BRICS berawal dari BRIC (Brazil, Rusia, India, dan China) adalah ide yang pertama kali dicetuskan oleh seorang ekonom dari Goldman Sachs sebagai model ekonomi untuk memperkirakan tren ekonomi global selama setengah abad berikutnya.

Istilah BRIC digunakan pertama kali pada tahun 2001 oleh Goldman Sachs dalam Global Economics Paper No. 66 dengan judul “Building Better Global Economic BRICs”. Istilah BRICS diciptakan oleh Jim O’Neill untuk menunjukkan empat negara berkembang yang tumbuh paling cepat di dunia.

Pada tahun 2010, Afrika Selatan memulai upaya untuk bergabung dengan kelompok BRIC, dan proses aksesi resmi dimulai pada bulan Agustus tahun itu. Akhirnya Afrika Selatan resmi menjadi negara anggota pada 24 Desember 2010, setelah resmi diundang oleh negara-negara BRIC untuk bergabung.

Pada akhirnya aliansi ini berganti nama menjadi BRICS, dengan penambahan huruf “S” yang mengacu pada South Africa (Afrika Selatan). Kelima negara tersebut dinilai mampu dan dapat diakui sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa.

Bahkan beberapa ahli menyatakan bahwa mereka dapat menyaingi negara terkaya di tahun 2050.

Faktor-faktor yang menghubungkan BRICS adalah populasi yang besar, pemerintah yang relatif stabil, dan potensi pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Selain karena faktor ekonomi, BRICS juga ingin meningkatkan kehadiran mereka dibidang lain dan menjadi aktor penting di kancah internasional, baik melalui peran mereka atau lembaga lainnya.

Rata-rata anggota BRICS mempunyai wilayah geografis yang luas. Sekitar 30% dari total wilayah geografis dunia. Populasi mereka juga sangat besar, 43% dari jumlah populasi dunia.

China dan India memiliki jumlah penduduk yang sangat besar. Total penduduk negara BRICS terus menerus mengalami peningkatan dalam rentang waktu tahun 1950 hingga tahun 2050.

Berkaitan dengan luas wilayah dan jumlah populasi yang besar, negara BRICS juga mempunyai 25% saham di dunia dari produk domestik bruto (PDB). Negara BRICS memiliki cadangan devisa negara sebanyak lebih dari 40% dari total cadangan devisa dunia, yaitu sekitar AS$ 4.4 triliun.

Perdagangan antara lima negara pada tahun 2011 bernilai US$230 miliar, dengan rata-rata tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 28%. Diperkirakan akan mencapai 500.000 juta dolar AS untuk tahun 2015.

Pangsa pasar BRICS dalam perdagangan dunia juga meningkat dua kali lipat pada periode ini dan diperkirakan akan mencapai 14% pada tahun 2008. Negara-negara BRICS juga meningkat dari US$10 ribu juta pada tahun 2002 menjadi US$146 ribu juta pada tahun 2010.

Sementara China dan Rusia mewakili lebih dari 75 persen dari total FDI dari negara-negara BRICS, Brazil dan India masing-masing mewakili sekitar 10 persen.

Setiap tahun sejak tahun 2009, para pemimpin negara anggota BRICS selalu mengadakan pertemuan untuk membahas kerja sama ke depan dan mengembangkan isu-isu internasional. Setiap negara anggota juga akan bergiliran menjadi tuan rumah penyelenggara pertemuan.

Bagi Rusia, BRICS adalah bagian integral dari upaya Rusia untuk mengejar kebijakan multi-polar yang tidak hanya bergantung pada institusi yang didominasi oleh barat.

Sejak putusnya hubungan dengan Barat pada tahun 2014, Rusia telah mengorientasikan kembali fokusnya pada institusi non-Barat yang semakin memperkuat langkahnya menjauh dari tatanan pasca Perang Dingin yang didominasi oleh Barat.

Langkah ini juga didorong oleh desakan ekonomi dan kebutuhan untuk memenuhi tujuan pembangunan nasional negaranya sendiri.

Hal ini mengakibatkan Rusia memprakarsai Eastern Economic Forum pada tahun 2015, memperluas perjanjian perdagangan Eurasian Economic Union (EAEU), dan memperkenalkan proyek 'Greater Eurasia’ pada tahun 2016.

Perluasan SCO, pertemuan tahunan BRICS, KTT informal para pemimpin BRICS, dan kebangkitan kembali pertemuan para pemimpin RIC di sela-sela G20 pada tahun 2018.

Hal itu menunjukkan keterlibatan berkelanjutan Rusia dalam kebijakan yang dirancang untuk memposisikan dirinya sebagai kekuatan penting di dunia dalam penciptaan tatanan dunia multi-polar.

Meskipun keinginan Rusia untuk lebih fokus pada isu-isu politik dalam BRICS belum terwujud dengan isu-isu ekonomi yang mendominasi, hal yang terpenting untuk pembentukan negara adidaya bagi Rusia adalah berpengaruh terhadap aliansi dan adanya kekuatan non barat atau non-western power.

Dalam konteks ini, Rusia – yang mengambil alih kepemimpinan pengelompokan untuk tahun 2020 – telah menyatakan niatnya untuk mengejar perluasan koordinasi kebijakan luar negeri di antara para anggota pada forum internasional utama khususnya PBB selama masa kepresidenannya.

BRICS merupakan upaya Rusia untuk mengejar kebijakan multi-polar yang tidak hanya bergantung pada aliansi atau organisasi yang didominasi oleh barat. Hal ini tercermin dalam perjanjian pada tahun 2013 oleh Presiden Vladimir Putin tentang Konsep Partisipasi Federasi Rusia di BRICS.

Aliansi ini mencantumkan tujuan strategis Rusia dalam BRICS sebagai berikut :

1. Reformasi sistem moneter dan keuangan internasional untuk memfasilitasi pertumbuhan ekonomi Rusia.

2. Memperluas kerja sama kebijakan luar negeri dengan mitra BRICS.

3. Meningkatkan karakter multi-vektor kebijakan luar negeri Rusia dan memperkuat posisi internasional negara tersebut.

4. Melalui BRICS, mempromosikan hubungan bilateral dengan negara-negara anggota.

5. Untuk memperluas kehadiran budaya Rusia di dunia.

Anggota BRICS telah mengambil sikap bersatu dalam reformasi sistem moneter internasional dan prosesnya sedang berlangsung. Keterlibatan dalam BRICS telah membantu Rusia untuk memulai kontak rutin dengan Brazil dan Afrika Selatan. Sementara para pemimpin India dan China telah bertemu secara teratur dengan para pemimpin Rusia, KTT tahunan menjadi tempat untuk membantu dalam membahas masalah bilateral secara langsung.