Hari Rabu lalu masyarakat Indonesia dihebohkan dengan membludaknya antrian driver online di hampir seluruh gerai McDonald. Hari itu McDonald mengeluarkan paket makanan BTS Meal, kolaborasi McDonald dengan BTS, boyband asal Korea. Di beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Korea Selatan paket BTS Meal tersebut sudah dimulai beberapa  waktu lalu. Sedangkan di Indonesia baru mulai tanggal 9 Juni. 

Akibat kejadian tersebut lalu banyak orang yang bertanya-tanya, mulai dari siapa BTS, apa itu ARMY, hingga keheranan mengapa para fans sangat antusias.

Yah, BTS memang sepopuler itu. Tidak hanya di Indonesia, bahkan hampir di seluruh dunia. Fandom mereka disebut ARMY. Jumlah anggotanya puluhan juta, tersebar dari Amerika sampai Afrika, dari Rusia sampai Australia. Sebagian besar dari mereka adalah kaum hawa dengan rentang usia yang sangat beragam, dari anak-anak hingga dewasa bahkan menjelang lanjut usia. Fandom BTS ini terkenal sangat loyal dan protektif kepada idolnya. 

Kesuksesan BTS merajai musik dunia tidak lepas dari peran fandom. Tiga minggu lalu BTS mengeluarkan single terbaru yang berjudul ‘Butter’. Lagu tersebut kemudian memecahkan rekor Youtube sebagai video musik yang paling banyak diakses dalam 24 jam setelah dirilis, yaitu 108 juta. Rekor ini mengalahkan lagu Dynamite, yang dirilis oleh BTS juga pada Agustus tahun lalu.

Tidak cukup hanya memecahkan rekor, satu minggu setelahnya lagu Butter menempati puncak Billboard Hot 100 selama dua minggu berturut-turut. Sebuah prestasi yang tidak main-main, mengingat Billboard Hot 100 adalah kiblat para musisi barat yang cenderung western-minded. Sejak dirilis pada tahun 1955, hanya ada 23 lagu yang berhasil menempati posisi puncak Billboard Hot 100 dua minggu berturut-turut. BTS menempatkan dua lagunya di sana, Butter dan Dynamite. Hebat bukan?

ARMY inilah yang sangat bersemangat untuk streaming lagu BTS di berbagai platform musik, seperti Youtube, Spotify, iTunes, dll. Jauh hari sebelum lagu Butter dirilis, ARMY sudah merancang strategi bagaimana supaya menembus rekor. Ada pembagian tugas, penyusunan panduan, streaming party, hingga pengumpulan dana untuk member yang tidak mampu membeli kuota untuk streaming. Beberapa ARMY bahkan rela untuk merogoh kantong lebih dalam untuk membayar spot iklan atau paid promote content di acara kampusnya. 

Pembagian tugas yang sangat well organized, apalagi mengingat anggotanya yang tersebar di berbagai negara dan tidak ada struktur kepemimpinan layaknya komunitas. Murni hanya mengandalkan volunteer. Jujur baru kali ini saya menemukan fandom serapi itu. 

Yang menjadi pertanyaan banyak orang adalah, mengapa mereka bisa semilitan itu terhadap idolnya?

Saya melihat ada empat faktor. Pertama, dibandingkan dengan industri musik barat yang fokus pada ‘menjual’ artisnya, industri K-Pop menggunakan pendekatan pendekatan personal antara idol dengan fansnya. Caranya antara lain dengan mengadakan sering acara fansign dan juga menggunakan media sosial secara aktif. BigHit, perusahaan yang menaungi BTS, sampai dengan tahun 2019 lalu rutin mengadakan acara fansign BTS. Dalam acara tersebut setiap fans diberi kesempatan untuk ngobrol langsung dengan setiap personel BTS. Kebayang kan bagaimana excitednya para fans diberi kesempatan seperti itu.

Selain fansign, penggunaan media sosial juga membantu interaksi antara ARMY dan BTS. BTS aktif menggunakan media sosial bahkan sejak sebelum debut mereka di tahun 2013. Saat itu follower mereka hanya ratusan. Ketika saat ini jumlah follower sudah mencapai puluhan juta, mereka tetap aktif berkomunikasi di sana. Selain platform sosial media mainstream seperti Facebook, Twitter, atau Instagram, mereka juga menggunakan Weverse dan Vlive. Kedua platform tersebut memungkinkan artis berinteraksi langsung dengan para fansnya. Yah, buat fans bisa chatting dengan idolnya tentu rasanya priceless banget.

BTS juga sering membagikan konten aktivitas mereka di luar panggung atau saat mereka menjadi diri mereka sendiri dan tidak perlu jaim. Mereka ingin menunjukkan walaupun mereka sangat populer, mereka tidak berbeda dengan orang lain. BTS hanyalah tujuh anak muda yang juga sering berantem, lucu, dan konyol. Sesuatu yang jarang dilakukan oleh artis Barat yang cenderung menjaga image dan seakan untouchable.

