu yang duduk di depannya bercakap-cakap dan bercanda tentang seorang pemuda. Mungkin teman sekolahnya. Sementara, seorang laki-laki setengah baya dengan tas plastik warna hitam yang duduk membelakangi sopir, tampak memperhatikan suasana jalan yang dilihatnya.

Tiba-tiba Marjuki menyetop laju mikrolet. Beberapa anak gadis yang ada di depannya terkejut, memandanginya. 

Marjuki melangkah turun. Dengan langkah ringan dia lalu menyeberang jalan. Memasuki halaman sebuah rumah. Lantas mengucap salam.

Seorang wanita berumur enam puluhan tahun berjalan keluar sembari menjawab salam.

“Permisi, Mbah.” 

“Ya.”

“Boleh saya minta jambu kelampoknya, Mbah?” kata Marjuki sembari menunjuk ke pohon jambu kelampok di pelataran rumah yang berbuah lebat, namun masih hijau. Marjuki kemudian menceritakan masalah yang dihadapinya kepada wanita tersebut.

“O, silahkan,” kata wanita dengan sebentuk senyum di wajahnya.

*

Marjuki membuka pintu rumahnya dan memanggil-manggil istrinya. Tangan kanannya membawa bungkusan tas plastik warna hitam. Ia tersentak ketika ada yang memeluk dirinya dari belakang. 

“Ini. Oleh-oleh untuk si jabang bayi,” katanya gembira. 

Nuryati mengajak suaminya ke dalam. Di sana, ia membuka bungkusan itu. 

“Kok, masih hijau begini?”

“Harus bagaimana lagi!?” Marjuki merona kecewa.

“Tapi, nggak apa-apa.” 

Nuryati mengambil sebiji, lalu menyuapkannya ke mulut suaminya. Marjuki menolaknya. 

“Ya, memang aku yang ngidam. Dan ngidamku adalah… menyuapimu dengan jambu kelampok,” katanya tersenyum gembira. 

Kemudian Nuryati menceritakan kepada suaminya bahwa ia sebenarnya tahu bahwa jambu kelampok belum musim berbuah. Katanya lagi, ia hanya ingin menguji suaminya. Calon seorang ayah. 

*

“Itulah sebuah cerita bahwa ayahmu sangat menyayangimu,” kata Ibu. 

Aku diam. Teringat ayah, Marjuki, yang beberapa bulan terakhir ini, aku sering cekcok dengannya. Dan memuncak kemarin di waktu pagi. (*)