“Bu Guru, apakah saya memang bodoh?” pertanyaan itu terlontar dari mulut seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun. Sebelum saya menjawabnya, saya balik bertanya.

“Kenapa kamu berpikir begitu?”

“Mama Papa yang bilang”

“…”

***

Pertanyaan itu bermula dua minggu sebelumnya. Suatu hari, ada seorang ibu yang meminta saya mengajari les untuk anaknya. Saya tak kuasa menolak, selain karena cukup kenal dengan ibu tersebut, saya juga iba mendengar cerita bahwa anaknya sulit mengerti pelajaran di sekolah. Ibunya mengaku sudah kehabisan stok rasa sabar menghadapi anaknya yang katanya hanya senang bermain saja.

Akhirnya saya menyanggupi, saya datang dua kali seminggu ke rumahnya. Seiring berjalannya waktu saya menjadi semakin dekat dengan sang anak. Ia duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar, anaknya pendiam dan senang menyendiri. Sepanjang pengamatan saya ia memang agak sulit konsentrasi pada pelajaran tertentu, terutama matematika.

Ibunya pernah memberitahu saya nilai yang tertera di rapornya, rata-rata nilainya 75, tetapi tugas-tugas di bukunya dihiasi dengan nilai 40, 50, 60. Tak pernah lebih. Satu-satunya yang mencolok hanyalah pelajaran Seni Budaya yang mencapai 90.

“Ini loh bu guru, ampun deh pusing, nilainya segitu terus,” gerutu sang ibu.

Saat hanya berdua dengan sang anak, ia bercerita kalau ayah dan ibunya kerap kali memarahinya. Ia disuruh belajar, berhitung, dan menghafal rumus yang tak pernah dimengertinya sama sekali.

Saya kemudian bertanya mengapa ia tidak suka pelajaran sekolahnya. Tapi ia hanya terdiam dan menjawab dengan mengangkat bahu. Saya pun mencoba untuk mengikuti ritmenya belajar, ia harus belajar pelan-pelan dan diselingi dengan hal yang menjadi kesukannya: menggambar.

Ia pernah menunjukkan “harta karun” miliknya, sebuah kotak besar berisi gambar-gambar yang pernah dibuatnya. Saya begitu takjub melihatnya, gambarnya begitu bagus. Ia bisa menggambar anime dan merangkainya menjadi komik yang asyik dibaca.

“Jangan bilang mama papa ya,” ia berbisik. Ia bercerita terakhir kali ayahnya sempat marah-marah dan berniat membuang kertas-kertas gambarnya. Beruntung ia masih bisa menyelamatkan gambarnya dengan berjanji akan memperbaiki nilai-nilai sekolahnya.

Saya miris mendengarnya. Saya jadi ingat sebuah buku Argentina berjudul “When I Became a Nun” yang ditulis oleh Cesar Aira-dan sempat diulas oleh Eka Kurniawan. Dalam bukunya mengisahkan tentang seorang anak berusia enam tahun yang tidak pernah makan es krim selama hidupnya, selama itu ia hanya mendengar cerita tentang kenikmatan eskrim dari ayahnya. 

Kemudian ayahnya bekerja keras untuk membelikan eskrim untuk anaknya. Sampai akhirnya, sang ayah mampu membelikan eskrim untuk anaknya, dengan harapan sang anak akan sangat senang dengan rasa eskrim yang enak.

Tapi sang ayah salah, ketika mencobanya pertama kali, sang anak tidak suka dengan rasa eskrim. Malah menurutnya, es krim adalah makanan mengerikan yang pernah dicicipinya.

Di sini  kita belajar tentang sesuatu yang disebut otoritas pengetahuan. Si ayah memaksa otoritas pengetahuannya tentang rasa es krim yang menurutnya enak pada sang anak. Ketika sang anak menolak, ayahnya merasa otoritas pengetahuannya diusik.

Orang dewasa terkadang tidak sadar apa yang menurut mereka baik, enak, indah, akan berbeda dengan yang dirasakan anak.

Orang dewasa kadang memaksa anaknya mengejar nilai untuk pelajaran yang tidak diminati anak, tetapi justru mengabaikan sesuatu yang diminati anaknya.

Andai saja orang tua anak muridku memahami putrinya, dengan kemampuan finansial yang mereka miliki mereka dapat mendukung hobi anaknya dengan mengikutsertakan les menggambar misalnya, atau minimal mengakui dan mendukung aktifitas sang anak. Dalam bayangan saya, anaknya mungkin di masa depan akan menjadi komikus hebat.

Saya memang seorang guru, tapi bagi saya anak-anak tak harus pintar di semua pelajaran, apalagi kalau tujuannya hanya untuk nilai semata. Kenapa kita terlalu fokus pada apa yang buruk menurut kita, sementara menutup mata terhadap potensi yang dimiliki anak-anak kita.

Saya jadi ingat diri sendiri di masa lalu, sejak SD hingga lulus SMA saya selalu terobsesi menjadi siswi terpandai dan nilai tertinggi. Saya belajar mati-matian, siang dan malam. Alhasil nilai-nilai saya memang bagus, kecuali untuk satu hal: pendidikan jasmani dan kesehatan.

Saya tidak pernah bisa memasukan bola basket ke dalam ring, tidak becus memukul bola voli, tenggelam saat berenang. Saya sudah berusaha, tetapi kemampuan saya tidak meningkat. Lantas apa saya sedih? Tentu. Saya pernah mendengar motivator hebat mengatakan: “Kalau dia bisa, kenapa saya tidak bisa?” itu menjadi lecutan bagi saya agar terus belajar mengejar ketertinggalan. 

Tapi saya lupa satu hal, bahwa manusia diciptakan tidak sama. Kita diciptakan berbeda, tugas kita mengenali potensi dan mengembangkannya dengan sebaik-baiknya.

Nilai bukan satu-satunya alat ukur keberhasilan. Justru banyak orang yang demi mendapat nilai bagus rela melakukan apa saja, menyontek dan berbuat curang. Coba lihat, ada berapa banyak orang pintar akademik tetapi begitu menggunakan kecerdasannya untu mengkorupsi uang rakyat?

Ada berapa banyak pintar yang membodohi petani miskin dengan menipu harga jual padi? Ada berapa banyak orang pintar yang membakar hutan dan tanpa peduli habitat hewan?

***

“Jadi, bu guru, apakah saya memang bodoh?” tanya gadis kecil itu lagi.

Saya segera memeluknya dan mengusap kepalanya.

“Tidak nak, mama dan papamu hanya masih belajar untuk memahamimu.”