Anggota LAM&PK UNAND
2 tahun lalu · 252 view · 3 min baca menit baca · Hukum 81360.jpg
https://www.google.co.id/

Broken Windows dan Persekusi

Praktik persekusi dalam beberapa waktu ke belakang cukup menguat di Indonesia. Pada media cetak maupun online, tidak henti-hentinya memberitakan persoalan ini. Ditambah dengan adanya gembor-gembor di media sosial yang terus menguapkan persekusi ke permukaan. 

Awalnya yang dilakukan hanya oleh beberapa orang, tapi pada saat sekarang, tindakan persekusi sudah banyak dilakukan masyarakat karena terbawa suasana.

Persekusi secara definisi di dalam KBBI diartikan sebagai pemburuan sewenang-wenang terhadap seseorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah, atau ditumpas. Dengan pengertian tersebut persekusi berarti suatu tindakan yang sewenang-wenang yang dilakukan oleh perorangan atau kelompok yang terlebih dahulu membuat putusan seseorang bersalah tanpa proses hukum yang berdampak kerugian secara materil dan inmateril terhadap korban persekusi.

Setidaknya terjadinya persekusi itu diawali adanya sebuah perselisihan pendapat yang tidak dapat diterima salah satu pihak.

Dengan begitu masifnya persekusi pada saat ini membuat sebuah kerancuan baru dalam bernegara hari ini. Negara Indonesia yang memilih berdemokrasi dalam jalannya bernegara tentu aspek hukum dan Hak Asasi Masnusia sebagai aspek kunci untuk merealisasikan demokrasi yang baik. 

Dalam setiap sendi demokrasi sangat dibutuhkan sebuah penghormatan terhadap sesama manusia yang dijamin oleh negara. Demokrasi juga membutuhkan sebuah kemerdekaan secara pribadi. Tapi dengan terjadinya persekusi menghadirkan anomali sosial terhadap arah bangsa Indonesia.

Melihat ke belakang, titik awal mengemukanya persekusi ini dimulai dari kasus penistaan agama yang dilakukan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta. Kasus yang fenomenal di Indonesia itu berimbas kepada kebablasan berdemokrasi di Indonesia.

Walaupun secara teknis mata publik memandang aksi bela islam berjalan secara demokratis. Tapi dikarenakan oleh oknum-oknum aksi bela Islam ini dikatakan sebagai asal muasal persekusi mengemuka. Pada saat itu kelompok-kelompok yang pro dan kontra saling ancam karena pandangan yang bertentangan. Bahkan dengan semakin peliknya kasus penistaan agama, dampak yang ditimbulkan. yakni adanya konflik SARA.

Jika dilihat dampak-dampak yang dihasilkan oleh kasus penistaan agama tersebut memberikan sinyal bahwa persatuan Indonesia sedang diuji. Bangsa yang mengakui keberagaman ini bisa tercerai berai dan saling menghantui bagi sesama warga Negara Indonesia yang berbeda. Apalagi kalangan mayoritas ikut juga terjerumus ke dalamnya akan lebih menimbulkan efek yang lebih besar bagi keberlangsungan Indonesia. Beruntung kalangan mayoritas tidak terjerumus untuk mempersekusi pada saat itu.

Dengan sudah membesarnya isu persekusi pada saat ini sebenarnya suatu dampak dari negara yang lamban memutus kasus ini agar tidak berkembang. Dalam kelambanan ini sebenarnya sangat relevan mengkaitkan dengan teori Broken Windows. Di mana dalam teori Broken Windows dikatakan bahwa tanda-tanda kejahatan kecil, seperti jendela yang rusak, menjadi pemicu kejahatan yang lebih banyak lagi.

Pada teori tersebut maksudnya hal-hal yang dianggap sepele  bisa berdampak kepada kejahatan yang besar. Dengan demikian, teori Broken Windows memberikan solusi untuk memperbaiki masalah-masalah kecil, dan menindak kejahatan kecil agar tidak terjadinya kejahatan yang secara bertahap menjadi besar. Berarti kunci dari teori ini adalah dengan melakukan perbaikan sesuatu yang sedang rusak.

Kaitan teori Broken Windows dengan persekusi terletak pada lambatnya negara dalam menangani hal kecil-kecil. Di saat ini dengan lambatnya penanganan berdampak yang didapatkan negara Indonesia yang menerima akibat dari teori Broken Windows.

Seharusnya sebelum meluasnya kasus persekusi, seperti halnya ujaran-ujaran kebencian di dalam media sosial, hendaknya dapat diberi peringatan tegas. Serta dengan adanya tindakan yang mempersekusi seseorang atau kelompok untuk dapat dituntaskan secara cepat untuk memutus mata rantainya. Tapi dengan masih lemahnya tindakan negara pada saat itu, persekusi pada hari ini sudah menjadi hal biasa saja dan bahkan membudaya di masyarakat.

Pada saat sekarang, kondisi negara yang sudah berada ditahap kerapuhan terhadap pertikaian saudara yang bertolak belakang dengan nilai-nilai Pancasila. Dengan kejadian-kejadian persekusi yang telah terjadi seakan tugas negara untuk melindungi (to protect) sedikit terlupa. Seperti contoh kasus yang terjadi kepada dokter di Kota Solok. Walaupun belum masih jelasnya informasi terkait kasus tersebut, tapi setidaknya kasus tersebut menghanyutkan masyarakat dalam opini bahwa keterkaitan aperatur negara dalam mempersekusi dokter tersebut.

Padahal dalam kasus seperti itu seharusnya aperatur negara menyelesaikan kasus agar tidak berkembang. Tapi pada saat ini opini yang berkembang bahwa seorang aparatur negara tersebut diduga terlibat dalam mempersekusi. Dengan kejadian demikian setidaknya memberikan opini bahwa to protect yang dijanjikan negara secara kongkret dalam UUD 1945 hanya utopis.

Dengan beberapa kasus-kasus persekusi yang berkembang dan masih lemahnya tindakan negara. Negara selain menindak tegas pelaku persekusi untuk memberikan efek jera, negara juga harus mengembalikan rasa aman di masyarakat serta budaya hukum. Karena tidak akan selesai hanya menyelesaikan kasus-kasus kalau tidak mengembalikan budaya yang sudah terkikis.

Menurut Prof Tjip, terbentuknya peradaban yang sadar dengan hukum dan toleran berasal dari social capital yang kuat. Selain itu persekusi ini menjadi pelajaran juga bagi kita bersama untuk tidak membiarkan tindakan-tindakan kecil yang akan berdampak besar, agar hal yang terjadi disaat ini tidak terjadi lagi di lain waktu.

Artikel Terkait