Rumahnya sederhana, ukuran 5x10 meter. Bu Atun namanya. Suaminya ialah seorang pedagang buah. Segala macam apapun buah. Jika musim rambutan, rambutan ia jual. Jika musim durian datang, durian ia perdagangkan.

Intinya ia ialah pedagan buah yang serba musiman. Pak Tomo, itulah nama yang dipilih orang tuanya untuknya. Perawakannya tinggi, agak lumayan kurus, berkulit sawo matang. Profilnya ramah, penyabar dan bersahaja.

Saban hari, sehabis subuh ia bergegas menerjang gelapnya fajar membawa barang-barang dagangannya ke pasar. Ia menyewa mobil angkot langganannya untuk membawa seluruh barang yang siap ia jual. Istrinya masih tidur, Pak Tomo tak menegur. Membangunkannya sama halnya membangunkan macan yang tengah tidur.

Sudah menjadi rahasia umum, Bu Atun istrinya ialah wanita yang keras dan gampang tersulut emosinya. Mungkin ia tergolong makhluk dengan sumbu pendek, mudah meletup amarahnya. Tapi untungnya ia memiliki suami yang sangat penyabar. Entah mengapa Tuhan terlalu baik padanya, memberi pasangan hidup yang sedemikian baik, sabar dan giat bekerja. Hampir warga sekampung iri melihatnya, seakan tak terima suratan takdir yang menerpanya.

 “Tuh, lihat betapa giat dan sabarnya Pak Tomo,” Bu Sri berseloroh pada Bu Ayu yang tengah sama-sama berjalan pulang sehabis jamaah Subuh.

 “Iya, bener. Pagi-pagi begini ia sudah sibuk menyiapkan barang-barang dagangannya sendiri, tanpa bantuan istrinya.” Jawab Bu Ayu ketus.

“Untung bukan aku suaminya, kalau aku udah kudamprat saja punya istri seperti Atun itu.” Bu Sri menimpali.

Bu Atun biasanya bangun saat matahari telah menjulang, hampir sangat jarang ia menjumpai fajar. Ia kerap tertinggal saat di mana matahari memulai sinarnya dengan nampak malu hingga gagah meninggi di ufuk timur.

Mungkin karena ia tak memiliki anak, ia merasa tak mempunyai beban dan tanggungan. Meski ia memiliki seorang suami, toh pikirnya ia tak perlu harus melayani kebutuhannya. Masa bodoh, toh suaminya tak pernah sekalipun protes. Ia tetap mau bekerja, tak pernah mengeluh dan uang belanja tetap mengalir ke kantongnya.

Tiap bulannya, ia minimal membeli dua potong baju dari hasil keringat suaminya. Mau makan apa saja, selalu bisa terpenuhi. Pernah suatu kali ia merengek minta dibelikan gelang, meski di tangannya telah berjejal empat buah gelang.

Tapi pak Tomo, menolak dengan halus permintaan istrinya. Alasannya karena dagangannya sepi, hasil penjualaanya tak seberapa. Maklum, saat musim ajaran baru sekolah, pasar mendadak sepi. Seakan manusia-manusia lupa arah jalan menuju pasar.

Mendadak manusia terasa berat melangkahkan kaki menuju pasar. Apakah manusia mampu memenuhi seluruh kebutuhannya tanpa membeli dari pasar. Entahlah.

“Maaf buk, pasar sepi tidak kayak biasanya.” Kata pak Tomo lirih.

“Alah, tidak usah banyak alasan pak. Aku hanya minta gelang saja tidak kamu beri. Apa sudah ada wanita lain di belakangku?”. Sergah Bu Atun dengan nada tinggi.

“Astaghfirullahal ‘adzim buk, mengapa kau tega menuduhku seperti itu ?. Sungguh tidak ada wanita lain selainmu buk.” Jawab pak Tomo mengiba.

“Ya, kalau benar seperti itu. Mengapa kau menolak permintaan istrimu satu-satunya ini?”

 “Baiklah bu, akan kubelikan, tapi tolong beri aku waktu. Mungkin seminggu lagi, akan aku belikan gelang itu”. Nampak wajah Pak Tomo pucat.

“Nah, begitu dong pak. Begini memang caranya membahagiakan istri.” Bu Atun nampak sangat puas oleh jawaban Pak Tomo. Senyumnya mengembang. Kebahagiannya mulai membuncah. Ia kemudian berlalu meninggalkan pak Tomo.

Kadang aku sering bertanya dalam hati, entah mengapa pak Tomo begitu sabar menghadapi istri semacam itu. Tak pernah ia berkata kasar kepada istrinya, meski kelakuan istrinya begitu keterlaluan. Ia tetap saja, menemani dan mengasihi istrinya.

Konon, menurut desas-desus warga, pak Tomo tak punya pilihan sebab ia sadar bahwa ia tak mampu memberi Bu Atun keturunan. Itu sebabnya ia merasa tak berdaya di hadapan istrinya, dan memilih menuruti semua keinginan istrinya tanpa pernah mampu berkata kasar maupun berbuat hal yang bisa menambah luka seorang bu Atun.

Seminggu telah berlalu semenjak janji itu telah diijabah oleh pak Tomo untuk istrinya. Mau tak mau pak Tomo harus menepatinya. Ia membelikan gelang yang diinginkan oleh istrinya, meski ia diam-diam perlu meminjam uang kepada mitra kerjanya.

Pak Tomo tak punya pilihan, selain mengusahakan sekuat tenaga keinginan bu Atun. Baginya, bu Atun ialah wanita yang sangat istimewa, tak tega ia sakiti hatinya. Keinginan bu Atun seakan serupa dengan titah Tuhan, yang berubah dosa seumpama ia menolaknya.

