“Saya gak terima, anak saya disebut anak berkebutuhan khusus!” Begitu isi pesan WA yang masuk ke Handpone wali kelas 2. Dan tak cukup di situ, orang tua siswa tersebut langsung menelpon dan marah-marah ke gurunya.

“Orang tua Fany bilang bu guru melakukan kesalahan besar dengan memberi label Fany sebagai Anak ABK!” celoteh wali kelas 2 menambahkan. Dia kelihatan takut, panik, dan bingung menghadapi orang tua siswa seperti itu.

Dari cerita tersebut, apakah betul wali kelas 2 melakukan kesalahan besar? Apakah salah anak dikatagorikan sebagai anak ABK? Atau malah orang tua Fany yang salah karena ketidakpahaman? Kenapa gak terima dan merasa tersinggung? Atau ini semata-mata hanya masalah komunikasi?

Kejadian ini adalah suatu contoh real, kondisi yang ada di salah satu sekolah dan besar kemungkinan ada juga kasusnya di banyak sekolah lainnya. Tentu ini akan menjadi masalah yang berpengaruh pada hubungan harmonis antara orang tua siswa dengan guru.

Tidak terima dan ketersinggungan orang tua merupakan hal yang wajar. Karena orang tua merasa anaknya baik-baik saja, dalam kondisi normal sama dengan anak lainnya. Dan ketidakmampuan anak dalam belajar lebih cenderung karena semata-mata masalah belajar biasa.

Ketika anaknya dianggap anak ABK, tentu orang tua akan merasa kaget, syok, dan orang tua merasa diposisikan memiliki anak yang tidak normal, berbeda dengan anak lainnya.

Jelas orang tua tidak terima, apalagi orang tua yang masih memiliki persepsi bahwa ABK itu aib/memalukan atau sesuatu yang buruk dan merasa alergi dengan istilah tersebut. Ya konotasinya negatif gitu…, persepsinya negatif terhadap anak ABK.

Persepsi tentang Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Berarti ini masalah persepsi juga. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak yang memiliki kebutuhan secara khusus, berbeda dengan kebutuhan anak regular lainnya di dalam kelas. 

Hal ini bisa terjadi karena anak tersebut memiliki hambatan tertentu dalam dirinya, sehingga dengan hambatan ini anak membutuhkan layanan tertentu untuk mengatasi hambatannya.

Jelas ini berbicara tentang kondisi hambatan anak dalam belajar. Apakah hambatan ini aib? Apakah berbeda dengan anak lainnya pun sesuatu yang memalukan? Sejatinya anak itu unik, karena setiap anak memiliki potensi, kebutuhan, bakat tertentu dan berbeda satu sama lainnya.

Perbedaan di antara mereka juga adalah keunikan tersendiri. Nah ini harus disadari oleh guru dan orang tua. Bagaimana pun guru dan orang tua harus memahami kondisi hambatan itu. Hambatan dari dalam diri anak (intern) atau di luar diri anak (ekstern)/lingkungan.

Hambatan dalam diri anak (intern) bisa berupa hambatan perkembangan, seperti hambatan motorik, kecerdasan, konsentrasi, bahasa, komunikasi, emosi, social, dan lain-lain.

Hambatan di luar diri anak (ekstern) meliputi faktor lingkungan, seperti lingkungan belajar yang tidak mendukung, suasana belajar di kelas, sarana prasarana belajar, dan lain-lain.

Kondisi hambatan dan kebutuhan belajar anak ini perlu diinformasikan kepada orang tua dalam rangka membangun persepsi bersama, menanamkan simpati dan empati orang tua, sehingga orang tua mampu memahami kesulitan anak dalam belajar.

Persepsi orang tua dan guru harus sama dalam mensikapi anak ABK. Bahwa ketika guru sudah menemukan hambatan anak sejak awal, itu suatu langkah awal yang baik untuk penanganan selanjutnya.

Anak ABK atau bukan, tidaklah terlalu penting. Karena substansinya adalah menemukan anak memiliki hambatan atau tidak. Hambatannya apa? Apakah hambatannya di aspek perkembangan? Atau hambatan di aspek lainnya kaitan dengan pola asuh? Bagaimana cara penanganannya?

Komunikasi guru dan orang tua

Hambatan anak dalam belajar harus dikomunikasikan oleh guru, dengan harapan  komunikasi yang baik akan membangun persepsi yang baik dan sama tentang kondisi anak ABK. Sehingga guru dan orang tua memiliki komitmen yang sama untuk penanganan dan membantu anak keluar dari kesulitan yang dialaminya.

Tapi memang guru pun harus berhati-hati dalam menyampaikan kondisi tersebut. Guru pun harus menjaga dan berhati-hati pula dalam memberikan label tertentu pada anak, khawatir ini nanti akan mengintimidasi anak dan orang tua. Anak dilabel autis, disleksia, atau tuna grahita (hambatan kecerdasan), dan lain-lain.

Ketika guru terburu-buru menyampaikan kondisi anak ABK dan tanpa disertai dengan penjelasan lebih lanjut secara mendalam, maka respons orang tua bisa saja di luar ekspektasi guru. Hingga guru disalahkan, alih-alih ingin membantu orang tua.

Lumrah juga sebenarnya, apabila nanti respon orang tua beragam. Respon baik, kurang baik/menolak, atau mungkin datar biasa-biasa saja, itu adalah fakta.  Tapi tetap saja komunikasi sebagai jembatan penghubung untuk menemukan solusi. 

Respon orang tua terhadap anak Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Perlu dibedah lebih lanjut tentang respon orang tua, yaitu ada yang tidak menerima dan memungkiri, ada yang tidak terima dan menyembunyikan anaknya, ada yang menerima tapi diabaikan, ada yang menerima dan bingung harus berbuat apa, dan ada juga yang menerima dan mencari solusi yang baik cara penanganannya.

Respon orang tua ini sangat penting karena akan menentukan keberlangsungan layanan dan penanganan selanjutnya. Bisa nanti guru memberikan saran untuk konsultasi dengan psikolog atau klinik terapis tertentu. Atau lebih baik lagi, apabila guru dan sekolah tersebut sudah tahu dan paham cara penanganannya.

Level orang tua yang sudah menerima dan mencari solusi untuk penanganan anak akan lebih aktif berkomunikasi dengan guru dan pihak lainnya di luar sekolah untuk melakukan intervensi/terapi hambatan anak tersebut.

Sejatinya ini akan membangun kolaborasi yang baik antara guru dan orang tua untuk mengatasi hambatan perkembangan anak, sehingga layanan yang diberikan dapat mengatasi hambatan/kesulitan belajarnya.

Nah dalam batas ini, apakah ini sesuatu yang merugikan anak dan orang tua ataukah sebaliknya membantu anak dan orang tua untuk mengatasi kesulitan belajarnya?

Pada akhirnya guru, orang tua, dan masyarakat dituntut untuk merespon secara bijak keberadaan anak ABK. Karena mereka ada di tengah-tengah komunitas pembelajar di sekolah dan ada di dalam komunitas masyarakat. 

Sikap saling menyalahkan bukan bagian dari solusi, akan tetapi membangun lingkungan yang ramah, nyaman, kondusif dengan sikap dan persepsi yang baik terhadap anak ABK adalah pilihan terbaik untuk anak ABK belajar dan mengatasi kesulitannya.