Mahasiswa
1 minggu lalu · 150 view · 4 min baca menit baca · Lingkungan 25785_68635.jpg
Foto: Pixabay

Boikot Jelang PLHK 2019

Tahun 2015, saya pernah tergeletak lemas di samping plang besi berkarat bertulis Suaka Margasatwa Pegunungan Tinggi Hyang. Bukan karena kesambet jin atau lainnya, namun hanyalah sesi rehat pendakian berlarut di wilayah konservasi seluas empat kabupaten di Jawa Timur itu.

Sambil memandangi plang yang catnya sudah banyak terkelupas itu, saya tersadar bahwa diri ini berada di dalam kawasan terbatas. Yang artinya, harus jaga sikap dan perbuatan agar tidak merugikan dan merusak kelestarian wilayah konservasi tersebut. 

Kawasan suaka margasatwa adalah wilayah konservasi yang masih boleh dikunjungi, namun dalam batasan-batasan dan syarat tertentu. Suaka margasatwa berbeda dengan kawasan cagar alam dalam hal restriksi kunjungnya. 

Kawasan cagar alam tidak boleh dikunjungi kecuali untuk penelitian dan hal lain yang sudah diatur ketetapannya. Apalagi mengalihfungsikan dan menurunkan statusnya ke bentuk konservasi lain, sangat dilarang sekali! Cagar alam ibarat sebuah harga mati bagi komponen pelestarian alam di Indonesia yang mulai kritis ini.

Bagi masyarakat yang masih awam dengan restriksi kunjung cagar alam, tentu akan seenaknya memasuki kawasan terbatas tersebut. Termasuk yang sudah terjadi di Cagar Alam Kamojang dan Papandayan Jawa Barat. 

Guna memberi pengertian akan hal itu, lahirlah gerakan yang bernama Sadar Kawasan. Sebuah aksi kampanye moral yang mengimbau masyarakat, termasuk para pendaki dan pengunjung lainnya, untuk tidak memasuki semua kawasan yang berstatus cagar alam di seluruh wilayah Indonesia. 

Pengertian tentang cagar alam beserta aturan di dalamnya serta upaya sosialisasi tentang daftar cagar alam di Indonesia beserta nama tumbuhan yang dilindungi di dalamnya adalah hal pertama yang harus sukses bagi kampanye tersebut. 


Kepedulian gerakan moral Sadar Kawasan ini tidak berhenti hanya sampai di situ saja. Mereka terus bergerak memperjuangkan kemurnian status cagar alam. Termasuk pula berjuang dengan sekuat tenaga atas kasus penurunan status kawasan Cagar Alam (CA) Kamojang dan Papandayan Jawa Barat menjadi kawasan Taman Wisata Alam (TWA).

Penurunan status menjadi Taman Wisata Alam (TWA) tersebut akan menjadikan kedua kawasan konservasi itu boleh dan bebas untuk segera dieksplorasi sebesar-besarnya bagi kepentingan pariwisata dan lainnya, termasuk pemanfaatan tenaga panas buminya. Eksplorasi dan pemanfaatan yang bukan pada tempatnya jelas akan menimbulkan kerusakan yang berat terhadap kawasan eksklusif itu.

Kronologi polemik status cagar alam makin meruncing dan memanas dengan dikeluarkan SK.25/Menlhk/Setjen/PLA.2/1/2018. Surat keputusan itu tentang perubahan fungsi pokok sebagian kawasan hutan pada Cagar Alam Kamojang seluas 2.391 hektare serta pada Cagar Alam Papandayan seluas 1.991 hektare untuk diubah statusnya menjadi Taman Wisata Alam (TWA).

Penurunan status ini jelas merugikan bagi usaha konservasi dan pelestarian alam kedua kawasan terbatas tersebut. Kedudukan, peran, dan fungsi cagar alam sangat vital sekali bagi keseimbangan ekosistem hutan dan wilayah di sekitarnya. 

Penurunan status cagar alam diperkirakan akan memicu kerusakan lingkungan di wilayah Bandung Selatan. Yang ujungnya akan berimbas pula terhadap kelestarian Danau Purba Ciharus beserta komponen biotiknya.

Kita ketahui bahwa danau tersebut adalah sebuah reservoir air alam yang besar. Sekaligus berfungsi sebagai pasokan air Sungai Citarum dan Cimanuk. Sedang hutan di sekitarnya adalah rumah terakhir bagi habitat hayati dan hewani yang dilindungi. Jika rusak dan terbabat habis, mau pindah ke mana mereka? 

Gerakan Sadar Kawasan makin gencar berkampanye di media sosial dan kegiatan positif nyata lainnya. Sasaran utamanya adalah untuk mengimbau kepada masyarakat agar tidak mendatangi kawasan kedua cagar alam itu. Baik untuk keperluan rekreasi, pendakian, pengembaraan, berkemah, ataupun kegiatan alam terbuka lainnya. 

Kerusakan masif sudah terlihat di sana. Termasuk deforestasi untuk lahan yang bukan pada tempatnya. Menindaklanjuti kerusakan parah tersebut, lahirlah gerakan penyelamatan dari rahim aktivis lingkungan hidup yang bernama Save Ciharus

Gerakan ini makin lengkap pendukung keberhasilan misi dan visinya dengan hadirnya usaha penyadaran dan pembelajaran kearifan tentang pelestarian alam dan lingkungan lewat edukasi di Pameran Masyarakat Gunung. Pendalaman silabus tentang alam dan gunung juga digeber oleh The Gunung Institute.

Dengan adanya surat keputusan yang sangat merugikan itu, mereka makin bahu-membahu melakukan konsolidasi dan koordinasi guna melakukan aksi penolakan secara damai dengan tuntutan pencabutan surat keputusan. Aksi makin kuat didukung oleh Aliansi Cagar Alam Jawa Barat


Para aktivis lingkungan hidup dari berbagai latar dan disiplin keilmuan itu bersama masyarakat bersatu padu melakukan berbagai macam aksi. Mulai dari Long March Bandung-Jakarta hingga menggelar forum-forum diskusi ilmiah guna mendapatkan dukungan dari kalangan akademisi.     

Namun respons pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta pihak terkait lainnya terlihat angin-anginan. Terkesan sambil lalu saja menanggapi tuntutan pencabutan. Berbagai macam alasan yang tak masuk akal dilontarkan guna memberi jawaban atas tuntutan pencabutan surat keputusan tersebut. 

Puncak perlawanan para pahlawan lingkungan hidup ini adalah aksi pemboikotan terhadap acara Pekan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PLHK) yang rencananya akan digelar oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia tanggal 11-13 Juli 2019 nanti dan bertempat di Jakarta Convention Center (JCC).

Pemboikotan yang bertajuk Cagar Alam Harga Mati ini berupa imbauan untuk tidak datang atau hadir ke acara PLHK 2019. Di samping itu, ada pula aksi unfollow akun resmi media sosial kementerian terkait serta aksi pasang twibbon. Mereka terus menuntut pencabutan surat keputusan dan izin-izin eksplorasi hingga berhasil.

Memang sangat kontradiktif sekali kawan. Sementara cagar alam menjerit, acara PLHK 2019 nanti rencananya akan diisi dengan ajang euforia penampilan prestasi-prestasi dan program-program di bidang lingkungan hidup dan kehutanan yang katanya sudah dilaksanakan dan dicapai dengan baik. Semoga terketuk, salam lestari!

Artikel Terkait