Disclaimer: Sebelum aku menuliskan review ini, ketahuilah bahwa aku adalah pemerhati LGBT dan orientasi seksual yang telah banyak menuliskan artikel di blogku Apaja.

Di Qureta juga ada beberapa tulisanku mengenai LGBT dan orientasi seksual. Review-ku ini mungkin akan terbaca seperti aku sangat tidak support LGBT. Itu sebabnya aku menuliskan disclaimer di atas.

Hari Minggu kemarin aku nonton film Booksmart yang disutradarai oleh Olivia Wilde. Pada menit ke 30, aku sudah mulai geregetan; film kupercepat, loncat-loncat sampai selesai. Kesanku atas film ini: “Eerrgghhh… kok jelek gini ya? Maksa banget!”

Mungkin ada yang bilang, “Gimana lu bisa tahu ceritanya bagus atau tidak kalo nontonnya loncat-loncat?”

Begini, menurut kenalanku seorang screenwriter Bule yang aku pernah konsultasi ke dia dan dia pernah minta aku review scriptnya, berkata: 15 menit pertama dari sebuah film adalah durasi yang sangat kritis. Biasanya bila di 15 menit pertama orang sudah tidak suka, dia akan tidak suka sampai selesai.

Nah, untuk Booksmart, toleransiku sudah kuperpanjang sampai 15 menit kedua, dan tidak ada perbaikan yang membuatku bisa melanjutkan menonton film ini dengan normal.

Baiklah, aku ceritakan sinopsisnya.

Booksmart bercerita tentang persahabatan dua gadis kelas 12; Molly (Beanie Feldstein) dan Amy (Kaitlyn Dever) yang sudah berteman sejak kecil. Hari ini adalah hari terakhir mereka menjadi murid SMA karena besok acara wisuda.

Molly akan melanjutkan kuliah ke Yale University sedangkan Amy ke Columbia University. Tapi sebelum kuliah, Amy hendak menghabiskan musim panasnya di Botswana untuk membantu perempuan di sana membuat tampon sendiri. WHATTT???

Molly berkepribadian superior complex di mana dia merasa dia lebih pintar dari anak lainnya. Dia sangat dominan terhadap Amy, juga agak pongah terhadap murid lain, terutama pada teman-temannya yang kelihatan tak peduli pada pendidikan.

Saat sedang buang air di toilet, Molly melihat ada tulisan “your ugly” di dinding. Kemudian dia mengambil spidol dari kantongnya kemudian memperbaikinya menjadi “you’re ugly”. Yealaaahhh… sutradaranya mau menunjukkan bahwa dia smart.

Saat lagi merevisi tulisan itu, Molly mendengar suara yang membicarakannya; orangnya kaku, tidak pernah party, cuma belajar. Molly kesal. Dia keluar toilet. Orang-orang itu, dua pria dan satu wanita, terkejut karena tertangkap basah.

Sambil mencuci tangannya, Molly menyombongkan diri bahwa dia sudah diterima di Yale. “Emang lu-lu ngelanjut ke mane? Paling universitas yang gak mutu!” Begitu kira-kira makna senyumannya yang bangga saat mengucapkan “Yale”.

Ternyata teman-temannya yang tampak begajulan dan tak punya manner, seperti Triple A (nama kok ya Triple A?) ke sekolah memakai hotpans yang nyaris memperlihatkan bokong, ternyata juga diterima di Yale. Tenner, cowok dengan wajah blo’on dan sedang menggambar penis besar di dinding toilet juga masuk Stanford. Theo yang berambut panjang seperti rambut kuntilanak sudah diterima bekerja di Google. Luar biasa!!!

“Tapi kalian tampaknya tidak peduli pada sekolah?” tanya Molly bingung.

“Tidak. Kami cuma tidak hanya peduli pada sekolah,” jawab Triple A sambil meninggalkan toilet. Disusul oleh kedua temannya.

Molly syok dan berlari keluar toilet. Macam kesetanan dia menanyakan teman-teman lainnya ke mana mereka akan kuliah. Gigi yang kelihatan lagi fly menjawab, “Harvard.” Molly makin tidak bisa terima.

Saat merayakan kelulusan berdua dengan Amy di sebuah bukit, Molly kembali meluapkan kegeramannya. Selama di SMA, mereka taat pada aturan, tidak pernah ikut party, fokus belajar supaya bisa masuk universitas bergengsi.

Sedangkan teman-teman mereka yang selalu party dan konsumsi narkoba juga bisa masuk ke kampus beken. Molly tersadar, merasa hidupnya terlalu lurus selama ini. Dia mengusulkan bahwa malam ini mereka harus party karena malam ini terakhir mereka sebagai siswa SMA. Amy tidak setuju, tapi Molly sudah memutuskan.

