Akhir-akhir ini aku lebih bernafsu mengikuti politik luar negeri dibanding dalam negeri, khususnya politik di Amerika Serikat, Kanada dan Eropa, yang aku ikuti lewat youtube dan twitter. Minggu lalu dilaksanakan Pemilu di Britania Raya (UK), dan menurutku ini sangat menarik.

Disclaimer: aku bukan pakar politik dan hanya menuliskan opini yang pasti sangat dipengaruhi oleh pandangan politikku secara pribadi. Tentu akan ada saja yang tidak tepat menurut orang lain.

Walaupun Inggris adalah negara demokrasi tertua di dunia, tetapi mereka tidak punya konstitusi yang tertulis secara keseluruhan. Mungkin karena sistem Kerajaan sehingga kekuasaan Raja atau Ratu tidak ditulis. Orang menyebut de facto or unwritten constitution.

Sistem pemilihan umum UK terasa aneh untuk ukuran negara modern. Misalnya pemilih yang datang ke TKP tidak perlu menunjukkan KTP dan tak perlu mencelupkan jari ke tinta sebagai tanda sudah memilih. Kabarnya ini untuk menghindari diskriminasi.

Perdana Menteri (Kepala Pemerintahan) yang biasanya dari partai pemenang pemilu diangkat oleh Ratu (Kepala Negara). Ratu juga dapat memberhentikan PM atau anggota parlemen yang dianggapnya menyalahi aturan.

Parlemen di Inggris memiliki dua kamar, yaitu Majelis Rendah (House of Commons) yang beranggotakan 650 MP (Member of Parliament) dan Majelis Tinggi (House of Lords) yang beranggotakan hampir 800 orang, yang biasanya adalah bangsawan yang ditunjuk dan menjadi anggota seumur hidup.

650 itu berarti jumlah distrik pemilihan yang masing-masing diwakili oleh seorang MP yang terpilih. 533 distrik dari Inggris, 59 dari Skotlandia, 40 dari Wales dan 18 dari Irlandia Utara. Kebanyakan MP adalah perwakilan partai politik, tapi ada juga yang independent.

Partai politik yang meraih kursi terbanyak di Majelis Rendah akan membentuk pemerintah baru dan ketua partai pemenang pemilu akan menjadi Perdana Menteri. Partai yang meraih suara mayoritas (Hung Parliament) – minimal 326 – tidak perlu membentuk koalisi dengan partai lain.

Tapi bila tidak meraih kursi mayoritas disebut partai pemerintah minoritas yang harus mencari partai koalisi supaya kursi mereka lebih dari 326. Perdana Menteri mengangkat para menteri dari anggota parlemen. Partai oposisi juga membentuk pemerintah bayangan lengkap dengan menteri-menterinya. Jika sewaktu-waktu ada pergantian pemerintahan, mereka sudah siap dengan perangkatnya.

Pemilihan umum UK seyogianya lima tahun sekali, tapi bila ada kejadian luar biasa PM dapat mengadakan pemungutan suara di Parlemen untuk mempercepat pemilihan umum berikutnya. PM juga dapat meminta bantuan sang Ratu untuk keputusan yang lebih kuat.

Sejak Pemilu 7 Mei 2015, sudah ada dua Pemilu yang dilakukan yaitu 6 Juni 2017 dan yang terbaru 12 Desember 2019. Pemilu 2015 & 2017 dimenangkan oleh Partai Konservatif yang juga disebut Torries, tapi bukan mayoritas.

Inggris memiliki multi partai. Yang terbesar saat ini dan selalu bersaing sengit adalah Partai Buruh dan Partai Konservatif. Perdana Menteri selalu bergantian antara kedua partai ini.

Padahal sebenarnya ada partai lain seperti Liberal Demokrat, Scottish National Party, Democrat Unionist Party, Social Democratic and Labour Party, dll. Jumlah partai yang bertarung di Pemilu 12 Desember kemaren ada 17.

Tahun 2016 lalu telah dilaksanakan Referendum keanggotaan Britania Raya di Uni Eropa (UE), yang bertujuan menggalang pendapat apakah UK perlu melanjutkan bersama UE atau tidak. Hasilnya 51,9% suara minta keluar (leave) yang dikenal dengan istilah Brexit (British exit) dan 48,1% suara tetap bersama UE (remain).

Walaupun mayoritas rakyat menghendaki keluar dari UE, ternyata para sebagian besar anggota Parlemen menghendaki bertahan. Hanya Partai Konservatif yang mendukung Brixit. Hal itu yang membuat Perdana Menteri Theresa May selalu mengalami kesulitan mewujudkan Brexit.

Cara trakhir yang dilaksanakan adalah mempercepat Pemilu. Hasil Pemilu 2017 juga tidak membuat Konservatif Hung Parliament,kurang 8 kursi untuk jadi mayoritas.

Akhir May 2019, Theresa May mengundurkan diri terhitung mulai 7 Juni 2019. Langkah ini ditempuh menyusul paket usulannya untuk mewujudkan hasil referendum ditolak tiga kali di parlemen.