“Ini buk gelangnya.” Pak Tomo menjulurkan gelang dari tangannya.

“Wah, bapak ternyata benar-benar menepati janji. Gelangnya lumayan”. Bu Atun meraih apa yang ia minta.

Kemudian bu Atun langsung meninggalkan begitu saja pak Tomo. Tanpa mengucapkan terimakasih ataupun ucapan pujian untuk suami yang telah memberi apa yang ia inginkan. Sambil memakai gelang yang kini telah berbaur dengan yang lainnya.

Di tangannya, kini telah berjejal lima gelang. Anting, kalung, cincin telah terpasang rapi di bagian-bagian yang semestinya. Ia bersiap pergi ke pasar, entah untuk belanja atau hanya sekedar untuk memamerkannya. Atau memang untuk keduanya. Memiliki suami demikian bukan malah membuatnya semakin bakti, malah ia semakin menjadi-jadi.

Hari demi hari berganti. Tak ada yang berubah, selain usia yang semakin bertambah. Bu Atun yang sibuk dengan dunia keegoisan serta hedonismenya, lalu Pak Tomo yang sibuk dengan pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan istrinya. Meski kata cukup seakan telah sirna dari kamus hidup Bu Atun.

Hingga hari itu terjadi, sebuah kecelakaan maut yang menimpa Pak Tomo. Mobil carteran yang ia sewa sehari-hari, tertabrak oleh bus malam yang melaju kesetanan. Ia dan sopir angkot meninggal seketika, mobilnya terpelanting puluhan meter akibat dihantam laju bus.

Bu Atun seakan tak percaya atas apa yang menimpanya, menimpa suaminya. Suami yang begitu mengasihi dan mencintainya kini telah pergi untuk selamanya. Tak ada lagi orang yang bekerja mencukupi kebutuhan serta keinginanannya.

Tak ada lagi baju baru tiap dua minggu, serta tak ada perhiasaan anyar yang mudah ia sasar setiap kali ia menginginkannya. Semua kini tinggal kenangan, ia seakan belum siap menjalani hari-hari pahit dalam hidupnya, tanpa Pak Tomo di sisinya.

Namun, semua itu tak bertahan lama. Kesendirian Bu Atun tak genap berusia setengah tahun. Datanglah Pak Joni, seorang lelaki duda tanpa anak. Ia ialah seorang sopir panggilan. Menyupir hanya jika ada yang memerlukan, tak punya tuan majikan yang sehari-hari bisa ia andalkan. Akan tetapi, Bu Atun mau menerima pak Joni dengan kondisinya yang seperti itu.

Bu Atun lebih memilih hidup bersama seorang yang mau menafkahinya, entah seberapa pun itu. Sebab baginya, neraka nampak nyata di hadapannya jika ia harus bekerja untuk dirinya sendiri, hal yang terasa ganjil dalam hidupnya. Toh, ia tak memiliki seorang pun anak.

Selama ini, ia hanya menggantungkan hidup kepada pak Tomo. Sepeninggalnya, otomatis kehidupan Bu Atun berubah derastis. Lalu jika ada orang yang mau mengawininya, tentu ia tak akan berfikir panjang untuk menerimanya.

Hidup bersama pak Joni jelas sangat berbeda jauh dengan saat hidup bersama pak Tomo. Kini hidupnya pas-pasan, memiliki suami yang tak mesti kerjanya memang tak bisa disamakan dengan suami yang memiliki pekerjaan tiap hari. Bu Atun tak dapat berbuat banyak, suami barunya bukan suami yang mudah jinak layaknya suami lamanya. Mereka sama-sama keras. Tak ada yang mampu menuntut kepada satu sama lainnya.

Kini tiap hari, Bu Atun selalu bangun pagi. Bukan untuk bekerja, melainkan untuk mengenang waktu. Waktu dimana pak Tomo masih ada, di waktu seperti itulah pasti pak Tomo tengah sibuk menata dagangannya, sendirian tanpa pernah sekalipun meminta bantuan, bahkan kepada istri yang selalu ia penuhi segala kebutuhan serta keinginannya.

Perhiasannya kini telah habis ia jual, untuk sekedar menukar uangnya dengan beberapa kantung beras serta lauk pauknya. Ia menyesal tak mensyukuri serta membalas kasih serta budi baik suaminya. Hal lain yang menjadi penyesalan terberatnya ialah ia tak memiliki seorang pun anak.

Sebetulnya ia bisa memiliki anak, hanya saja selama ini ia selalu menggugurkan janin di rahimnya. Ia menyembunyikan semua itu kepada pak Tomo. Malahan ia pernah menyuap dokter yang memeriksanya serta pak Tomo, untuk mengatakan yang mempunyai permasalahan ialah pak Tomo.

Dengan demikian, pak Tomo akan tunduk kepada dia tanpa mampu menolak segala keinginannya, karena ia sadar bahwa ia memiliki masalah dalam dirinya. Semua itu Bu Atun lakukan demi keserakahannya, ia ingin semua hasil kerja keras pak Tomo hanya mengalir kepada dirinya tanpa pernah terbagi secuil pun kepada yang lain, termasuk keberadaan anak umpamanya.

Ingin memiliki anak sekarang pun sudah tidak mungkin, sebab usianya kini telah paruh baya. Kini, di hari tuanya, bu Atun hanya bisa menghiasinya dengan penyesalan, entah ia mampu mengenal kata sudah atau tidak.

Kediri, 25 Februari 2015