Fajar masih belum keluar dari ufuknya. Tapi tetap saja pancaran nya mengganggu walau hanya sedikit. Bangun yang kupaksakan menjadi keharusan. Entah, aku yang memang bobrok dalam tidur atau sebenarnya janji ini yang memaksaku. Terbangunlah ku dengan semestinya. Setelah bangun, lalu subuh yang tak lupa di dahului dengan wudu. Aku pergi ke kamar mandi dengan badan yang sebenarnya enggan terkena air. Bukan malas. Tapi bisa dibilang, iya, dingin. Itu alasan utama.

Telepon itu terus saja berdenging. Tak peduli kini aku sedang melakukan apa. Otoriter. Aku hanya menggerutu tanpa bisa berbuat apapun. telepon itu seperti kekasih cinta mati. Mau ku marahi, atau ku banting sekalian, yang pada akhirnya aku tak tega karena sudah kepalang sayang. Nasib. Setelah selesai mandi, dan merapihkan diri dengan pakaian seadanya. Mungkin dengan pakaian yang masih kukenakan kemarin. Tak apa, setidaknya pakaian dalam ku ganti. aku lalu memeriksa pesan di Teleponku, yang isinya menyuruhku untuk tak telat datang. Motor segera ku nyalakan. Tak perlu menunggu lama untuk memanaskan. Aku langsung pergi dengan kecepatan yang setidaknya bisa membawaku cepat sampai. Tak ngebut, tapi tak juga pelan. Jalan Raya Tajur masih sangat lenggang. Aku yang memang terlalu pagi, atau jalanan ini memang sedang sepi. Aku tak terlalu mau memikirkan. Hanya berharap pagi ini bisa terus menjadi wajah yang akan selalu kutemukan kala bersua.

Wajah lama yang masih saja teringat kala dulu kini benar aku temui. Balai Kota, Kebun Raya, hingga Stasiun Bogor yang kini sudah amat modern. Semua hal yang dirindukan. Aku langsung bergegas masuk ke tempat parkir, lalu masuk ke kafe seberang Stasiun Bogor. Jumpa yang kesekian kalinya, dengan perempuan biasa. Ya, perempuan biasa, yang biasanya menaruh harapan lalu pergi. Miris. Biasa saja, nasib jomlo sudah begitu adanya.

“Sudah menunggu lama?”. Basa-basi yang paling umum. Entah memang karena sudah kebiasaan, atau memang aku yang bersifat ramah.

“Tidak, baru saja datang”. Ia menjawab dengan senyum tipisnya, yang sebenarnya sudah menjadi raut mukanya.

“Ah, baiklah”

“Bagaimana kabarmu?”

“Baik saja, mungkin?”

“Loh, kenapa?”

“Tak apa”

“Oh”

Dia bilang kangen. Kangen untuk menemuiku. Kangen untuk sekadar cuap-cuap bicara denganku. Kangen untuk melepas kangen. Aku hanya mendengarkan dengan khidmat. Cerita lama. Sudah ribuan kali aku mendengar hal itu. Bukannya tak bosan, tapi aku pun sedang libur, jadi daripada tak ada kerjaan di rumah, ya, aku datang saja saat dia mengajak bertemu. Begitu saja.

“Kau makin tampan.” Ia tiba-tiba berkata demikian.

Sebenarnya ingin tertawa. Bukan hanya tertawa. Lebih tepatnya aku ingin terbahak. Tapi, hanya senyum saja yang akhirnya keluar. Aku memang tampan, tapi dari sekian kata yang harus dimuntahkan agar aku nyaman, kenapa pula dengan pujian itu. Tuhan, dia tukang gombal yang tak berbakat.

---

Aku masih ingat sebenarnya. Masih sangat ingat. Kami dulu sama-sama menyukai satu sama lain. Ia ucapkan canda, dan aku pun tertawa. Kami tak pernah jauh membahas cinta. Tapi, kami satu sama lain saling melempar rasa. Lucu sekali. Mengingat itu semua hanya membuatku merasa hidup di film drama komedi. Parahnya, ialah pemeran wanitaku yang mengubahnya menjadi plot-twist. Tak sesuai ekspektasi.

Dibanding film thriller macam SAW, atau Friday 13th sekalipun, ia lebih menyeramkan. hanya menjadi mimpi buruk. Datang dan pergi. Tak pernah memberi kabar. Saat sedang nikmatnya sarapan, ia malah memberikan harapan. Lewat pesan. Mungkin dari sekian orang yang merasakan nasib serupa, aku yang paling sial. Orang paling bodoh sekali pun akan meninggalkan kekasihnya, jika ia merasa dibodohi. Lebih tepatnya ketika ia merasa tolol.

Kami mendekatkan diri sekitar 15 tahun. Pacaran bisa dibilang tidak. Tapi, hanya sekadar teman juga tidak. Anak sekarang bilang itu hubungan tanpa status. Asal saling nyaman, bisa bikin orang lain jadi sandaran. Bisa jadi. Yang paling menenangkan saat aku tahu ia pun menganggap hubungan ini seperti yang tadi sudah kujabarkan. Tak banyak tanya, canda, rasa, dan akhirnya sama-sama hidup di dunia yang sama. Mau punya kehidupan hingga jadi aki-nini. Lalu mati bersama.

