Hari Kamis, 9 Juni 2021 adalah hari yang dinanti-nantikan adik saya. 

"BTS Meal bakal rilis. Duh, pasti McD bakalan ramai nih. Gimana ya?" ujar adik saya Rabu malam, 8 Juni 2021 sepulangnya dari kantor. Saya memang penikmat baru untuk lagu-lagu BTS. Bayangkan saja, saya berkali-kali memutar lagu 'Just One Day' yang ternyata rilis bertahun-tahun lalu. Saya juga menyukai satu lagu yang saat ini sedang menemani saya menulis. Judulnya 'Anpanman'. 

Dilansir dari dreamers.id, Anpanman adalah tokoh utama dari dalam serial buku bergambar oleh kartunis Jepang bernama Takashi Yanase. Serial ini  dibuat kartun animasi dan telah ditayangkan di NTV Jepang pada 1988. Kartun pun akhirnya populer di Korea pada tahun 1990-an.

Anpanman digambarkan sebagai manusia roti kacang merah dan merupakan sosok pahlawan terlemah di dunia. Dia tidak memiliki kekuatan super seperti Batman atau Superman. Dia merupakan pahlawan yang membantu mereka yang membutuhkan dan memberi bagian dari kepalnya yang terbuat dari roti kacang merah pada mereka yang lapar.

Seperti yang saya singgung di awal, adik saya sudah membaca situasi bahwa begitu BTS Meal rilis, dipastikan akan terjadi keramaian di McD. Adik saya sampai harus mendata, McD mana yang kira-kira tidak akan ramai. Dia berakhir pada kesimpulan, "Ah ini mah, semua bakal ramai. Mau drive thru atau pakai ojol, tetap rame."

Saya memiliki asumsi (sangat bisa salah) rata-rata ARMY tentu adalah kelompok kelas menengah. Artinya, mereka tentu sudah cukup paham bahwa saat ini masih pandemi, sehingga tidak boleh terlalu berkerumun. Lalu apa dampaknya? Yasudah toh bisa pesan lewat ojol. Kondisi ini tentu menandakan akan terjadi keramaian luar biasa di setiap McD. Para ojol yang mungkin lelah menunggu bisa saja cepat emosi karena harus menunggu antrian yang sangat panjang. Itu baru ojol, belum dengan pegawai McD yang mungkin saja juga tergopoh-gopoh dan kelabakan karena harus menyiapkan banyaknya pesanan. Kita belum mengukur potensi kecelakaan dalam bekerja, misal, kecipratan minyak goreng karena tertekan harus merespon tumpukan pesanan. 

Saya salut karena sebelum rilis kawan-kawan ARMY ini telah membuat inisiatif untuk berbagi makanan dengan ojol. Ini adalah tanda kecil apresiasi, meski sekali lagi, konsekuensi dari pesanan berlebihan ini tidak bisa dimitigasi oleh kawan-kawan ARMY. Hal ini tentu terjadi karena mitigasi tersebut juga tak sebelumnya dikomunikasikan oleh pengelola yakni McD Indonesia, terutama dalam menjamin protokol kesehatan dan pengendalian kerumunan. Terbukti hari ini DKI Jakarta Satpol PP pun menutup sementara waktu lima gerai McDonald’s Indonesia.  Di Semarang, Jawa Tengah, Satpol PP juga menutup sementara lima gerai McDonald's. Semua ini terjadi karena kerumunan dan antrian yang terlampau mengular.

Medsos hari ini pun ramai dengan foto-foto makan bersama BTS Meal. Sebagian lagi banyak yang hanya memberi komentar bahwa ARMY tidak sensitif terhadap pandemi, dan tudingan-tudingan lainnya. Saya paling tergelitik dengan pernyataan-pernyataan "Ini kenapa ARMY lebay banget?" Atau "Maaf ya ARMY, karena kalian kami gak bisa makan di McD" atau misalnya "Duh, jangan bully aku ya ARMY."

Pernyataan-pernyataan ini sekalipun benar dan kontekstual namun bagi saya sangat menganggu. Mengapa? Sebagai penikmat lagu-lagu BTS, terlalu naif jika saya berdiri bersama para pengkritik tanpa memberikan solusi. Padahal saya saat ini saja sedang mendengarkan lagu BTS. Kedua, saya sangat mengamini pernyataan ujaran almahrum dosen saya sewaktu kuliah. Kala itu kita berdebat tentang mengapa orang-orang harus menghukum Ahmad Zakky Bukalapak karena mengutarakan pendapatnya yang mengkritik pemerintah. Terjadi polarisasi politik saat itu hingga membuat Bukalapak menderita dengan kampanye #UninstallBukalapak. Saya ingat persis, betapa perilaku uninstall ini menandakan ketidakdewasaan dalam demokrasi dan betapa tidak rasional cara kita bernegara dan berinteraksi. Almahrum dosen saya, Pak Widarto Adi mengatakan;

"Semua konsumen itu tidak rasional."

Sejak itu, saya cenderung mudah memberikan apologia kepada konsumen yang perilakunya tidak rasional. Termasuk jika sebagian orang menilai perilaku ARMY hari ini tidak rasional. Menjadi konsumen loyal saja sudah sangat memberikan efek terhadap sebuah produk atau jasa. Apalagi menjadi fandom dari grup musik tertentu. 