Demikian cerita berlanjut, mereka sungguh mengalami banyak halangan dan rintangan (terasa dibuat-buat) untuk mencapai rumah teman yang melakukan party. Tengah malam akhirnya mereka sampai di TKP dengan bantuan ibu guru favorit.

Di party, Molly merasa punya kesempatan mendekati Nick lelaki idamannya selama ini. Amy juga berusaha mendekati Ryan, perempuan yang sudah dua tahun dia incar. Eh ternyata Ryan yang berpenampilan sangat tomboi itu bercinta dengan Nick. Filmmaker memberi pesan bahwa tidak semua cewek tomboi itu lesbian. Beklah, Nicole!

Seperti party remaja Amrik pada umumnya, sering kali berakhir dengan kekacauan dan kedatangan polisi. Semua orang pada ketakutan. Dengan gagah perkasa Ami menghadapi polisi dan berakhir di tahanan.

Tapi besoknya mereka berhasil ikut wisuda walaupun terlambat sampai lokasi. Bayangkan, acara wisuda ditunda menunggu Molly dan Amy, karena Amy adalah pahlawan. Sekolah yang sangat sayang dan perhatian pada murid-muridnya, bukan?

Cukuplah kita bicarakan masalah plot yang biasa saja ini.

Kesanku tentang film ini adalah sangat kental muatan feminis, yaitu persamaan gender, gender fluid, orientasi seksual, LGBT, dan lain-lain. Kita tidak akan melihat lelaki maskulin, karena masculinity adalah toxic. Ada karakter cowok heteroseksual tapi tidak maskulin.

Semua hal yang berbau minoritas dirangkul dan diaduk sedemikian rupa. Pakem kehidupan umum dijungkir-balikkan.

Misalnya, murid obesitas yang biasanya jadi korban bully, tapi Molly yang bukan size zero jadi pribadi yang superior, main bentak ke teman-temannya. Kalau di film lain biasanya cewek kulit putih yang size zero yang jadi karakter bitchy, tapi tidak di Booksmart.

Murid yang begajulan, party goers, pemakai obat, dan lain-lain yang biasanya berkesan negatif, di Booksmart terasa no problem dan semuanya masuk kampus top ten. Tak ada yang gagal sekolah. Sungguh dunia yang indah, bukan?

Toilet sekolah yang unisex (gabung cewek-cowok) mengesankan bahwa di sekolah itu tidak ada pelecehan seksual karena tidak ada cowok maskulin. Dinding toilet penuh dengan coretan dan gambar genital tapi tidak ada yang merasa terganggu karena semua murid sudah khatam kelas sex education.

Oh iya, minoritas lain yang harus masuk adalah Muslim, yekan? Jadi Molly dan Amy ceritanya punya secret code “Malala” yang diambil dari nama Malala Yousafzai.

Juga harus ada kulit berwarna dong! Iya, ibu guru favorit, Miss Fine, berkulit hitam yang asik punya karena mau ditelepon tengah malam untuk mengantarkan Molly dan Amy ke tempat party. Bahkan sang guru favorit itu mau gabung party dan bercinta dengan Theo.

Tentu juga harus ada karakter transgender yang berdandan drag queen. Komunitas sempurna ini bebas dari homophobia, sehingga kita melihat pasangan heteroseksual, gay & lesbian saling bercumbu tanpa merasa sungkan di areal publik.

Oh iya, pembicaraan tentang seks bukan hal yang tabu. Menceritakan pengalaman masturbasi dengan memakai boneka binatang atau sikat gigi elektrik pun jadi cool. Jangan lupa, kepala sekolah juga nyambi jadi supir uber untuk menambah penghasilan.

Aku pikir, aku sudah bermurah hati memberi rate 5/10.

Tapi sungguh aku kaget saat baca review di media-media mainstream. Alamak, semua memberikan pujian yang sangat tinggi. Di Rotten Tomatoes, skor reviewnya 97% dan skor penonton 76%. WOW just WOW!!!

Film ini disebut film yang super-duper WOKE alias progresif banget. Olivia Wilde punya banyak teman selebriti. Mereka dengan suka rela mau mempromosikan film ini. Jurnalis atau penulis review juga berlomba-lomba memberi nilai di atas 8 dengan pujian selangit.

Kok bisa seperti itu ya?

Apakah mereka harus memuji setinggi itu karena takut dikatakan tidak progresif atau tidak mendukung LGBT dan sutradara perempuan yang sangat feminis dan yang terpenting pembenci Donald Trump musuh bersama mereka?