May digantikan oleh Boris Johnson yang merupakan mantan Menteri Luar Negeri Kabinet May. Boris adalah salah satu satu tokoh yang bersikeras mewujudkan Brexit sekalipun Inggris harus keluar UE tanpa kesepakatan.

Di tengah perjalanan, lawan politik Boris di Parlemen menginginkan referendum ulang untuk melihat pendapat masyarakat apakah masih tetap bergabung atau keluar dari UE. Tapi sebelum UU Referendum ulang selesai dibikin, Boris meminta dukungan Ratu untuk membekukan Parlemen sehingga Boris dapat mempercepat Pemilu.

Restu Ratu diterima dan pemilu dipercepat pada 12 Desember 2019 kemaren. Hasilnya Partai Konservatif (Torries) menang mutlak dengan angka terbesar sejak 1997 yaitu 365 kursi di Parlemen. Dengan demikian Torries tidak perlu membentuk koalisi dengan partai lain.

Slogan kampanya Boris yang terkenal adalah “Get Brexit Done” memberikan kemenangan besar. Partai Buruh yang semula percaya diri dapat memenangkan pemilihan akhirnya hanya mendapat 203 kursi, bahkan kehilangan 59 kursi dari sebelumnya. Banyak distrik yang biasanya merah (Partai Buruh) berubah menjadi biru (Partai Konservatif).

Hasil ini sangat mengejutkan banyak orang terutama partai Buruh dan suporternya. Jeremy Corbyn, Ketua Partai Buruh, didukung oleh banyak media dan juga selebrity seperti Hugh Grant, Lily Allen, Emeli Sande, Michael Caine, Jim Davidson, Julian Fellowes Gary Barlow, dll. Sedangkan seleb yang mendukung Boris nyaris tidak ada.

Kondisi di UK ini mirip dengan yang terjadi di USA. Hillary yang ketika itu didukung oleh ratusan selebriti dan Hollywood, juga sebagian besar media di Amrik kalah terhadap Donald Trump yang nyaris sepi dari dukungan selebriti.

Pertarungan di media sosial sangat dahsyat. Jeremy Corby berhadap-hadapan dengan Boris Johnson. Keduanya dianggap kontroversi.

Corbyn dengan slogan keberagaman menggandeng semua minoritas, tapi ada juga yang merasa tidak terwakil seperti kelompok Jahudi dan India. Tentu karena Corby lebih akrab dengan pemimpin Hamas dan kelompok-kelompok muslim.

Corbyn disebut anti Semitis, simpatisan Jihadis dan teroris, dan sangat condong ke kiri. Sedangkan Boris Johnson disebut homophobia, islamophobia dan anti keberagaman. Masing-masing supporter menyebut lawannya adalah tokoh yang berbahaya untuk kelangsungan Britania Raya.

Setelah pemilu, BBC mewawancarai warga biasanya lansia, mereka berpindah dari Partai Buruh ke Konservatif rata-rata mengatakan ingin Brexit segera diwujudkan. Banyak sekali pemilih setia Partai Buruh dari puluhan tahun silam, untuk pertama kalinya memilih Konservarif. Alasanya sama: tidak suka pada Corbyn dan ingin Brexit.

Yang menarik adalah reaksi dari supporter Partai Buruh yang tidak terima hasil pemilu. Persis seperti pendukung Hillary di Amerika Serikat. Pendukung Hillary dan Corbyn biasanya anak muda dan tinggal di kota. Mereka adalah kaum sosialis yang biasanya hidup di bubble nya saja, bukan pada realita. Sehingga pada saat hasil pemilu keluar mereka merasa dicurangi karena selama ini mereka sangat yakin menang tanpa melihat kenyataan di lapangan.

Mereka biasanya hanya mau mendengar pendapat yang sama, bila berbeda maka langsung diblokir. Beberapa youtuber yang mengatakan dirinya moderat mengatakan lebih enak diskusi atau berdebat dengan orang konservatif/Republik dari pada Demokrat/Buruh di UK. Mereka ada kemiripan.

Pelajaran yang menarik dari pemilu di Inggris ini adalah rakyat menghukum Parlemen yang terlalu lama mempertontonkan keangkuhannya dengan tidak mengikuti suara mayoritas. Tiga tahun Parlemen mengolok-olok Brexit dan anak mudanya tak segan menghina warga negara senior yang mendukung Brexit.

Kali ini orang tua memberi pelajaran yang sangat berharga bagi kaum muda Partai Buruh yang terlalu jumawa. Hajaran keras orang tua pada anak-anaknya. Kekuatan warga negara senior bersatu mengurangi 59 kursi dari partai Buruh dan menganugrahi kursi berlimpah untuk Torries.

Get Brexit Done kata Boris saat berkampanya. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh pemilih. Kemaren saat pertama rapat Parlemen, Boris dalam Pidatonya mengatakan “Ketua, agenda kami hanya satu yang akan segera kami laksankan, tahukah apa itu?” Sebagian besar anggota Parlemen meneriakkan “Get Brexit Done” bersama Boris dengan tepuk tangan bergemuruh.

Oleh sebab itu, janganlah durhaka pada orang tua, guys! Lihat, siapa yang tertawa belakangan. Hahahahahaha.