Hari ini justru saya tergelitik dengan ungkapan "ARMY jangan bully aku." Sebagai orang yang bukan masuk kelompok ARMY namun setia mendengarkan lagu-lagu BTS, ujaran ini menarik. Apakah memang benar, kelompok fandom sangat rentan melakukan bully atau mendiskriminasi yang tidak sama dengan mereka? Kedua, mengapa pula orang yang bukan ARMY harus mempertegas dirinya dengan diksi 'jangan bully aku' padahal belum tentu juga mereka akan dibully, bukan begitu?

Berdasarkan temuan tim saya di MOSI.ID, seorang Digital Anthropologist yang merupakan ARMY yaitu Karlina Octaviany mengatakan umumnya penggemar K-Pop adalah perempuan. Dalam bangsa yang patriarki seperti Indonesia, perempuan dianggap tidak rasional, sehingga apapun yang dibeli (termasuk mungkin juga BTS Meal ini) menjadi tindakan yang emosional semata. Padahal, dosen saya mengatakan tidak ada urusan perbedaan gender dalam persoalan konsumsi. 

Pada dasarnya semua konsumen apapun gendernya memang irasional. Jika perempuan membeli BTS Meal adalah pemborosan, bukankan berbanding lurus dengan laki-laki yang sudah tahu gajinya dipotong tapi tidak memangkas konsumsi rokoknya? Sementara dia masih harus membiayai keluarga, misalnya, bukankah ini juga tindakan yang irasional?

Pada akhirnya saya mencoba berpikir dalam-dalam dan menemukan, media sosial memang sangat rentan melakukan polarisasi. Kita terpisah antara kubu A dan kubu B, tanpa pernah memijakkan kaki pada sudut pandang yang lain. Ini berbahaya karena artinya setelah proses Pilkada DKI, Pemilu 2014 dan Pemilu 2019, hal-hal seperti ini masih akan terus terjadi. Tak usah jauh membahas politik, ARMY dan non ARMY, penikmat BTS Meal dan yang tidak menikmati BTS Meal adalah contoh paling sederhana polarisasi ini. 

Sementara yang paling mengerikan dari polarisasi ini adalah terpecahnya kelas menengah ke bawah dalam konflik horizontal yang diakibatkan oleh kelompok kelas menengah. Sebagai contoh, tentu hari ini di banyak gerai McD terjadi salah paham atau mungkin kekisruhan antar ojol yang tak sabar menunggu, pertikaian antara pelayan McD dengan ojol. Sementara kelas menengah yang membeli bisa cukup ongkang-ongkang kaki menanti pesanan datang.

Jika kita sibuk memikirkan debat dan mengkritik lintas kubu, kita akan lupa kelompok mana yang paling rentan dan merumuskan solusi buat mereka. Padahal kelas menengah sebagai kelompok terdidik dengan akses yang lebih mudah merupakan tulang punggung merumuskan kebijakan. Dalam tangan kelas menengah inilah nasib kelompok rentan diperjuangkan. Jika cara-cara mitigasi seperti ini saja terabaikan, akan sangat sulit proses perbaikan masyarakat kita tercapai dengan cepat. 

Akhirnya saya menilai kritik 'jangan bully aku, ARMY' pun hanya memperkuat polarisasi dalam kondisi ini, bukannya memberikan solusi yang konstruktif. Polarisasi yang juga diciptakan kalangan kelas menengah lagi-lagi hanya mengkapitalisasi penderitaan ojol yang mengantri untuk membeli BTS Meal. Padahal dalam proses menanti berjam-jam dia bisa menggunakan waktu tersebut untuk pesanan atau antar jemput lain. Lagi-lagi, solusi atas eksploitasi tak muncul karena sebatas pada dialog 'jangan bully aku, ARMY.'

Saya rasa, akhirnya saya jengah dengan gaya-gaya komunikasi kita yang secara sadar dan tidak sadar memang melakukan polarisasi. Saya dulu demikian, namun belakangan saya kerap mengambil jalan sunyi dengan pengendapan yang memakan waktu sebelum mengeluarkan komentar. Bagi saya menyelamatkan kelompok rentan tak bisa tanpa kesadaran dan bantuan kelompok menengah. 

Jika narasi yang dinaikkan pada fenomena hari ini sebatas narasi tentang protokol kesehatan, artinya kita masih belum peka pada dinamika sosial masyarakat menengah ke bawah. Pada akhirnya, saya yang masih mendengarkan Anpanman ini melihat para personil BTS telah mengajak saya berjumpa dengan wajah sang pahlawan yang membelah diri untuk memberi makan orang lain. Ojol dan pelayan McD yang berjibaku hari ini adalah para Anpanman. Mereka adalah orang kecil, bukan manusia super, mereka tidak punya aset berkelimpahan. Mereka tidak punya kemewahan bekerja dari rumah, karena mereka harus berjibaku setiap hari dengan jalanan dan pesanan.

Saya akhirnya memilih tidak akan membeli BTS Meal, namun dengan setia mendengarkan lagu-lagu BTS yang memiliki makna melampaui populerisme fandom. Biarlah yang paling sejati dari dinamika hari ini adalah memori tentang mereka yang kecil dan mau memberikan diri termasuk makanan bagi orang lain seperti Anpanman.

Saya memilih jalan tidak ingin membudayakan polarisasi dalam konteks apapun, secara bertahap, agar setidaknya tensi kepercayaan dalam masyarakat meningkat. Kasih dan keharmonisan membangun masyarakat juga terwujud. Jadi, yuk, stop bully!

I don’t have biceps or pecs
I don’t have a super car like Batman
My ideal is a really cool hero
But all I can give you is just Anpan.