Akhir-akhir ini, teror sedang mencekam Indonesia. Lima ledakan di Surabaya cukup membuat negara ini menjadi waspada. Berbagai macam asumsi terlontarkan dari mulut orang-orang. Polisi pun menjadi lebih waspada kepada orang yang berpenampilan “Islam”.

Namun sebenarnya mengapa hal itu bisa terjadi? Kenapa masyarakat menjadi waswas terhadap orang yang berpakaian khas tersebut? Mengapa banyak orang yang berpersepsi miring tentang Islam? Hal ini terjadi karena branding yang dilakukan oleh kelompok-kelompok teroris, secara sadar maupun tidak.

Terorisme di Indonesia bertujuan untuk menciptakan ketidaknyamanan kepada masyarakat Indonesia. Terlalu jauh rasanya jika kelompok teroris tersebut sampai berhasil mengubah bangsa Indonesia menjadi negara sesuai dengan yang mereka inginkan. Kekuatan mereka relatif terlalu kecil dibandingkan dengan kekuatan militer dan jangan lupa, kekuatan nasionalis bangsa ini.

Saya tidak terlalu mengerti tentang ajaran-ajaran ideologi yang ditanamkan kepada pelaku terorisme ini. Namun yang pasti, para teroris ini menggunakan teknik branding dalam setiap aksi mereka.

Ya, Anda tidak salah dengar, teroris pun butuh branding. Branding di sini bukanlah untuk meningkatkan penjualan sejak memang teroris ini tidak berjualan apa pun. Branding di sini berguna untuk meningkatkan eksistensi dan kesadaran orang-orang tentang keberadaan mereka.

Kesadaran akan terorisme inilah yang sangat dibutuhkan oleh teroris. Semakin banyak orang yang menyadari akan keberadaan teroris, maka aksi mereka akan semakin besar efek terornya. Teroris pun ternyata terbagi-bagi, ideologinya pun berbeda-beda. Ideologi inilah yang dijual dan dipasarkan dengan harapan nantinya lebih banyak orang akan bergabung.

Brand bisa dimiliki oleh perseorangan maupun badan/organisasi. Terkadang perseorangan dan organisasi pun tidak bisa dipisahkan. Contoh brand organisasi adalah ISIS, Al-Qaeda, Jaringan Islamiyah (JI), dan Jaringan Ansharut Daulah (JAD).

Sedangkan biasanya branding perorangan didapatkan dari petinggi-petinggi dari organisasi tersebut. Contohnya jika kita mendengar Osama bin Laden, maka kita akan langsung terfikirkan teroris Al-Qaeda. Jika kita mendengar nama Aman Abdurrahman yang baru saja dituntut hukuman mati, maka kita akan langsung mengingat JAD.

Brand terdiri dari berbagai komponen, antara lain nama, ciri khas, konsistensi dalam mengenalkan brand, viralitas dari brand tersebut, dan repetisi atau seberapa banyak kesadaran merek tersebut diulang-ulang sehingga masyarakat dapat mengingat merek tersebut. Untuk menghubungkan antara branding dengan terorisme, maka komponen dari brand tersebut akan dijelaskan satu per satu.

Kelompok teroris biasanya mempunyai nama yang khas dan merepresentasikan ideologi mereka. Islamic State of Iraq and Syria atau biasa kita kenal dengan ISIS menggunakan nama sekaligus promosi ideologi mereka, yaitu negara Islam/Khilafah. Nama inilah yang kemudian dipasarkan kepada masyarakat agar mereka mengingat bahwa tujuan terorisme ISIS adalah membuat negara Islam.

Kemudian pertanyaan dari awal artikel ini, mengapa kita menjadi lebih awas terhadap orang yang berpakaian “Islam”? Pernahkah kalian melihat dokter dengan jas putihnya? Atau pemadam kebakaran dengan pakaian merah lengkap? Atau juga seragam polisi yang ada di jalanan?

Itulah hal yang dilakukan para teroris tersebut. Para teroris ini hampir pasti selalu menggunakan pakaian dengan jenis yang sama, yaitu baju koko panjang dengan gaya khas Islam.

Kita memang tidak bisa lantas mengeneralisasi orang yang menggunakan pakaian tersebut adalah teroris, namun teroris-teroris ini berhasil menciptakan persepsi bahwa pelaku terorisme memiliki identitas tertentu. Konsistensi dari bentuk pakaian dan golonganlah yang kemudian menciptakan persepsi yang kuat di antara masyarakat. Konsistensi membuat ingatan yang tersimpan dalam di bawah alam sadar.

Seperti yang dikatakan di awal, tugas dari seorang teroris adalah menciptakan teror. Sehingga teror ini pun harus menyebar luas. Tidak pernah kalian akan melihat teroris melancarkan usahanya dengan cara meledakkan diri di tengah sawah.

Teroris selalu mengincar tempat ramai dan memiliki potensi viralitas yang tinggi. Pengeboman gereja, selain membuat viralitas tinggi, juga menciptakan persepsi bahwa umat Kristiani adalah musuh Islam. Secara spesifik pun gereja-gereja pasti mengalami tingkat waswas yang tinggi.

Pengeboman di kantor polisi pun menguatkan ideologi mereka sebagai musuh polisi. Banyak orang sudah mengetahui bahwa ISIS dan organisasi di bawahnya memusuhi polisi. Sehingga apabila pengeboman terjadi di lingkungan kepolisian, maka masyarakat akan langsung sadar akan merek dari suatu teroris tertentu.

Terakhir, mereka melakukan repetisi dalam jangka waktu tertentu agar masyarakat tidak lupa akan keberadaan mereka. Teroris sekarang pun memanfaatkan teknologi.

Ingatkah kalian ISIS pernah mengeluarkan video tentang pilot yang dibakar hidup-hidup? Teror pun tidak memerlukan media konvensional sebagai perantara. Sosial Media pun bisa menjadi sarang teroris.

Berhati-hati dalam menyebarkan info dan memiliki kedewasaan dalam bertindak merupakan salah satu cara menghambat penyebaran brand terorisme ini. Walaupun memang kita selalu berkata tentang hal negatif dari terorisme, namun kita tidak boleh lupa bahwa publikasi negatif pun adalah publikasi.