Kedua, BTS selalu mengapresiasi dan melibatkan ARMY dalam setiap wawancara atau pidato ketika menerima penghargaan. Mereka juga membuat beberapa lagu khusus tentang ARMY dan juga menampilkan ARMY dalam performance serta musik videonya. Butter salah satunya.

Kunci ketiga, BTS stan with the good things. Bukan rahasia lagi kalau para anggota BTS rendah hati dan menghormati orang lain termasuk para staf seperti cleaning service dan kurir. 

Selain itu BTS juga terkenal dermawan. Mereka sering memberikan donasi kepada yang membutuhkan. Tahun lalu mereka menyumbang $1 juta USD untuk gerakan Black Live Matters. J-Hope tahun ini menyumbang miliaran rupiah untuk anak-anak di Afrika dan juga membantu korban kekerasan anak di Korea. Para anggota yang lain juga aktif menyumbang untuk pendidikan.

Selain itu mereka juga giat menyerukan tentang self love. Pidato mereka di UN General Assembly tahun 2018 banyak mendapat pujian karena telah membuat banyak orang disadarkan tentang pentingnya love yourself and speak yourself.

Yang terakhir adalah their song is healing. Lirik lagu mereka sangat bervariasi temanya, tidak melulu tentang percintaan, tapi juga tentang childhood memories, persahabatan, kesedihan, depresi, dan masih banyak lainnya. Tapi dalam lagunya mereka juga mengingatkan tentang how to deal with the grief, bahwa setiap permasalahan pasti akan terlewati, bahwa life goes on, bahwa setiap orang itu berarti dan penting dengan perannya masing-masing.

Terlepas dari itu bagian dari marketingnya BigHit seperti dituduhkan beberapa pihak, tidak bisa dipungkiri jika BTS berhasil membantu banyak orang melewati saat-saat terburuknya. Saya membaca banyak cerita tentang bagaimana orang-orang akhirnya mengidolakan BTS. Sebagian besar cerita adalah tentang bagaimana mereka bisa melewati masa-masa menyedihkan seperti pandemi ini dengan baik karena BTS. Sahabat saya sendiri sangat bersemangat kalau memberikan ‘testimoni’ tentang BTS, bagaimana dia sangat terbantu melewati masa duka karena kehilangan adik satu-satunya oleh lagu-lagunya BTS. 

Sebagian lainnya bercerita sejak mengenal BTS mereka merasa menjadi pribadi yang lebih ceria, lebih berani berpendapat, lebih happy. Sebuah rasa yang kadang tidak bisa mereka dapatkan, pun dari orang terdekatnya.

Dengan berbagai hal tadi, ngga heran kalau para fans lalu seakan menjadi terikat secara emosional dengan idolnya. That’s like BTS is their hero. Kalau sudah seperti itu, menjadi loyal, militan, dan sangat protektif kepada idolnya seperti sebuah keniscayaan. 

Apa yang dilakukan, dipakai, dikonsumsi idol akan segera diikuti. Ngga heran kalau baju Louis Vuitton yang dipakai Jungkook sold out di puluhan negara tidak lama setelah fotonya beredar. Model sepatu Fila yang diiklankan oleh BTS ludes dalam waktu berapa jam saja sejak dirilis. Topi yang dipakai Taehyung dalam MV Butter langsung habis dalam hitungan menit. Minuman Kombucha yang diminum Jungkook dalam salah satu vlivenya langsung langka tidak lama setelahnya. Kasus McD ditutup karena kebanjiran order Rabu lalu menjadi tidak mengherankan lagi.

Bagi sebagian orang fangirling seperti itu mungkin dianggap lebay, tidak masuk akal. Tentu ada saja fans yang memang bertindak di luar nalar, tidak hanya ARMY, tapi juga fans idol lainnya. Tapi sangat banyak yang merasakan manfaat positif dari menjadi fangirl tersebut.

Mencontoh kedermawanan BTS, ARMY sering mengumpulkan donasi di berbagai project. Bulan lalu mereka berhasil mengumpulkan donasi hampir satu miliar untuk program sharemeal bagi warga Palestina. Beberapa minggu lalu ARMY India menyumbang 400 juta lebih untuk membantu penanganan Covid di sana. Awal tahun ini ARMY Indonesia mengumpulkan lebih dari 600 juta untuk korban gempa Palu dan Sulbar, dan yang terbaru berhasil mengumpulkan lebih dari 200 juta untuk program berbagi makanan dengan driver ojol dan anak yatim.

Pesan love yourself and speak yourself yang digaungkan RM dkk juga mereka praktikan. Mereka sering menyebar pesan positif kepada sesama fans dan masyarakat sekitar melalui berbagai kegiatan. Keren ya.

Akhirnya, mengidolakan seseorang atau sesuatu atau menjadi fangirling hanya cara orang untuk berbahagia. Tidak bisa kita paksakan dengan selera kita, karena semua itu menyangkut rasa. Selama hal itu bisa menebar manfaat untuk orang lain mengapa tidak kita dukung, atau jika tidak merugikan orang lain tentu tidak perlu kita kritisi. Just let them be happy.