Sore itu, Baruga Anging Mammiri, Kota Makassar menjadi saksi. Sekawanan pengurus Badan Pengelola Latihan yang mengikrarkan sumpah. Senantiasa hanya dengan alasan perhambaan diri kepada Allah semata dalam menjaga kepengurusan untuk satu periode ke depan.

Bahkan, sebelum acara dimulai. Dua tarian-tarian mengawali rangkaian acara. Satu diantaranya adalah ikrar setia kepada pemimpin. Dalam tradisi budaya Makassar, angngaru merupakan pernyataan untuk tetap loyal pada pimpinan.

Pilihan persembahan tarian ini, tentu saja bukan tanpa makna. Mereka mempersembahkan itu untuk mengingatkan pengurus Badan Pengelola Latihan untuk senantiasa tetap setia hanya pada satu, cita HMI.

***

Kita sejenak menengok pergulatan inteligensia muslim Indonesia di awal abad 21 ini. Dimana seiring dengan berakhirnya abada 20, juga menjadi tanda berakhirnya kekuasaan Soeharto. Di penghujung abad 20 itulah juga Habibie mendapatkan kuasa. Pada akhirnya Ketika laporan pertanggungjawaban ditolak MPR, Habibie memutuskan untuk tidak mencalonkan diri sebagai presiden.

Inteligensia muslim dalam pandangan Yudi Latif turut memainkan peran. Dimana keberadaan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) melalui anggotanya duduk dan menjadi penguasa.

Para teknokrat, dan juga birokrat didominasi oleh kalangan sarjana muslim. Termasuk dalam pelantikan anggota  Bolehjadi ini menjadi sebuah fenomena yang menggembirakan bagi internal masyarakat muslim. Namun, di sisi lain, harian Kompas dalam terbitan 30 September 1992 justru menjadikan ijo royoroyo menjadi ijo loyo-loyo.

Masa itu, dilansir ada ketersinggungan ulama. Jikalau kata ijo tadi diasosiasikan sebagai umat Islam yang dianggap sebagai kawanan yang loyo. Hanya saja, polemic itu tidak berkepanjangan, dan bolehjadi apa yang dituliskan Kompas merupakan pandangan eksternal umat Islam.

Hanya saja, saya mengkhawatirkan ketika Habibie dikubur. Jangan sampai, itu juga menjadi momentum dimana kiprah inteligensia muslim turut terkubur.

Kersten (2018) menggambarkan bagaimana kondisi organisasi intelektual muslim dalam merespon kondisi pergantian abad dan juga beralihnya kekuasaan.

Walaupun dalam kurun 20 Oktober 1999, sampai 23 Juli 2021, Presiden RI ketika itu dipimpin seorang santri. Juga memimpin organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, Nahdhatul Ulama.

Uraian Kersten menjadi penjelasan betapa seiring pergantian kekuasaan, organisasi baik kemasyarakatan maupun organisasi kemahasiswaan memberi respon yang beragam. Justru kurun waktu pemeirntahan Gus Dur bukan juga menjadi masa untuk konsolidasi keumatan.

Bolehjadi, gerakan intelektual muslim hanya dapat dilakukan secara kultural. Sementara dalam urusan struktural masih harus mencari pola dan mekanisme pengembangan.

***

Kita kembali pada bahasan BPL (Badan Pengelola Latihan). Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Gowa Raya membentuk kepengurusan BPL untuk periode 2021-2022.

Selama ini, sebagaimana dinyatakan Hamsah yang menjabat sebagai Wakil Sekretaris Umum HMI Cabang Gowa Raya pada suatu masa dulu, bahwa pembentukan BPL telah diusahakan dalam beberapa kesempatan.

Hanya saja, sampai pada akhir kepengurusan bersama dengan Ardillah Abu, BPL tetap saja tidak terbentuk.

Dengan pelantikan BPL ini, menjadi sebuah kesempatan untuk menggerakkan Latihan Kader dengan sokongan BPL. Dimana pelaksanaan LK selama ini, sepenuhnya diprakarsai oleh bidang pembinaan anggota cabang, dan diorganisir secara teknis oleh master of training.

Sehingga secara kultural, justru HMI melalui BPL yang akan menjadi sarana dalam mengelola latihan kader. Dimana dalam lingkup cabang, ada dua Latihan yang menjadi kewenangannya, yaitu LK I yang sering juga disebut Basic Training, dan LK II, kerap dinamakan Intermediate Training.

Jikalau saja apa yang dikemukakan Sidratahta Mukhtar (2005) bahwa orientasi HMI telah mengarah menjadi dominasi politik, maka dengan keberadaan BPL ini akan menjadikan arah itu tidak semata-mata ditumpukan pada politik praktis.

Ada ranah intelektual yang menjadi ciri utama dan pertama HMI, yaitu mahasiswa. Jikalau ini difokuskan, maka akan menjadi sebuah gerakan kultural. Kalau zaman sekarang menyebutnya Kampus Merdeka.

Ada banyak hal yang dapat dipelajari, bukan saja di bangku kuliah. Tetapi dengan beraktivitas di luar kelas itulah akan menjadi pengayaan dan pembobotan pengalaman. Dimana dalam kesempatan tersebut akan memberikan keterampilan hidup bagi mahasiswa. Sebuah tumpuan pendidikan yang juga dicanangkan oleh badan PBB melalui UNICEF.

Perjalanan bangsa kita, 75 tahun terakhir mencerminkan bahwa dalam urusan berbangsa dan bernegara, kekuatan masyarakat sipil lebih utama berbanding kehadiran negara.

Sehingga keberadaan HMI, dan juga tentunya organisasi lainnya, akan menjadi wadah ekspresi dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat sipil yang tak dapat dijangkau dengan keberadaan negara secara formal.

Walaupun secara umum, tentu saja keberadaan pemerintahan yang mengupayakan insfrastruktur secara luas akan menjadi daya dukung bagi kewujudan organisasi sipil.

Akhirnya, satu tantangan BPL dimana diperlukan reformulasi perkaderan untuk memberikan latihan bagi mahasiswa sehingga mencapai standar pendidikan, terutama pendidikan tinggi.

Masa-masa pagebluk covid-19 memesankan kepada kita, betapa adaptasi dengan dunia digital menjadi keperluan. Hanya saja, tanpa meninggalkan sisi kemanusiaan. Jepang menyebutnya 5.0, dimana digitalisasi yang juga tetap dengan unsur kemanusiaan.

Tantangan demi tantangan dapat dilalui dengan cara yang adaptif. Hanya saja, untuk melaluinya diperlukan kebersamaan. Kita menyebutnya dalam pelbagai kata, sinergi, atau kolaborasi. Dalam Bahasa agama dalam kata berjamaah.

BPL, dapat menjadi instrumen memperkuat pencapaian cita HMI. Dengan memulai menumbuhkembangkan budaya, dimana sudah dinyatakan dalam tiga budaya professional, aktif, dan adaptif.