Klunthing, nada dering pesan Whatsapp berbunyi, tetapi saya abaikan karena sedang mengikuti gotong royong pembuatan madrasah diniyah. Eh lebih tepatnya handphone saya sedang digunakan untuk memutar lagu dangdut koplo, untuk menghibur para pekerja. hehe. 

Baru selepas dhuhur saya baca pesan itu, ternyata dari salah satu murid baru, ya saya seorang guru di SMP swasta pinggiran. Dia ingin bertemu di sekolahan, untuk menanyakan tentang materi dan soal yang belum dipahami.

Antara senang dan sedih melihat siswa yang seperti ini. Senang karena merasa dibutuhkan dan tahu bahwa siswa antusias dengan pelajaran itu, di sisi lain sedih karena pasti ada yang salah dengan hal tersebut.

Jelas salahnya ada di guru, dapat dipastikan kemampuan menjelaskan saya saat pembelajaran daring masih sangat buruk. Hiks. Terus terang saya kesulitan menjelaskan materi matematika, mau dikirimi video mereka keberatan saat mengunduhnya, akhirnya mentok menggunakan voice note karena kita menggunakan Whatsapp grup.

Jika kondisi normal dan pembelajaran dilaksanakan dengan tatap muka, maka dapat dipastikan materi atau soal tersebut tidak mungkin akan ditanyakan karena termasuk soal yang mudah, masuk dalam kategori LOTS (Lower Order Thingking Skill). Apa itu LOTS, sila searching sendiri jawabannya. hehe.

Selama pandemi ini sekolah kami melaksanakan pembelajaran daring, dan kebetulan hari itu memang saya tidak ada jadwal mengajar. Kejadian pesan Whatsapp tersebut merupakan kejadian pertama kali sejak pembelajaran daring ini dilaksanakan, jadi ini cukup membekas. 

Jarang-jarang ada seorang murid yang menanyakan materi atau soal di luar jam pembelajaran, biasanya saat kegiatan pembelajaran daring pun cuma segelintir murid saja yang aktif. Itupun hanya saat menuliskan presensi, setelah itu hening menghilang tanpa kabar kaya si dia, eh.

Bahkan ada yang tidak muncul sama sekali dari awal pembelajaran, entah dikarenakan tidak ada sinyal, kuota habis atau alasan yang lain. Jika ada separuh siswa saja yang aktif dalam pembelajaran, itu merupakan suatu anugerah yang luar biasa. Entah hal yang seperti ini disadari atau tidak oleh para pembuat keputusan di atas sana.

Belum lama ini ada kejadian yang sangat memilukan, traumatik bagi yang mengetahuinya, terutama bagi para guru. Di sebuah pulau yang digadang-gadang sebagi calon ibukota negara ini, ada seorang siswa yang meninggal suicide gegara kebanyakan tugas pembelajaran daring. 

Konon anak tersebut mendapatkan surat tagihan tugas-tugas pembelajaran yang memang jumlah tugasnya di luar akal sehat, kalau tidak salah sekitar tiga puluhan. Melihat beberapa komentar tentang kejadian tersebut, mereka rata-rata menjadikan pembelajaran daring sebagai satu-satunya penyebab terjadinya kejadian memilukan tersebut.

Sebagai guru, pembelajaran daring ini jauh dari kata ideal, tetapi mau bagaimana lagi kita hanya manut anjuran dari pemerintah. Sebagai pelaksana kita harus benar-benar memutar otak agar tidak ada yang dirugikan, tentu siswa yang jadi prioritas di sini. 

Melakukan hal yang baru dan sama sekali tidak ada persiapannya, tentu jangan mengharap hal tersebut akan berjalan dengan baik. Kadang kita hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum miris melihat kebijakan yang disajikan oleh si pembuat kebijakan. Kita merasa dianaktirikan, padahal kita tau sendiri betapa pentingnya peran pendidikan bagi kehidupan.

Seandainya kita sedikit menengok ke negara-negara maju, mereka menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama. Bagi kita yang pernah mengenyam dunia pendidikan formal ataupun bukan, pasti akan setuju mengatakan bahwa pendidikan itu adalah hal yang sangat penting, bahkan dalam agama pun demikian adanya. 