Sebenarnya romansa adalah hal yang paling dirinya suka. Sejak pertama bertemu dulu, aku sudah menyadari. Sangat terlihat. Dari koleksi buku sastra, hingga catatan di buku tulisnya sungguh amat puitis. Kahlil Gibran, lalu ada Tere Liye, hingga yang paling nyeleneh seperti Pidi Baiq punya. Aku mau juga jadi puitis seperti itu. Tapi nyatanya aku payah. Satu-satunya yang paling puitis saat bersamamu, hanya mengucapkan kata-kata jiplakan. Tapi aku masih bahagia. Kamu masih mau menerima aku yang tak se-puitis Tere Liye.

“Cukup jadi dirimu saja. Mau menemani aku sampai cucu kita punya anak itu sudah romansa yang amat manis bagiku”. Ia hanya menjelaskan begitu saja, tapi rasanya ialah yang paling dewasa dalam hubungan ini. Manis sekali.

---

“Tolong, tanggung jawablah”. Ia berkata demikian, setelah cukup lama menggodaku. Godaan remeh, tapi bukan itu yang mengganggu pikiran ku kali ini. Kata “tanggung jawab” yang langsung menimbulkan tanda tanya.

“Apa? Tanggung jawab?”. Aku hanya bisa menjawab kaget. Bayangkan saja.

“Iya, tanggung jawab. Aku sungguh-sungguh..”. Jawabnya malah terbata-bata. Dia jelas bukan pembohong yang ulung juga.

Setelah beberapa lama tak berjumpa, bahkan sekadar mengirim pesan yang mungkin tak di anggap penting olehnya, kini dia seenak jidat meminta tanggung jawab. Tanggung jawab apa? Karena aku menjadi korban harapannya, atau karena aku memang tak cukup keren bagi dia? Itu bisa saja. Tapi, kalau tanggung jawab perihal hamil?

“Tolong”

“Iya, kamu sudah bicara yang kesekian kali”

“Jadi..”

“Tahik, gua kapan ngehamilin lu?”

“Saat dulu”

“Kampret, boro-boro bercumbu sama lu! Gua pegang lu dulu aja gak berani!”

Kesal semuanya jadi tumpah. Bagaimana tidak? Baru saja ketemu dia minta tanggung jawab. Apa-apaan? Dia pikir aku sebegitu tolol akan percaya.

“Aku minta maaf”. Dia lalu hanya pergi saja, dan berlagak sok tegar. Aku sangat tahu. Ia memang pembohong yang tak ulung.

“Tunggu”. Aku juga bukan orang yang akhirnya bisa kasar sepenuhnya. Payah.

---

Dia akhirnya bercerita. Perihal hubungan. Tak itu saja, ia ungkapkan semuanya. Aku hanya bisa menyeka air mata. Aku lupa, kalau dia perempuan yang memang dulu menemani aku. Memang dia amat bersalah.

Setidaknya, aku sebagai lelaki harus berpikir secara logis. Maklum, cinta mati butakan segala. Tapi kini sudah bercerita dengan terus terang. Perempuan yang juga menangis di pundakku hanya terus mengeluarkan air matanya tanpa henti. Ia sungguh jelek. Tak ada yang lebih jelek dari wajah perempuan menangis.

“Maaf”. Akhirnya kata-kata itu terselip dari mulutnya yang masih penuh dengan air matanya.

“Aku yang minta maaf”. Hanya itu juga yang bisa ku ucapkan. Aku merasa menjadi lelaki paling lemah saat ini. Demi Tuhan.

“Maukah kamu?”

“Iya, aku mau”

“Sungguh..?”. Masih bergetar mulutnya, bibirnya, hingga air mata itu terus keluar.

“Sekalipun kau ini seorang pelacur, sayang. Aku masih akan mau menjalani hidup denganmu. Punya anak, cucu, dan hidup sampai jadi aki-nini”. Aku masih ingat kata-kata itu. Ucapannya yang masih terus mengganggu tidurku.

Ia hanya korban. Aku pahami setelah semua detil ceritanya. Aku bukan orang yang mudah percaya, tapi bukan berarti susah untuk percaya. Tapi, memang beberapa saat lalu aku sudah tahu itu dari ibunya. Sang ibu menyerahkan semua surat-surat atas tulisannya. Semuanya tertuju padaku. Ayahnya juga dituduh dan masuk penjara. Kebetulan seperti FTV, tapi memang begitu adanya.

Aku hanya berharap dia memang benar masih ada.

---

“Aku memang masih tampan, tapi maaf sayang”. Aku menyela dirinya sambil saja berlalu. Pergi tanpa memperdulikannya.

“Aku mohon…”. Ia hanya berteriak maaf. Sayangnya, aku sudah maafkan. Tapi untuk memberinya sepotong hati itu, tak ada lagi keraguan dalam diriku.

Sebelum aku pergi, aku sempatkan untuk duduk di pojok kafe. Tentu dengan mengacuhkan perempuan tadi. Seperti biasa, orang itu masih saja datang dan berbicara sendiri. Dialog berulang yang tak pernah aku pun bosan menyimaknya. Aku paham dialog itu. Dialog tanpa sedikitpun bohong. Terkadang ia tertawa, atau sekadar menangis. Sungguh akhir dari dialog itu masih saja terngiang. Menemani aku hingga punya cucu, lalu menjadi aki-nini bersama. Walau, kau seorang pelacur.

Seorang pria tua yang orang sekitar pikir tak waras. Ia mungkin terjebak dengan kenangan pahitnya, tapi setidaknya memang ia jujur apa adanya. Masih saja aku lemah. Setan alas.

Pagi itu aku kembali pulang. Setelah melihat lelaki tua itu, aku langsung menuju motorku. Tanpa berlama-lama aku merasakan angin Bogor yang memang sejuk. Sayangnya, Bogor pagi ini (mungkin) tak se-sejuk waktu itu.