Keberadaan surga di bawah telapak kaki ibu adalah kebenaran yang tidak diragukan. Idealnya, dalam segala praktik hidup anak harus mempertimbangkan peran ibu sebagai bentuk bakti kepadanya dan itu pula salah satu anjuran agama yang tidak boleh disepelekan.

Satu lagi, budaya nenek moyang kita pun lekat dengan segala bentuk unggah-ungguh terhadap orang yang lebih tua. Hipotesis dari gejala di atas, keragamaan nilai budaya itu kurang lebih substansinya sama, membentuk kepribadian anak yang patuh.

Masalahnya, dalil-dalil di atas kadang dipahami orangtua dengan aktualisasi yang over legitimate. Ya, terkadang dipakai pula sebagai jangkar untuk pembenaran dan dasar memberi larangan para orangtua terhadap anak, guna menghindari kesalahan prinsipil anak dalam hal etika dan moral. Dalam arti lain, anak harus menurut.

Pun seolah-olah, saking over legitimate-nya orangtua, posisi anak tidak pernah diuntungkan. Dus, tidak jarang kesalahan kecil dari anak disikapi dengan kemarahan berlebihan, sampai terkesan tidak ada celah bahkan untuk sekadar klarifikasi maksud dan tujuan mengapa anak sampai berbuat tidak sesuai kehendak orangtua.

Dengan asumsi itu, terbangunlah sebuah kebudayaan dalam keluarga yang menjadikan orangtua tak tersentuh dan tanpa bisa dikritik. Parents can do no wrong.

Terutama budaya Jawa, anak yang berani mengkritik orangtua cenderung sulit diterima secara kebudayaan. Karena jika hal itu terjadi, penyampaian kritis dari anak terkesan tidak sesuai dengan sopan santun atau bertentangan dengan nilai religiositas yang dianut.

Orangtua dan budayanya tidak akan memedulikan substansi dari sebuah kritik oleh anak. Karena fokus permasalahan dialihkan sedemikian rupa menjadi masalah bentuk dan cara menyampaikan kritik, yang sarat dengan sensitifitas norma dan nilai tadi. Ini bukan syak-wasangka karena gejala sosial yang terjadi umumnya seperti itu.

Terlihat di sini bahwa unggah-ungguh mendapat preferensi dibandingkan dengan kebenaran sebuah kritik. Syahdan, paradigma inilah yang mungkin menarik ilmu sosial untuk secara ilmiah mempersoalkan dampaknya bagi perkembangan mentalitas anak.

Psikologi berpendapat, pola seperti itu tidak sehat bagi kondisi mental jangka panjang anak. Pada banyak kasus, kemudian dalam diri anak terbentuk self-criticism. Dalam kamus lengkap psikologi J.P Chaplin (2005), poin kedua dari definisi self-criticism adalah pengenalan dan pengakuan bahwa prestasi sendiri itu tidak memiliki sifat-sifat yang dikehendaki oleh standar sosial atau seperti yang diharapkan atau ditentukan oleh diri sendiri.

Menjadi tidak bijak jika orangtua terus melakukan pengekangan, sambil di lain sisi tetap mempertahankan dalil-dalil untuk membenarkan hal yang dalam domain moral versi orangtua menjadi juklak-juknis menyelenggarakan institusi keorangtuaan untuk kemudian terpaksa dipatuhi buta oleh anak. Hal ini hanya semakin mempertajam jarak vertikal antara orangtua dan anak.

Secara tidak langsung ekses dari hal tersebut sekurang-kurangnya yaitu tumbuhnya sikap fatalistis-pesimistis dari anak, self-criticism itu tadi. Saking tidak pernah dipertimbangkannya sikap dan pendapat anak terhadap hal-hal yang dikehendaki orangtua.

Kita sudah sering mendengar kisah tentang perintah Tuhan kepada Nabi Ibrahim. Coba anda bayangkan kalau saja Nabi Ibrahim tanpa basa-basi, tanpa mengadakan sesi dengar pendapat dengan Nabi Ismail, langsung menyembelih putra terkasihnya itu ketika ia tertidur pulas.

Apa yang sering kita ekspos dari kisah tersebut melulu soal keteladanan Nabi Ismail untuk mengorbankan diri atas perintah Tuhan. Kita jarang untuk kemudian menarik hal yang tak kalah serius, tentang yang dilakukan Nabi Ibrahim sebelum perintah Tuhan itu terlaksana.

Sekilas terlihat, bahkan perintah yang levelnya dari Tuhan langsung itu, tidak membuat Nabi Ibrahim mendiskreditkan pendapat Nabi Ismail, sang anak tercinta. Bayangkan saja betapa serunya sesi dialog tentang hidup-mati antara ayah dan anak tersebut, mungkin sambil ngopi dan leyeh-leyeh di teras rumah.

Andai saja banyak orangtua belajar seperti yang Nabi Ibrahim lakukan, alangkah indahnya hubungan dalam sebuah tali kekeluargaan, yang tidak mendiskreditkan sedikit pun kehadiran anak seperti itu.

Lantas, jika berkaca pada berbagai persoalan yang menuntut adanya konsensus intersubjektif ini, masih relevankah orangtua untuk mengambil jarak dari anak dan cenderung bersikap antikritik atau sudah saatnya untuk meletakan anak sebagai wacana kontrol dan kritik terhadap orangtua?

Menarik memang. Sejarah panjang konstruksi realita simbolik lewat penguatan peran dan fungi sejak berabad abad lamanya, telah menjadikan orangtua sebagai institusi yang paling agung dan berwibawa, yang mengayomi penuh kasih di hadapan anak. Namun sekarang, seolah realita sosial sedikit demi sedikit mereduksi kekuatan realita simbolik orangtua itu.

Terbukti, banyak kasus yang terjadi, yang pada akhirnya hanya merugikan anak. Karena sebelumnya tidak menyertakan pendapat, saran dan kritik, atau minimal diketahui anak. Bijaksanakah kalau hanya menuntut anak melakukan kehendak orangtua bahkan tanpa sedikit pun mendengar apa pun darinya secara serius?

Sudah siapkah masyarakat secara sosio-kultural melibatkan anak dalam hal mengambil keputusan, untuk kemudian diterjemahkan secara operasional, taktis dan teknis secara kolektif dalam keluarga?

Marilah para orangtua untuk mengubah paradigma yang sudah mengakar kuat, sertakan anak dalam setiap kejadian, dengarkan kritik dan saran mereka. Mulailah membudayakan institusi keluarga untuk mengambil sikap terhadap sudut pandang objektif yang diutarakan anak.

Anggap saja kritik anak adalah doa bagi orangtua. Maka, orangtua mana yang tidak dengan lapang dada untuk setiap hari menerima satu dari tiga hal yang tidak berhenti mengalirkan pahala, walaupun sudah meninggalkan dunia ini.