Ya walau ada beberapa kritikus pendidikan yang mengatakan bahwa pendidikan itu tidak penting, tetapi mereka lupa, mereka dapat berpendapat seperti itu juga gara-gara sudah pernah merasakan sebuah pendidikan. Dengan pendidikan itu pula mereka dapat disebut sebagai ahli, mungkin ahlinya ahli. haha.

Melihat keadaan pelaksanaan pembelajaran di sekolah di masa pandemi, terindikasi bahwa pendidikan itu memang tidak penting-penting amat di negeri ini. Mau melaksanakan pembelajaran tatap muka saja sangat susah, harus daring, padahal sudah jelas kelemahannya. 

Banyak yang dikorbankan, tetapi si pembuat kebijakan tetap bergeming. Pendidikan memang tidak sepenting ekonomi maupun politik, jadi sangat wajar jika tidak diprioritaskan. Bahkan tidak lebih penting dari resepsi pernikahan, dangdutan, lomba-lomba olahraga, atau hal remeh temeh lainnya, miris sekali.

Saat kegiatan audiensi dengan wali murid, banyak dari mereka yang mengeluhkan pelaksanaan pembelajaran daring. Mereka meginginkan pembelajaran dilaksanakan dengan tatap muka, meskipun dengan protokol kesehatan yang ketat. 

Alasan utamanya, mereka merasa kesulitan jika harus mengawasi anak saat belajar daring dari rumah. Mereka membandingkan dengan pasar yang tetap buka, yang bahkan tanpa protokol kesehatan sama sekali, dan pilkada yang tetap dilaksanakan. Kami pun tidak bisa menjawab apa-apa, hanya kata-kata normatif yang dapat kita utarakan. 

Terkait pasar buka, sebetulnya kita bisa memaklumi karena memang ekonomi adalah kebutuhan primer kita. Kita sadar dengan kondisi keuangan negara tercinta ini, tidak mungkin juga kan harus mensubsidi semua rakyatnya. 

Jadi memang sebetulnya tidak ada yang salah dengan tetap bukanya pasar di masa pandemi ini, tinggal menyediakan tempat cuci tangan di depan lapak para penjual. Tentu saja sosialisasi 3M terus dilakukan tanpa henti, agar tetap dipatuhi oleh penjual dan pengunjungnya.

Tetapi pilkada juga sama kok, sekarang kan sudah menjadi kebutuhan primer. Betapa pentingnya pilkada untuk negara kita, karena jika tidak dilaksanakan banyak kerugian yang akan kita terima. Bayangkan berapa banyak uang yang sudah dikeluarkan oleh partai untuk membiayai promosi paslonnya, pembengkakan anggaran penyelenggaraan pilkada, rakyat tidak bisa mengikuti pesta demokrasi, dan mungkin undang-undang juga mengharuskan untuk dilaksanakan, tidak boleh tidak.

Terkait pilkada, di tempat kami juga akan dilaksanakan pemilihan bupati yang hanya diikuti oleh satu paslon. Jadi, besok pemilihan bupati di daerah kami, Wonosobo, “hanya” akan melawan kotak kosong. Tetapi tidak berarti modalnya juga kosong dong, karena dana kampanye yang telah dilaporkan oleh paslon tersebut sebesar Rp 900.000.000,00. 

Menurut sebagian orang itu biaya yang sangat murah untuk kampanye tingkat kabupaten, ya walaupun hanya untuk sekadar menang dari kotak kosong sih. Bayangkan jika uang tersebut disumbangkan untuk membeli kerupuk penanggulangan covid-19, pasti sangat bermanfaat sekali.

Padahal kalau kita ingat dimulainya rangkaian penyelengaraan pilkada kan korona sudah ada ya, jadi harusnya dapat ditunda dulu sehingga tidak ada kerugian finansial jika tidak dilaksanakan tahun ini. Tetapi karena sudah menjadi kebutuhan primer sekali lagi primer, maka hal itu sudah tidak penting lagi. Karena pilkada adalah koentji dan pendidikan tetap jadi anak tiri.