Jika hidupmu susah di dunia, apakah lantas kamu boleh menyusahkan hidup orang lain demi janji-janji surga?

Isu terkait keyakinan termasuk sensitif yang tidak selalu bisa dibicarakan sembarangan. Ada yang dengan tegas dan lantang membela apa yang diyakini sebagai kebenaran, meski tak sedikit pula yang enggan berkomentar. Entah lantaran sekadar cari aman, atau memang ogah turut memperkeruh suasana. Ada pula yang berani berkoar-koar membela keyakinan, meski berlindung di balik akun-akun palsu media sosial.

Sebagaimana hukum dalam suatu negara yang menggunakan kitab undang-undang sebagai pedoman, keyakinan juga punya pedoman hidup yang terangkum dalam masing-masing kitab suci. Baik kitab undang-undang maupun kitab suci sama-sama dapat dijadikan bahan pedoman bagaimana kita memperlakukan orang, termasuk alasan pembenaran tindak terorisme.

Menafsirkan nukilan kitab suci secara sembarangan dapat berakibat fatal apabila lantas dituturkan oleh orang-orang yang dianggap pemuka agama. Paham-paham sesat yang meyakini bahwa penyerangan dan penghilangan nyawa bukan termasuk sebagai dosa tentu bertolak belakang dengan nilai-nilai universal.

Sejujurnya, saya tidak betul-betul mengenal secara personal orang-orang yang menganut paham radikalisme hingga mengarah pada tindak terorisme. Saya tidak mampu merinci ayat mana yang menghalalkan darah orang-orang di luar kaum tertentu. Saya juga enggan menelusuri mesin pencari hanya demi mengutip sumber-sumber yang tidak saya yakini. Tidak adil rasanya apabila minoritas semacam saya berani mengutip kitab suci mayoritas hanya bermodalkan kuota.

Penafsiran nukilan kitab suci secara sembarangan tentu berlaku pada kitab suci semua agama. Sebagai contoh, berikut sepotong ayat dari kitab suci terdekat yang dapat saya temukan.

“Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah” (Matius19:24)

Apabila nukilan kitab suci di atas hanya ditafsirkan begitu saja, apakah berarti orang kaya sebegitu susahnya masuk surga? Apakah menjadi kaya adalah sebuah dosa? Bagaimana apabila kekayaan tersebut diperoleh karena warisan keluarga atau keberuntungan-keberuntungan lainnya? Bagaimana jika kekayaan tersebut murni diperoleh berdasarkan kerja keras dan usaha tanpa samasekali merugikan lingkungan dan umat manusia? Bagaimana jika si kaya tidak pernah lupa bersedekah atau membantu sesama? 

Penafsiran terhadap kisah-kisah maupun perumpamaan yang dituturkan dalam kitab suci sesungguhnya rawan penyalahgunaan. Menafsirkan  idealnya disesuaikan dengan kondisi zaman yang tengah berjalan. Padahal, jika merujuk pada satu cerita secara utuh, bacaan kitab suci tersebut menceritakan tentang seorang anak muda kaya-raya yang mempertanyakan bagaimana caranya agar dapat masuk ke Kerajaan Allah. Si anak muda kaya raya lantas bermuram durja lantaran ditantang untuk meninggalkan segala sesuatu yang dimilikinya demi janji untuk hidup abadi di surga. Intinya adalah, hal-hal duniawi harus ditinggalkan, sebab kekayaan tidak akan kamu bawa sampai liang kubur.

Himbauan untuk tidak mengutamakan keduniawian diyakini pula oleh penganut mayoritas. Bicara soal kesenjangan sosial, saya rasa ilustrasi tadi cukup masuk akal apabila dikaitkan dengan kecenderungan pelaku teror di Indonesia. Berdasarkan pemahaman saya, rata-rata para pelaku tindak terorisme kerap diberitakan berasal dari kalangan ekonomi bawah atau memiliki latar belakang pendidikan rendah. Perlu digarisbawahi bahwa pelaku yang yang dimaksud dalam tulisan ini adalah mereka yang terjun langsung ke lapangan dan melakukan tindakan-tindakan keji seperti penyerangan maupun pengeboman. Bukan otak dari segala tindakan tersebut.

Meski konon hidup di dunia hanya sementara,  keputusan seseorang menjadi pelaku tindak terorisme justru berakar dari kekecewaan terhadap kehidupan duniawi itu sendiri. Kemiskinan sebagai representasi dari ketidakmampuan ekonomi merupakan salah salah satu bentuk konkritnya. Tengok saja pengakuan para perempuan Indonesia yang tergiur mengikuti ISIS . Selain demi agama, mereka memiliki harapan untuk hidup yang lebih nyaman dan sejahtera. 

Nurshardrina Khairadhania, salah seorang perempuan Indonesia bahkan mengajak serta keluarganya untuk memulai hidup konon yang lebih baik di Suriah. Ketertarikan Nur terhadap ISIS bermula dari informasi yang diperolehnya melalui sebuah blog. Oleh ISIS, Nur dan keluarganya dijanjikan dapat terbebas dari persoalan ekonomi yang tengah mereka hadapi seperti jeratan hutang dan biaya pendidikan. Selain itu, ongkos perjalanan ke Suriah bahkan akan diganti setiba di sana. 

Ada pula Leefa, perempuan Indonesia yang tergoda mengikuti ISIS agar bisa mendapatkan operasi leher secara cuma-cuma. Leefa tak sanggup menanggung mahalnya biaya operasi di Indonesia. Sebagaimana dilansir dari CNN Indonesia, Leefa berharap dengan mengikuti ISIS ia bisa menjadi seorang muslim sejati serta terbebas dari penyakitnya.

Baik Nur maupun Leefa sama-sama menyatakan menyesal dengan keputusan mereka mengikuti ISIS. Mereka merasa dibohongi setelah terkatung-katung sebagai pengungsi. Mereka juga mengaku kecewa lantaran perlakuan ISIS di sana jauh dari bayangan mereka.

Tak hanya menjanjikan kehidupan yang lebih baik di dunia, janji-janji surgawi turut ditawarkan oleh penganut paham terorisme. Rasa takut dan gelimpangan korban jiwa diyakini dihargai dengan menikmati indahnya surga bersama para bidadari jika para pelaku teror rela turut tewas dalam aksinya. 

Propaganda terorisme menawarkan utopia paket hemat sukses dunia-akhirat. Membunuh orang-orang yang dianggap musuh seakan menjadi jalan pintas untuk membebaskan diri dari permasalahan duniawi. Padahal, membunuh adalah tindakan yang jelas-jelas melanggar Hak Asasi Manusia. Menjadi pelaku  teror merupakan tindakan egois. Mereka tidak akan memikirkan bagaimana nasib korban serta orang-orang yang ditinggalkan. 

Memiliki keyakinan sebagai pedoman hidup, tentu sah-sah saja. Namun demikian, ada baiknya kita tetap menyisipkan keragu-raguan pada hal yang kita yakini. Keragu-raguan ini bukan berarti menihilkan kehadiran Tuhan yang diyakini sebagai Yang Maha Kuasa. Keyakinan yang mengarah pada fanatisme buta  dapat menghambat dinamika kehidupan yang semestinya berjalan. 

Sedikit keragu-raguan memberi kita ruang untuk tetap berpikir lebih jernih tentang apa yang seharusnya kita lakukan maupun tidak kita lakukan. Berkeyakinan bukan berarti menutup diri terhadap diskusi-diskusi dengan liyan. Berlaku kritis terhadap apa yang kita yakini tetap diperlukan demi menjaga kewarasan.