Ini potret besar Brexit dari kacamata serial House of Cards karya Beau Willimon dan serial Game of Thrones oleh David Benioff dan D. B. Weiss

***

Francis Underwood, Presiden Amerika, dan Claire Underwood, First Lady, adalah sepasang politisi tangguh dan licin di Amerika.  Pada drama season 4, episode 13, chapter 53, mereka bekerja sama melawan terorisme Islam fundamentalis. Ahmadi seorang teroris Iraqi, tokoh kunci untuk lepasnya sandera Amerika oleh teroris Islam, ditangkap dan dibujuk untuk memuluskan negoisasi.

Claire Underwood dengan anggunnya bertemu muka dengan Ahmadi. Claire sebelumnya telah menyiapkan shower dan baju yang layak sebelum negoisasi terjadi. Singkat kata, negoisasi dimulai dan Ahmadi siap berkomunikasi dengan kawan terorisnya setelah dicapai kesepakatan dari percakapan mereka bahwa baik Amerika dan Terorisme Islam memiliki kepentingan yang sama, tetapi dengan topeng ideologis berbeda.

Kepentingan Amerika dan terorisme sama menjaga kepentingan negara Amerika dan kelompok terorisme.  Sedang topeng idelogis mereka berbeda, Amerika menggunakan demokrasi dan kebebasan, sedangkan terorisme menggunakan isu kepemimpinan caliphate dan doktrin politik ekstrem tekstual lainnya.

Walhasil, negoisasi pembebasan sandera Amerika terjadi, Ahmadi berbicara dengan kawan terorisnya dengan media yang dirancang khusus oleh pemerintah Amerika. Tapi lacur, Ahmadi malah meminta video negoisasi disebarkan dan 2 sandera lelaki dibunuh.

Francis Underwood dan Claire Underwood terlihat frustasi pasca gagalnya negoisasi, tetapi hanya sesaat. Segera keduanya mengambil keputusan memperbaharui strategi untuk melawan teorisme secara lebih radikal dan bahkan harus lebih brutal. Keduanya bersama petinggi Amerika menyaksikan drama kematian sandera Amerika via layar lebar. Teroris Islam, sambil melafalkan kalimat kudus Lailaha Illallah Muhammadarasulullah, menyembelih sandera Amerika.

***

Tyrion Lannister dan Daenerys Targaryen (Dany) dalam season 6, episode 9: The Battle of Bastards bernegoisasi dengan Razdal mo Eraz, Belicho Paenymion, dan Yezzan zo Qaggaz; diplomat Yunkai, Volantis, dan Astapor yang membombardir kota Meereen dan mengira hampir menang.

Ketiga diplomat itu meminta Missandei, The Unsullied dan kematian 3 naga besar yaitu Drogon, Viserion, dan Rhaegal. Di luar dugaan mereka, Dany malah meminta ketiganya menyerah kalah. Dany segera menunggangi Drogon, lalu bersama Viserion dan Rhaegal dengan kekuatan semburan apinya menyerang dan membakar armada kapal-kapal musuh mereka. Lalu dua diplomat dibunuh oleh Grey Worm dan satu dibiarkan hidup oleh Tyrion.

Negoisasi lain terjadi di episode ini, antara Jon Snow dan Ramsay Bolton. Jon Snow meminta pembebasan Rickon Stark, adik Jon Snow. Bahkan ia meminta perang dihentikan dengan duel satu lawan satu. Ramsay Bolton menolak, perang tak dapat dihentikan pagi esoknya.

Malamnya, Jon Snow menyusun strategi dengan petinggi pasukan, Tormund dan Davos. Lady Sansa Stark mengeritik Jon Snow yang tak melibatkan dan mendengar saran dia dalam strategi perang esok pagi. Bagaimanapun, Sansa adalah istri Ramsay dan lebih tahu karakter dan kelicikan suaminya.

Esok pagi, kedua pasukan berhadapan. Rickon dilepas seperti rusa oleh Ramsay. Ramsay berbisik ke Rickon agar berlari sekencang mungkin ke arah Jon Snow. Jon Snow pun memacu kudanya sekuat mungkin menjemput Rickon. Ketika jarak antara Rickon dan Snow makin dekat, panah yang dilepaskan Ramsay menembus jantung Rickon. Rickon mati.

Snow dengan kemarahan dan keberaniannya, memimpin maju ke depan. Kedua pasukan dikerahkan, ratusan panah menghunjam dilepas oleh pasukan Ramsay, lalu mengepung pasukan Jon Snow dengan formasi tombak dan tameng.

Ketika segenap pasukan Jon Snow hampir putus asa, bala bantuan dari Sansa bersama pasukan berkuda House Arryn tiba menyapu bersih dan memukul mundur pasukan Ramsay ke Winterfell. Wun wun mendobrak gerbang benteng Winterfell sebelum mati oleh puluhan anak panah yang menempel dan menembus sekujur tubuh raksasanya.

Jon Snow akhirnya duel dengan Ramsay dan memukul K.O Ramsay. Malamnya, Lady Sansa membiarkan suaminya menjadi hidangan makan malam anjing-anjing peliharaannya sendiri.

***

Warga Britain (England, Scotland, Wales, Irlandia Utara) memperjelas sikap dan nasib mereka minggu ini dalam referendum Brexit Uni Eropa. 48 persen memilih remain alias tetap bersama Uni Eropa dan 52 persen memilih pergi (leave) atau berpisah dengan Uni Eropa. 

52 % warga Britain, kebanyakan orang tua dan tinggal di luar London dan Scotland, yang memilih meninggalkan Uni Eropa adalah mereka yang terprovokasi oleh politisi-politisi kampungan sayap kanan yang benci dengan imigran terutama mereka yang berasal dari negara-negara miskin di Eropa Barat dan Timur dan juga para imigran dari Eropa Selatan sebagai imbas krisis finansial 2008 yang menyapu kawasan Eropa.

Para politisi menggunakan kampanye provokatif £350 juta duit Britain mengalir ke Uni Eropa setiap minggu yang harusnya bisa menutupi sektor kesehatan (National Health Service), "let`s fund our NHS instead". Padahal sebaliknya Uni Eropa lah yang menginjeksi sektor privat UK misalnya pendanaan riset sains sebesar £1.4 milyar. Kata politisi-politisi xenophobia pendukung kampanye ini, Britain lebih untung jika berpisah dari Uni Eropa. Masalah imigran yang miskin, kotor, tak mengerti budaya Britain dan kesehatan akan teratasi. Kerugian Britain malah lebih besar dalam Uni Eropa. Britain tak tergantung secara ekonomi-politik penuh pada Uni Eropa.

Hasil referendum ini melukai anak-anak muda Britain yang berpikiran terbuka dan relatif solider dengan sesama anak-anak muda Eropa lainnya. Kritik utama anak-anak muda Britain adalah freedom of movement di kawasan Eropa. Referendum ini selain memperlihatkan kekalahan kampanye kubu Perdana Menteri David Cameron, lemahnya dukungan partai buruh, juga mengunci mati tumbuhnya paradigma kosmopolitanisme di kawasan Eropa.

***

Sesungguhnya, target politik Brexit tak berbeda dengan kebijakan politik Francis Underwood untuk memerangi para teroris Islam yang artifisial dan rapuh. Tapi para politisi sayap kanan di balik Brexit ini lupa  bahwa semangat pembebasan Daenerys Targaryen dan keberanian Jon Snow akan meruntuhkan kembali benteng kepongahan mereka. Drama politik apa pun pada akhirnya akan memunculkan pemenang dan pecundang sejati.