Consulting
2 minggu lalu · 85 view · 3 min baca menit baca · Cerpen 32368_90672.jpg
Foto: Pixabay

Buah Cerita, Kepunyaan Kita

Kemarin, Mat Ji’i mendapat kiriman sebuah paket berbungkus plastik warna merah. Isinya adalah buah tangan dari kawan lama yang habis melancong hampir sebulan ke negerinya Bang Putin, Negeri beruang merah yang letaknya cukup jauh, di semenanjung timur sana.

Selain buah tangan, Ji’i juga berkesempatan mencicipi manisnya buah cerita. Kawannya itu bercerita tentang kehidupan kota dan kehidupan desa – antara negerinya bang Putin dengan negeri tercinta ini. Kawan itu sebenarnya tidak membanding-bandingkannya. Ia hanya bertutur tentang apa yang ia rasakan di sana, selain rasa dingin yang meliuk-liuk di urat nadi. Kekira begini isinya.

“Iyaa… di sana bagus-bagus deh, mereka beneran jaga gedung-gedung peninggalan sejarah. Seriusan. Keren! Tata kotanya artistik banget.”

“Setelah pulang ke Jakarta berasa beda banget. Di Indonesia itu kita hidup kayak dari pagi sampai malem kerja. Terus apa-apa hiburannya di mall, jatuhnya jadi konsumtif, mau main ke taman yang bagus aja harus masuk mall. Bayar parkirlah. Inilah. Itulah. Apa-apa mahal! gitu deh pokoknya,” kata kawan tersebut memantik cerita.

Ji’i yang belakangan ini sering ngopi santai di utara Jakarta paling ujung, mencoba mereka-rekanya. Ia membayang-bayangkan cerita si kawan itu. Sambil mengusap-usap dagu dan dahi yang mengerut, ia pun bersuara lirih.

“Macam betul. Kontras banget dengan Jakarta,” Ji’i berkesimpulan.

***

Jika diperhatikan seksama, Jakarta hari ini sudah jauh melaju meninggalkan manusianya. Entah berasal dari planet mana penguhuni Jakarta hari ini?  

Kawasan cagar budaya Condet yang dulu sempat tersohor hanya mampu dipertahankan tak lebih dari satu generasi (30 tahun). Pohon-pohon buah yang sempat menjadi mascot Jakarta, berubah jadi beton-beton dan mengubur akar sejarah. Warung Mpok Ipeh, Cing Indun, Enyak Napiun yang biasa menjual buah dan panganan khas betawi, kalah telak oleh makanan siap saji kepunyaan Paman Sam dan teman-temannya yang tokonya ada di setiap pengkolan.

Semua orang juga tahu bahwa setiap kota harus berwajah baru dan serba baru. Tapi apa harus sampai mengubur narasi masa lalu. Petuah dan cucu-cucu yang tidak sebanding, apa cukup jika harus bicara ‘dulu begini’, ‘dulu begitu’. Kota tanpa narasi adalah kota mati.

Lagi pula siapa peduli masa lalu. Memangnya siapa sekarang yang masih sudi memperbincangkan masa lalu. Orang berkelahi mati-matian untuk menjadi yang terdepan. Mereka sengaja membiarkan jejaknya menjadi fosil.

Yang paling penting bagi Kota Jakarta hanya pendapatan ekonomi. Kue apa yang bisa didapat dari pengembang A. Berapa yang bisa dimaksimalkan dari hasil penjualan kendaraan jenis ini-itu. 

Kue rasa apa kiranya jika proyek A,B,C,D dilaksanakan. Siapa dapat apa? Siapa dapat berapa?. Sejak lama Balaikota terus mendorong-dorong Jakarta untuk menjadi kota kelas dunia. Entah Si Marhaen dan Si Suta dapat apa?

***

Si kawan yang punya buah cerita itu ternyata makin ke sini makin semangat bertutur. Rupanya ia tahu, Ji’i sangat serius menyimaknya.

“Kalau Saint Petersburg dan Saratov fasilitas umumnya bagus. Aku suka. Taman-tamannya aja keren banget dan kulihat mereka tuh lebih menikmati hidup. Banyak orang di sana jarang punya mobil dan mereka tidak pakai klakson. Jadi tenang banget kota-kotanya.”

“Mereka itu benar-benar tau cara merayakan hidup, seperti liburan hari anak nasional aja beneran dirayain. Kalau di Indonesia tanggal merah orang pada mager di rumah. Paling ke mall. Kalau orang sana, mereka bikin acara dan bawa anak-anaknya ke taman kota. Di Moscow sedikit lebih sibuk kotanya, tapi di sana juga banyak taman. Mereka bisa beromantis ria bersama orang terkasih, atau sekedar melepas penat sehabis kerja.”

Ji’i awalnya hanya berfikir “Ahh… paling seluas RPTRA atau taman menteng, di sini juga banyak kali.” Tapi setelah meng-klik Mapiung.com sontak Ji’i terkejut ketika tau Jakarta hanya mempunyai ruang terbuka hijau selebar 9% dari total wilayah. Padahal 30 tahun lalu kota ini masih punya 25,85%. 

Lucunya, untuk pengembalian fungsi lahan setiap tahun Pemerintahnya melakukan penggusuran. Pada 2015 kemarin saja ada 113 lokasi ilegal digusur, tapi bersamaan dengan itu ada 35 apartemen baru dengan 172.658 unit berdiri kokoh. Setahun berikutnya ada 4 Mall baru berdiri di lahan seluas 93 hektar.

“Loh itu kan dulu, sekarang?”

“Justru sekarang lebih-lebih gila!”

“Cek lokasi kita, di mana ada pemugaran cagar budaya. Di mana ada bikin taman baru,” tanya Ji’i pada diri sendiri karena ia binggung harus bertanya pada siapa.

Banyak orang Jakarta tidak bisa menikmati Jakarta. Kerja pagi sampai malam. Berangkat kena macet. Pulang macet-macetan. Setiap hari berkutat menjaring nasib. Senin ketemu senin, setiap waktu, dan selalu begitu. Entah seperti apa Jakarta di ulang tahunnya ke-500 nanti.

***

Hari semakin sore. Kemacetan mulai terlihat di jalan-jalan sejauh pandangan mata. Ji’i masih duduk santai disebuah kursi hitam yang menghadap ke arah matahari terbenam. Tangannya terus mengelus-elus dagu sambil sesekali meneguk kopi. 

Ia teringat seniornya, Mas Seno yang sering memberinya peringatan, “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan. Ketakutan datang terlambat ke kantor. Tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”

Artikel Terkait