Saya menulis artikel ini sebagai bentuk refleksi pengalaman pribadi saya, pengalaman bekerja dengan orang lokal dan bule. Bule yang saya maksud di sini merujuk pada bule-bule Eropa. 

Saat ini saya sedang bekerja di perusahaan asing milik orang Prancis. Walaupun bekerja di perusahaan Prancis, tetapi orang-orang yang bekerja di dalamnya berasal dari macam-macam negara, seperti Belgia, Jerman, Thailand, Indonesia, dan Prancis itu sendiri.

Kebetulan dalam satu departemen, saya adalah satu-satunya orang Indonesia. Sudah hampir satu tahun saya bekerja bersama mereka dan banyak hal yang mengubah diri saya, mulai dari yang bersangkutan dengan pekerjaan atau bahkan yang bersifat personal.

Hal pertama adalah soal senioritas. Hari pertama bekerja, hampir semua kolega menyambut dengan hangat. Mulai dari manajer, HR, bahkan pendiri perusahaan, semua mengirimkan pesan melalui Skype atau WhatsApp untuk menyambut kedatangan saya. 

Belum pernah saya disambut begitu hangat oleh owner perusahaan melalui WhatsApp. Menurut pengalaman bekerja saya dengan orang lokal, mereka cenderung lebih eksklusif dan tidak ingin berinteraksi secara langsung. 

Kedua, tepat waktu. Hari kedua saya datang ke kantor lima belas menit lebih awal. Sesampainya saya di dalam ruangan, ternyata saya adalah satu-satunya orang yang baru saja datang. Belum ada satu orang pun yang datang di ruangan. 

Bahkan sampai lima menit sebelum kesepakatan jam kerja (jam sembilan), mereka masih belum juga datang. Lalu? Ternyata satu menit sebelum jam sembilan, mereka mulai bermunculan ke ruangan. Tidak ada satu pun yang terlambat.

Walaupun ketika sampai ada yang masih membuat kopi atau membetulkan riasan, tetapi hal ini patut ditiru orang lokal. Tidak sampai di situ saja, jam pulang pun mereka juga sangat tepat waktu. Ketika jarum jam menunjukkan jam enam kurang satu menit, mereka mulai mematikan laptop dan bergegas pulang. Mereka tidak terlalu peduli apakah pekerjaan sudah selesai atau belum.

Suatu hari saya pulang terlambat dua menit. Tiba-tiba manajer saya nyeletuk, "Sudah jam enam lebih dua menit, kenapa masih di depan komputer dan belum pulang?" Detik itu juga saya keheranan dan tidak tahu harus menjawab apa. 

Dulu ketika saya kerja di kantor lokal, bukannya disuruh untuk pulang, justru dipuji. Bahkan hal itu dianggap sebagai bentuk kerja keras atau dedikasi kepada perusahaan.

Soal waktu mereka terkesan perhitungan, tetapi sebetulnya mereka sangat menghargai. Bahkan ketika meeting dijadwalkan dengan durasi satu jam, maka tidak peduli siapa pun yang berbicara terlalu banyak, setiap orang dalam yang berada dalam meeting berhak untuk mengingatkan dan menutup pembicaraan.

Ketiga, soal cuti. Dulu ketika saya bekerja di perusahaan lokal akan sangat wajar jika selama cuti saya dihubungi untuk urusan pekerjaan yang sifatnya mendesak. Hal ini sangat berbeda ketika saya bekerja dengan bule.

Pernah saya inisiatif untuk membawa laptop kantor ke rumah selama cuti dua minggu untuk mengantisipasi pekerjaan yang mendesak, tetapi manajer saya melarang secara keras untuk membawa pekerjaan saat cuti. Justru ketika saya ingin bekerja saat cuti, hal itu menjadi tanda tanya besar untuk mereka.

Saya ingat sekali bahwa manajer saya mengatakan kepada saya, "Ketika kamu cuti, kami ingin kamu rileks dan kembali bekerja lagi dalam keadaan segar, bukan sebaliknya." Tentu saja hal kejadian ini membuat saya sedikit keheranan dan senang karena tidak seperti biasanya saya diperlakukan seperti itu. 

Keempat, apresiasi pekerjaan. Beruntung saya selalu bekerja dengan orang-orang yang punya sifat mengapresiasi. Sayangnya, kadang apresiasi itu hanya dilakukan dengan hasil akhirnya.

Dulu ketika saya bekerja di perusahaan lokal, saya hanya sering mendapatkan apresiasi di hasil akhir saja. Hanya hasil akhir, usaha dan prosesnya lebih sering dilupakan. Tetapi hal itu berubah drastis ketika saya bekerja di perusahaan asing ini.

Mereka melihat suatu pekerjaan tidak hanya dari hasil akhirnya, tetapi juga prosesnya. Setiap misi yang saya lakukan di kantor punya catatan waktu yang saya butuhkan. Hal itu juga didukung oleh manajer saya yang selalu memantau kendala apa saja yang dihadapi dan sudah sejauh apa prosesnya. 

Bahkan mereka punya catatan lengkap mengenai semua jobdesk saya, berapa waktu yang saya butuhkan untuk setiap misi yang harus dikerjakan, apakah saya overtime, dan apakah semua itu sudah seimbang dengan insentif yang saya terima.

Kelima, suasana kerja. Ketika awal-awal kerja di perusahaan ini, saya merasa sangat stres. Mengapa? 

Hal itu karena selama bekerja hampir tidak ada yang bicara satu dengan yang lain. Semua fokus dengan komputer dan pekerjaan masing-masing. Bicara hanya seperlunya saja dan sangat sedikit. Ketika ada yang bicara terlalu keras, maka harus diingatkan karena itu bisa mengganggu konsentrasi. 

Tentu saja ada di antara mereka yang bercanda. Tetapi perbedaannya dengan kantor lokal tempat saya bekerja dulu adalah kontrol orang-orangnya. Seringnya kami hanyut dalam bahan-bahan bercanda yang kurang penting dan kurang berkontribusi dengan pekerjaan. Akhirnya harus lembur konyol sampai malam. 

Mereka juga mendengarkan musik, tapi selalu pakai headset. Mereka menciptakan suasana kerja yang tenang dengan cara menghormati satu dan yang lain.

Tulisan ini tidak bermaksud menjelek-jelekkan kantor lokal, tapi ada beberapa hal yang sepertinya harus ditiru oleh orang-orang Indonesia. Ada hal-hal yang dilupakan oleh orang Indonesia dalam dunia kerja, seperti menghormati orang lain, menghargai waktu, dan yang lebih banyak adalah rasa kemanusiaan.

Hal-hal yang saya tulis di atas juga tidak bisa dijadikan patokan untuk seluruh bule. Ada juga bule yang berisik, tidak mau mengerti, dan tidak bisa mengapresiasi, begitu juga sebaliknya dengan orang Indonesia. Semua tergantung kantor dan perseorangan.