Atau, apakah aku yang tidak memahami genre film ini karena aku kurang woke? Tapi aku meriview film Carol yang bertema lesbian dan memberi rate 4,5/5. Silakan cek di sini.

Marketing menargetkan penghasilan minimal USD 12 juta pada 4 hari pembukaan yang ditayangkan di 2,505 teater. Sayang sekali, untuk total penjualan tiket selama 4 hari itu hanya USD 8,7 juta. Budget film ini sebenarnya tidak besar, hanya USD 6 juta. Balik modal sih!

Tapi penjualan tiket hanya segitu padahal sudah diendors oleh selebritis papan atas seperti Ryan Reynolds, Taylor Swift, Mindy Kaling, Seth McFarlane, dan Natalie Portman. Rasanya kok ada yang salah ya?

Aku cek akun twitter Olivia, “Anyone out there saving @Booksmart for another day, consider making that day TODAY. We are getting creamed by the big dogs out there and need your support. Don’t give studios an excuse not to green-light movies made by and about women.”

Aku baca reply-annya, rata-rata mengatakan sudah tapi akan nonton lagi, sudah 2x, sudah 3x, bahkan ada yang sudah 7x. Bayangkan! Mereka yang sampai berkali-kali menonton saja penjualan tiket masih jauh dari target. Gimana bila hanya masing-masing hanya satu kali?

Atau, apakah mereka berkata seperti itu demi membesarkan hati Olivia? Atau itu hanya settingan saja? Suruh pasukan cyber memberi kredit sebagus-bagusnya untuk menggugah minat orang lain menonton.

Kontrovesi lain dari film ini adalah sang sutradara, Olivia Wilde, yang sudah menabuh genderang perang dengan kelompok konservatif Amrik sejak Trump terpilih jadi Presiden. Olivia tidak mau pendukung Trump (yang menurutnya adalah kelompok rasis) menonton hasil karyanya. Dia meminta mereka semua memboikot hasil karyanya. WOW!

Di Amerika, jurang antara kaum konservatif dan liberal itu sangat besar. Konservatif itu Partai Republik sedangkan Liberal itu Partai Demokrat. Bila pemain film atau sutradara membawa-bawa karya mereka ke ranah politik, kemungkinan hasil penjualannya akan turun. Ya jelas saja, jumlah pemilih Demokrat dan Republik hampir sama banyak.

Aku jadi ingat film 212 dan Hanum & Rangga yang tak mampu bertahan lama di bioskop. Begitulah kalau hasil karya partisan atau pelaku industrinya partisan. 

Sesungguhnya sutradara, produser, aktor, selebriti adalah marketing tools untuk promosi produk mereka. Bila mereka menyakiti segolongan orang, ya kelompok itu tidak akan membeli produknya.

Menurut aku, ada dua hal yang membuat ketidaksuksesan film Booksmart ini. Pertama adalah masalah produksi. Produknya memang tidak bagus. Plotnya biasa saja, penulisan dan ceritanya yang terlalu WOKE karena ingin terlihat rebel, anti-mainstream.

Yang kedua adalah sikap arogan Olivia Wilde yang menyakiti separuh penduduk Amerika, yakni kaum konservatif pendukung Trump. Teorinya: lu mau jualan tapi lu batasin orang yang membeli. Hasilnya: pembeli sedikit.

Catatan: tidak semua pendukung partai Demokrat itu berperilaku liberal atau progresif. Banyak dari mereka, terutama keluarga kulit hitam dan keturunan Amerika Latin di mana cara hidup mereka cukup konservatif, rajin ke gereja dan menjunjung tinggi nilai-nilai tradisional dan keluarga. Tapi karena mereka berafiliasi dan menjadi pemilih partai Demokrat, maka mereka disebut kaum liberal.

Sebaliknya, tidak semua orang pemilih Partai Republik itu cara hidupnya konservatif. Banyak dari mereka yang berpikiran liberal dan progresif juga.

Cerita film yang “woke” seperti ini akan dihindari kaum konservatif, baik dari Demokrat maupun Republik. Olivia memusuhi pendukung Trump membuat jumlah yang menghindari film ini makin banyak.

Sekarang ada istilah Gets Woke and Goes Broke! Seperti itulah film Booksmart.

Catatan: Woke adalah istilah politik yang biasa dipakai orang Afrika-Amerika yang berarti sudah sadar tentang isu-isu keadilan sosial dan keadilan rasial. Semacam golongan yang tercerahkan. Tapi sering kali istilah ini dipakai untuk tujuan sarkas atau ejekan.