Beberapa saat belakangan ini banyak sekali seruan untuk melakukan boikot terhadap Perancis, terutama terhadap produk-produknya. Hal ini tidak lain disebabkan karena pidato Presiden Perancis, Emanuel Macron yang memicu ketersinggungan sebagian umat muslim. 

Dalam pidatonya, Macron mengatakan bahwa pembuatan kartun penghinaan terhadap Nabi yang dibuat oleh tabloid Charlie Hebdo adalah bagian dari kebebasan berekspresi di Perancis.

Banyak pemimpin negara yang mayoritas muslim menganggap pidato Macron tersebut menyinggung umat Islam, sehingga Macron mendapat banyak sekali kecaman dari negara-negara tersebut. Pemboikotan terhadap produk-produk Perancis tidak bisa dibendung di negara muslim yang sebagian besar berada di jazirah Arab.

Saya sebenarnya sedang tidak membahas polemik yang terjadi mengenai pidato Macron yang dianggap membuat tersinggung banyak kalangan di negara mayoritas muslim, dan saya juga sedang tidak minat membahas kalangan yang merasa tersinggung tadi akabat dari pidato Macron. Saya ingin membahas mengenai seruan boikot produk Perancis yang saat ini sedang membahana di seantero jagat medsos belakangan ini.

Sebelum saya membahas mengenai urusan boikot-memboikot, saya ingin memberikan sedikit pandangan mengenai kronologis umum kejadian ini. Awalnya dimulai dari Presiden Perancis yang melakukan pidato pada tanggal 02 Oktober yang lalu, yang salah satu isinya mengatakan bahwa kartun penghinanaan kepada Nabi yang dibuat oleh tabloid CH itu adalah pengejawantahan dari kebebasan berekspresi yang diatur oleh undang-undang di sana. 

Kasus keduanya adalah mayoritas negara muslim bereaksi terhadap pidato tersebut dan mengatakan bahwa itu adalah penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw. dan mengajak seluruh umat muslim untuk tersinggung. Kasus ketiganya adalah seruan untuk memboikot seluruh produk yang beraviliasi dengan Perancis.

Kalau mau jujur, apakah ada yang salah dengan apa yang dilakukan oleh Presiden Macron? Dia hanya mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh tabloid CH dengan menampilkan karikatur itu adalah pengejawantahan dari kebebasan berpendapat di Perancis dan itu dilindungi oleh undang-undang. 

Kalau memang bunyi undang-undangnya demikian, tentu tidak ada yang salah dari apa yang dilakukan oleh Macron. Itu undang-undang Perancis, yang melakukan orang Perancis dan dilakukan di Perancis. Kalau melihat fakta tersebut, tentunya tidak ada yang salah.

Sebagai orang yang mendengar pidato Presiden Macron, apa boleh Anda merasa tersinggung dan marah? Tentunya boleh juga, karena di sini tidak ada undang-undang juga yang melarang orang tersinggung. Anda menjadi salah jika mengungkapkan ketersinggungan dan kemarahan dengan melakukan pelanggaran hukum, seperti memenggal kepala orang, atau membunuh dan lain sebagainya.

Bagaimana cara menyalurkan protes Anda akibat rasa ketersinggungan itu? Banyak hal yang bisa dilakukan, misalnya melakukan demo yang damai, membuat tulisan mengenai protes Anda di media-media daring, membuat acara diskusi atau boikot juga boleh, sih kalau ada yang mau, soal beli atau tidak membeli juga merupakan hak seseorang. 

Saya tertarik membahas soal boikot ini nanti. Intinya anda bebas melakukan reaksi apapun, sejauh itu tidak melanggar hukum. Itu yang namanya kebebasan berekspresi.

Apa Anda yakin dengan melakukan boikot terhadap produk-produk Perancis, maka urusan menjadi beres? 

Saya rasa tidak akan memberikan dampak yang signifikan. Sudah banyak contoh di tanah air mengenai hal boikot-memboikot ini. Ingat kasus Sari Roti yang diboikot gegara memberikan pernyataan tidak terlibat dalam semua kegiatan politik saat Aksi 212 yang lalu. Apakah boikot itu membuat perusahaannya jadi bangkrut? Tentu tidak, efeknya hanya membuat penjaja keliling roti tersebut menjadi sepi.

Efeknya justru tidak tepat sasaran, tukang roti keliling itu yang menjadi korbannya, dia tidak bisa mencari nafkah dengan baik. Apakah terpikir jika tukang roti itu punya keluarga? Istrinya, anaknya, semua terdampak akibat aksi boikot produk tersebut.

Jika boikot terhadap produk Perancis ini dilakukan dan anggaplah kegiatan boikot tersebut sukses, apa yang akan terjadi selanjutnya? Saya rasa akan sama seperti yang terjadi terhadap produk Sari Roti. Efeknya tidak membuat Presiden Perancis bertobat atau pembuat kartunis di tabloid CH menjadi mualaf. Dampaknya akan membuat saudara sebangsa kita sendiri yang bekerja pada perusahaan aviliasi Perancis susah hidupnya.

Sebutlah Anda mau memboikot produk yang sangat terkenal yaitu Danone, yang memiliki saham terbesar dari Aqua. Danone mengelola sekitar 30 pabrik besar dan itu membuka sekitar 25 ribu lapangan kerja langsung dan 50 ribu lapangan kerja tidak langsung, berupa supplier, jasa transportasi dan layanan lain di luar pabrik. Total ada 75 ribu tenaga yang mendukung operasional bisnis Danone di Indonesia.

Anggaplah setiap orang memiliki seorang istri/suami dan dua orang anak. Itu artinya Danone mempengaruhi dan menghidupi sekitar 300 ribu jiwa di Indonesia. Bayangkanlah, itu adalah jumlah orang Indonesia yang akan merasakan dampak langsung jika boikot dilakukan. 

Sekedar gambaran saja, 300 ribu orang itu bukan jumlah yang sedikit. Hanya segelintir konglomerasi lokal di Indonesia yang mempengaruhi hidup 300 ribu orang. Mungkin hanya Salim Grup, Djarum, Sinar Mas, Wings Grup dan Mayora, selebihnya adalah perusahaan multi nasional sekelas Astra Internasional, Sampoerna, Unilever, Nesle dan Heinz.

Atau Anda mau memboikot Carrefour, perusahaan retail asal Perancis itu? Di sana juga banyak saudara-saudara kita yang menggantungkan hidupnya dan hidup keluarganya. Ingat pepatah lama, “Jika mau membasmi tikus, maka jangan bakar lumbungnya”. 

Kalau Anda melakukan boikot, justru Anda membakar lumbung banyak orang yang menggantungkan hidupnya pada lumbung tersebut. Basmi tikusnya saja kalau memang tikusnya yang salah.

Saya tidak sedang membela Presiden Macron atau mengatakan membuat kartun penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw. Itu adalah tindakan yang benar, Saya hanya sedang menyampaikan untuk meletakkan segala sesuatu pada porsinya, dan bersikap adil sejak masih dalam pikiran. 

Coba kita berandai-andai sejenak, anggaplah apa yang dilakukan oleh Presiden Macron atau pembuat karikatur penghina Nabi adalah hal yang salah. Jika mereka salah, maka yang disasar adalah dua pihak itu saja, bukan yang lain. Apakah seluruh orang Perancis salah, tentu tidak juga. Jadi, bersikaplah bijaksana…