Di zaman resesi dunia pekerjaan sangat sukar
Juga pendidikan...
Di sudut-sudut jalanan banyak pengangguran
Jadi preman 'tuk cari makan...

Masih ingat dengan lagu ini? Karya Ikang Fawzi yang berjudul Preman ini dirilis tahun 1987. Namun, dia kembali relevan pada tahun 2020 ini. Mengapa? Sebab kita kembali mengalami hal yang sama. Iya, kita berada di pangkal resesi.

PDB Singapura sudah berkontraksi 41,2%. Sementara, PDB Indonesia diperkirakan mengalami penurunan sebesar 4,3%. Begitu pula dengan negara-negara lain. Mayoritas mengalami minus growth. Persis seperti yang terjadi pada zaman resesi dunia 1987.

Akan tetapi, karakteristik zaman resesi COVID ini berbeda. Jika ekonomi adalah orang, maka pemicu resesi adalah centeng yang menggebuk. Pada tahun 1987, ekonomi dunia digebuk dari satu sisi. Namun pada tahun 2020, kita digebuk dari dua sisi secara bersamaan. Bagaimana bisa?

Mari kita kupas masing-masing zaman. 1987 adalah tahun di mana Black Monday terjadi. Penurunan indeks pasar saham secara global ini mengawali resesi yang terjadi sampai tahun 1992. Artinya, resesi ini dipicu dari terjadinya kontraksi wealth effect secara makro.

Apa itu wealth effect? Istilah ini menggambarkan hubungan positif antara konsumsi/consumption dengan nilai kekayaan rumah tangga/wealth (Liberto dalam investopedia.com, 2019). Artinya, semakin tinggi tingkat kekayaan rumah tangga, semakin tinggi pula konsumsinya dan sebaliknya. Dalam teori ini, diasumsikan bahwa konsumen adalah investor di pasar modal.

Sehingga, ketika pasar saham secara global crash, nilai kekayaan rumah tangga menurun drastis. Maka, animal spirits kembali menguasai konsumen dan membuat mereka over-pessimistic. Pesimisme inilah yang membuat mereka mengurangi konsumsi.

Selanjutnya, pengurangan konsumsi rumah tangga membuat permintaan agreggat (agreggate demand/AD) mengalami penurunan. Jika AD menurun, maka tingkat harga dan PDB riil keseimbangan baru menjadi lebih rendah dibanding sebelumnya. Berikut adalah ilustrasinya.

Sumber: Dokumentasi pribadi

Output yang mengecil inilah yang membuat pekerjaan sangat sukar. Juga pendidikan karena penerimaan pajak pemerintah menurun drastis. Sehingga, pengangguran semakin banyak. Lantas, mereka pun memilih jalan kriminalitas/menjadi preman untuk mencari makan.

Berbeda dengan zaman resesi COVID ini. Tanpa pandemi Corona, ekonomi dunia memang akan mengalami resesi seperti 1987. Akan tetapi, kehadiran wabah global ini membuat masalah semakin parah dan kompleks.

Ketika penularan COVID-19 menjamur, seluruh dunia bereaksi dengan pembatasan kontak sosial, dalam satu dan lain cara. Pembatasan ini membuat kegiatan ekonomi yang memerlukan kontak langsung menjadi jauh berkurang. Dampaknya, terjadi supply shock dan demand shock negatif secara simultan. Dengan kata lain, agreggate supply and demand menurun bersamaan.

Agreggate Supply (AS) menurun karena pembatasan kontak sosial menghentikan kegiatan produksi. Selanjutnya, AD juga menurun karena konsumen harus stay at home. Terlebih lagi, banyak konsumen mengalami penurunan pendapatan karena dirumahkan/di-PHK.

Dampaknya, terjadi dua pergeseran jangka pendek sebagai berikut:

Sumber: Dokumentasi pribadi

Paham perumpamaannya? Pergeseran ke kiri dari AD/AS adalah gebukan bagi perekonomian secara makro. Jika pada zaman resesi dunia 1987 perekonomian hanya digebuk sekali lewat AD, maka zaman resesi COVID 2020 menggebuk perekonomian dua kali lewat AD dan AS.

Maka dari itu, solusi untuk menghadapi zaman resesi COVID ini berbeda dengan resesi biasa. Solusi tersebut tidak hanya harus mendorong AD lewat countercyclical policy. Dia juga harus mampu menggairahkan sisi penawaran agar AS bergeser ke kanan. Bagaimana caranya?

Pertama, tingkatkan kemudahan berbisnis di Indonesia. Potong regulasi dan prosedur yang menghalangi penciptaan bisnis (domestik maupun multinasional) di Indonesia. Menurut hemat penulis, meloloskan RUU Cipta Kerja menjadi langkah awal yang bagus. Namun, dia perlu dilanjutkan dengan bonfire of regulations and taxes yang lebih radikal lagi untuk mendorong AS.

Kedua, potong juga tarif PPh 21 atau pajak penghasilan pribadi. Pemotongan tarif pajak langsung ini dapat mendorong AD dan AS sekaligus. Permintaan agreggat didorong lewat peningkatan konsumsi karena pendapatan disposabel rumah tangga meningkat. Selanjutnya, peningkatan ini membuat insentif untuk bekerja meningkat. Dampaknya, AS menggeliat.

Ketiga, hapus PPh 23 atau pajak atas bunga, dividen, royalti, dan lain sebagainya. Selama ini, pajak atas bunga dan dividen adalah salah satu penyebab rendahnya tingkat tabungan dan kepemilikan modal di Indonesia. Menghapus pajak ini dapat mendorong tingkat tabungan dan ketersediaan modal. Akibatnya, AS bisa bergeser ke kanan.

Kempat, terapkan pajak karbon (carbon tax) untuk menutup penerimaan pajak yang hilang. Melalui pajak ini, fokus basis perpajakan akan berpindah menuju arah yang benar. Dari yang sebelumnya taxing incomes and jobs menjadi taxing bad behaviour bernama kegiatan emisi karbon. When you tax something, its quantity would fall. Dampaknya, geliat pemulihan kegiatan ekonomi akan lebih green dibandingkan sebelumnya.

Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa zaman resesi sudah berubah. Kini, zaman resesi dunia berganti dengan zaman resesi COVID. Karakter resesi yang berubah membutuhkan solusi yang lebih komprehensif. Solusi itu membongkar dua sisi perekonomian secara makro agar terjadi pemulihan ekonomi nasional yang cepat dan berkelanjutan.

Masalah tidak akan selesai dalam semalam. Maka dari itu, kita harus mulai dari sekarang untuk menyelesaikannya.