12637_65764.jpg
www.portal-islam.net
Agama · 2 menit baca

Boleh Saja Tidak Setuju Dengan Poligami, Tetapi Jangan Kelewatan!

Masih hangat di ingatan kita tentang polemik Ustadz Arifin Ilham yang memperlihatkan kemesraanya bersama ketiga istrinya. Apa yang terjadi saat ini, memang mengingatkan kita kepada apa yang pernah menimpa Ustadz Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) yang saat itu pernah menimbulkan polemik karena berpoligami. Entah kenapa juga, ketika seorang pemuka agama melakukan sebuah perbuatan yang sebenarnya tidak melanggar kaidah keagamaan yang ia anut, malah menjadi sorotan yang amat tajam dari masyarakat. 

Padahal, yang melakukan hal yang serupa dari kalangan masyarakat biasa juga ada, atau bahkan yang melakukan pelanggaran norma pun tak kalah banyaknya, namun masyarakat tidak seheboh saat melihat persoalan poligami dari pemuka agama ini. Ya, harus diakui, setiap yang dibenarkan di dalam sebuah norma, belum tentu bisa diterima secara universal. Adakalanya, kaidah-kaidah tersebut bertabrakan dengan struktur sosial masyarakat.

Rasanya, persoalan itu sudah selesai dan kita harus menentramkan hati dengan segala polemik tersebut. Nah, sekarang yang perlu untuk diperbaiki adalah tentang sikap dan bentuk tanggapan kita terhadap persoalan yang terkait dengan poligami ini.

Tidak bisa dipungkiri, persoalan poligami ini memang menimbulkan penilaian yang miring terhadap orang yang melakukannya. Berpoligami itu selalu diidentikan dengan tukang kawin, mudah jatuh cinta, tidak setia, ataupun memiliki kebutuhan biologis yang berlebihan. Kita bisa melihat bentuk tanggapan dari para warganet, terutama yang menolak poligami ini. Secara terang-terangan ia menilai orang yang berpoligami itu sebagai sosok manusia yang tidak bisa menempatkan penghargaan yang tinggi kepada kaum wanita.

Lantas, apakah benar penilaian yang demikian? Apakah kita bisa langsung menjustifikasi orang yang berpoligami itu dengan penilaian yang demikian?

Tentu saja, kita perlu mengingat kembali bahwa sebuah pernikahan itu bukanlah sebuah jalinan yang mengedepankan aspek biologis dan emosional belaka. Ada hal-hal penting lainnya yang lebih sakral dan sepatutnya harus kita kedepankan. Yakni, yang terkait dengan tanggung jawab, komitmen, serta penguatan jalinan sosial yang tentunya akan menjaga kehidupan sosial, agar terhindar dari perkara yang merusak norma dan moral.

Jika berbicara pernikahan dalam perspektif Islam, kita akan menemukan penjelasan bahwa pernikahan itu wujud penyempurnaa agama, serta dipandang sebagai sebuah ibadah yang memiliki derajat yang tinggi. Terkait dengan poligami, atau menikahi lebih dari satu istri. Islam sebenarnya memiliki tuntunan yang amat ketat dan harus dipenuhi. Mulai dari bagaimana mengkondisikan agar tidak terjadinya konflik, hingga penegasan bahwa yang layak untuk berpoligami itu hanyalah yang bisa untuk adil dengan seadilnya, sebagaimana yang ditegaskan di dalam Surah An-Nisa ‘Ayat 3.

Dengan demikian, sudahlah tentu kita harus berhati-hati dalam memberikan pandangan mengenai pernikahan, terutama yang berkaitan dengan poligami. Alangkah sempit dan dangkal rasanya jika kita langsung menyematkan penilaian bahwa yang menikahi lebih dari satu orang istri itu sebagai orang yang memiliki tabiat negatif. Penting bagi kita untuk memahai hal-hal yang sifatnya prinsipil seperti ini, agar kita tidak keliru dalam memberikan penilaian.

Kita boleh saja tidak setuju dengan adanya poligami, atau bahkan menolaknya secara terang-terangan. Namun, alangkah lebih baik jika penolakan tersebut tidak diikuti dengan penilaian-penilaian yang bisa dikatakan melenceng dan tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya. Lagipula, jika penolakan tersebut masih beragkat dari sebuah alasan yang sifatnya subjektif. Itu sudah tentu tidak akan bisa diterima dan bias. Karena persoalan yang seperti ini, tidak bisa dinilai dari satu sisi saja, apalagi jika hanya berangkat dari penilaian yang subjektif dan berindikasi luapan kemarahan, ataupun kekecewaan.

Jadi, marilah kita perbaiki kembali cara kita dalam memberikan penilaian. Meskipun kita menolak, namun kita tetap memiliki cara yang sesuai dan tidak serampangan dalam memberikan penilaian.