Pernahkah menonton drama Korea berjudul Romance Is a Bonus Book? Ataukah belum mendengarnya sama sekali? Jika memang begitu, maka saya ingin mengatakan bahwa drama ini sangat recommended untuk menyadarkan kita mengenai sistem kasta sebuah masalah berdasarkan kepelikannya.

Ya, masalah pun ternyata dibuatkan sistem kasta (entah hanya saya atau memang ada orang selain selain saya yang meyakininya). Namun, ada sedikit anomali, daripada membagi masalah menjadi tiga tingkatan berdasarkan kesulitannya, seperti halnya permainan: easy, medium, hard, bukankah lebih baik jika memercayai bahwa tidak ada sistem kasta sebuah masalah?

Bayangkan betapa tidak adil sistem kasta sebuah masalah bagi setiap orang yang secara subjektif merasa sangat menderita karena masalah yang dihadapinya, padahal level masalahnya hanya easy bagi sebagian besar orang.

Mohon jangan sepelekan subjektivisme dalam meninjau sebuah masalah. Tanpanya, seseorang tidak akan mampu mengecap pengalaman (padahal penting untuk pengidentifikasian makna). Oleh sebab itu, jangan menganggap remeh perasaan orang yang menderita oleh masalah yang menurut kita sepele. Kenyataannya, penderitaan mereka faktual ada.

Selain itu, saya mendapati banyak kasus mengenai seseorang yang tidak mampu memahami hakikat masalah di kehidupannya karena telah terlatih berpikir objektif. Mereka amat kebingungan – dengan gaya intelektual, tentu saja – terhadap keberadaan masalah yang sedang dihadapi.

Namun, baik penderitaan akibat subjektivisme atau kebingungan akibat objektivisme akan menghilang seiring bertambahnya pengalaman dan pengetahuan. Kemudian menjadi insaf bahwa sebenarnya memang ada tingkat kesulitan masalah seperti halnya permainan: easy, medium, hard.

Barangkali keinsafan tersebut juga dimiliki oleh penulis skenario drama Romance Is a Bonus Book. Mulai episode pertama hingga akhir, drama tersebut menyajikan berbagai macam masalah. Jika memang benar gaya penulisan skenarionya menggunakan pengembangan gagasan klimaks dalam metode penulisan artikel, maka benarlah asumsi saya mengenai keinsafan si penulis skenario.

Oleh sebab itu, artikel ini ingin menyajikan tiga tingkatan kesulitan permasalahan: easy, medium, hard, yang terinspirasi dari drama Korea berjudul Romance Is a Bonus Book. Namun, sebelum melangkah lebih lanjut, saya ingin menyajikan penjelasan mengenai pengembangan gagasan sebuah artikel dengan menggunakan dasar Klimaks.

Jadi, penggunaan dasar klimaks dalam merangkai gagasan pada artikel dilakukan dengan cara memperinci gagasan utama dengan gagasan bawahan yang dianggap paling rendah kedudukannya. Kemudian berangsung-angsur dengan gagasan-gagasan lain hingga ke gagasan yang paling tinggi kedudukannya atau kepentingannya. (M. Gigit, 2016. Bahasa Indonesia untuk Karangan Ilmiah. Malang: UMM Press).

Baiklah, setelah terpenuhinya tanggung jawab menjelaskan penggunaan dasar klimaks dalam perangkaian gagasan sebuah artikel, maka marilah melangkah ke pembahasan level masalah berdasarkan tingkat kesulitannya yang terinspirasi dari drama Romance Is a Bonus Book.

Easy

Bentuk permasalahan di level easy dapat ditemukan ketika kita diperlakukan tidak adil oleh orang lain.

Mengapa diperlakukan tidak adil oleh orang lain dikategorikan easy? Nanti akan terjawab di akhir artikel ini. Yang terpenting untuk menunjukkan bahwa sebuah permasalahan benar-benar easy selain diperlakukan tidak adil adalah kita sepenuhnya tahu inti permasalahannya.

Medium

Bentuk permasalahan di level medium dapat ditemukan  ketika kita berlaku tidak adil terhadap orang lain. Namun, alasan di balik perlakuan tidak adil kita terhadap orang lain masihlah dapat dimaklumi, ketika kita berada di posisi terdesak misal. Yang terpenting kita sepenuhnya paham mengenai efek jangka panjangnya bahwa tidaklah berakibat fatal.

Hard

Bentuk permasalahan di level Hard dapat ditemukan ketika kita ragu akan kebenaran jalan hidup atau penyelesaian masalah yang telah dipilih. Mengapa ragu? Karena kita tidak menemukan kepastian kebenaran di dalamnya. 

Yang jelas, permasalahan kehidupan dikatakan Hard apabila penyelesaiannya membutuhkan cara berpikir das Ding an Sich.

Perbedaan Mendasar

Perbedaan mendasar dari ketiga tingkatan permasalahan, easy, medium, hard, adalah rasa bersalah dan kejelasan permasalahan. Permasalahan dikatakan easy karena jelas bukan kita yang salah, selain itu pemecahannya pun jelas (tidak perlu merasakan dilema).

Selain itu, meskipun terdapat kejelasan pemecahan tetapi permasalahannya dikatakan medium semata karena kita yang salah dan karenanya merasa bersalah. Penyesalan adalah kata yang tepat untuk membedakan permasalahan medium dengan easy.

Sedangkan permasalahan pada tataran level hard tidak memiliki kejelasan sama sekali. Selain kemungkinan kitalah yang salah dan kesalahan tersebut berakibat fatal, padahal sebelumnya telah meyakininya sebagai sebuah kebenaran.

Penutup

Mungkin memang langkah yang tepat merumuskan macam-macam permasalahan dengan mengadaptasi sistem kasta berdasarkan tingkat kesulitnnya, seperti halnya permainan: easy, medium, hard. Meskipun kesimpulan ini terkesan menyetujui pandangan masyarakat umum yang terkadang salah.

(Perlu diingat, terkadang dalam satu lingkungan seluruh anggota masyarakatnya menganggap gila satu orang yang tidak sepaham dengan mereka, padahal bisa jadi merekalah yang gila).

Bagaimanapun saya hanya meraba, istilah Jawanya bebadra yang berarti membangun dari dasar. Membangun apa? Membangun struktur pengetahuan dalam pikiran. Berbeda dengan nayaka yang setaraf dengan para wali ataupun nabi yang diberi pengetahuan langsung dari langit.

Catatan: Saya paling suka dengan gagasan profesionalisme yang dibawa Romance is a Bonus Book. Profesionalisme yang indah, karena para tokoh di dalamnya berusaha mencapainya tanpa mencederai apa pun atau perasaan siapa pun, termasuk dirinya sendiri.

Maka benarlah pemilihan judul Romance is a Bonus Book. Buku romansa adalah bonus, sedangkan buku utamanya adalah para tokoh di dalamnya. Mungkin buku tidak membawa perubahan tetapi ia membawa kehangatan bagi setiap pembacanya (kutipan tersebut saya ambil dari drama Romance is a Bonus Book). Jadi, maukah kita hidup laiknya sebuah buku dan membaca serta memahami orang di dekat kita?