Sebelum pergantian tahun 2018. Saya iseng melihat kanal Youtube Cameo Project. Dalam kanal tersebut Cameo Project membuat konten bersama Deddy Corbuzier. Seorang pensiunan mentalis yang nyari duit sebagai presenter dan main Youtube disela-sela kesibukannya. Di Video itu, Deddy Corbuzier membahas tentang konten yang bersebaran di dunia digital. Baginya 70% masyarakat Indonesia sangat menyukai konten murah. Murah dalam arti modalnya dikit tapi laku keras. Contohnya adalah ngatain orang di internet, nyebar berita hoax hingga ngomongin masalah pribadi secara live.

Saya tidak akan membahas tentang produsennya. Saya punya dua alasan untuk itu. Pertama, karena hal ini sudah dibahas oleh banyak orang dengan berbagai pendekatan. Kedua, karena saya sadar mereka melakukan itu semata-mata karena bisnis. Jadi apapun konten "murah" yang dibuat produsen hanya bagian dari kelansungan bisnis mereka. Semurah-murahnya konten yang mereka buat pasti butuh biaya untuk membayar orang dan akomodasi kebutuhan-kebutuhan teknis.

Jaman sekarang sudah memasuki era digital yang membuat Youtube menjadi pelarian dimana stastun TV masih menjual konten murah. Hingga Young Lex dan sekutunya mengklaim merekalah sang penyelamat dimana Stasiun TV lebih mengejar materi. Sekelompok Ganteng-Ganteng Swag jika kalian masih ingat dengan mereka. Dimana seruan "Youtube.. Youtube.. Youtube.. Lebih dari TV" berkumandang.

Ada benarnya kalau Youtube sudah mulai mendominasi kehidupan kita dalam mencari hiburan. Banyak waktu kita dihabiskan untuk menonton Youtube daripada TV. Belum lagi banyak smartphone dengan harga satu jutaan beredar dipasaran membuat semua orang bisa mengakses dengan mudah. TV sepertinya mulai bergeser menjadi media untuk menonton dagelan politik dari para pejabat dengan dipandu wartawan yang cameragenic.

Waktu tahun 2016, saya setuju dengan "Youtube lebih dari TV". Lantaran banyaknya konten yang dilarang TV namun bisa dibuat di Youtube. Youtube membebaskan semua orang untuk membuat konten yang mereka suka dan tidak perlu khawatir karena KPI tidak bisa menegur kreator Youtube. Sayangnya mulai 2017 saya mulai tidak setuju dengan "Youtube lebih dari TV" Sekarang yang terjadi adalah Youtube sama dengan TV.

Sepanjang 2017 banyak drama yang terjadi di sosial media. Youtube juga menjadi kanal yang favorit untuk membuat drama. Dimulai dari kasus Laurantius Rando yang mintain ceban sama fansnya kalau minta foto. Ada juga AA Utap, mantan rekan Rando yang melanggar lalu lintas dengan dalil memiliki subscriber 350k. Hingga banyaknya orang yang merekam tayangan TV lalu diunggah ulang di Youtube dengan membuat judul yang dramatis. Secara komersil emang laku karena mendatangkan banyak subscriber dan iklan yang menambah nominal rekening sang pengunggah. Secara strategi pembuatan konten justru sama persis dengan apa yang dilakukan TV. Yaitu membuat drama dan menyampaikan berita yang sama antara stasiun TV. 

Hal ini juga yang membuat trending di youtube didominasi konten-konten drama dan konten TV yang diunggah ulang. Sedangkan konten yang dibuat oleh youtuber sendiri hanya beberapa yang nyantol di trending youtube.

Sungguh ironi apabila banyak orang selingkuh ke youtube karena TV menjual konten-konten murah namun youtube justru didominasi konten-konten murah yang sama persis dengan TV. Deddy Corbuzier juga membuat pernyatan yang sama dikanal youtubenya. Ia juga heran mengapa youtube yang katanya lebih dari TV justru banyaknya acara TV yang diupload di youtube dan beberapa youtuber membuat drama dalam kanal youtube mereka seperti halnya sinetron atau pejabat yang terkena kasus korupsi.