Pada Minggu, 16 Mei 2021 lalu, Gereja Katolik merayakan Hari Komunikasi Sosial Sedunia yang ke-55. Tema yang diambil oleh Gereja Katolik dalam perayaan tersebut adalah “Datang dan Lihatlah: Berkomunikasi dengan Menjumpai Orang Lain Apa Adanya”. Pesan Paus Fransiskus dalam pesannya sangat menekankan pentingnya para wartawan untuk untuk blusukan mencari berita di lapangan.

Mengapa Paus sangat menekankan pentingnya peran para wartawan untuk blusukan?

Term blusukan bukanlah sesuatu yang baru untuk publik Indonesia. Istilah itu tenar di telinga kita seiring dengan kemunculan dan kiprah Joko Widodo. Istilah itu menjadi sangat familiar pertama-tama ketika beliau masih menjabat sebagai wali kota Solo. “Blusukan” semakin menasional ketika Jokowi maju dalam panggung Pilgub Jakarta 2012 dan Pilpres 2014.

Blusukan hendak menjelaskan seseorang yang turun langsung ke lapangan untuk melihat secara langsung realitas yang sedang terjadi di sana. Sebuah kebijakan terlihat hasilnya apabila didahului dengan blusukan. Hasil pencermatan selama blusukan akan sangat berguna bagi kebijakan yang akan diambil.

Dalam dunia pemberitaan, blusukan bukanlah hal baru. keberadaan para wartawan sangat penting adanya dalam memberitakan sesuatu. Berita-berita yang bisa kita baca di koran dan bisa kita nonton di televisi, adalah hasil blusukan mereka. Mereka berusaha keras untuk mendapatkan berita agar masyarakat mendapatkan berita.

Kualitas berita tergantung dari seberapa besar mereka blusukan ke lapangan mencari berita. Paus Fransiskus dalam pesannya untuk Hari Komunikasi Sosial sedunia ke-55 mengakui pentingnya keberadaan para wartawan.

Paus mengatakan “Berkat upaya mereka, sekarang ini kita mengetahui, misalnya penderitaan kaum minoritas yang teraniaya di beberapa tempat di dunia; laporan tentang banyak penindasan dan ketidakadilan atas orang miskin dan atas alam ciptaan, serta cerita tentang begitu banyak perang yang terlupakan” (Pesan Paus untuk Hari Komunikasi Sosial sedunia ke-55, hal. 6).

Kita dapat mengetetahui dengan mudah suatu peristiwa di tempat lain berkat kerja keras para wartawan. Pemberitaan mereka ini sangat penting untuk orang-orang di tempat lain, agar orang-orang turut berempati dan berwaspada bila ada kejadian buruk, dan bersukacita bila ada sukacita.

Sebagai misal, kita mengetahui situasi di India dengan parahnya corona di sana karena adanya pemberitaan dari para wartawan. Maka di sini, kita mesti berhati-hati agar tidak menjadi korban berikutnya. Pemisalan lain adalah ketika dunia diliputi euforia sepakbola, karena adanya pemberitaan wartawan, kita juga terlibat dalam euforia itu.

Namun, sekarang ini tidak ada definisi yang pasti tentang wartawan. Semua orang nampaknya bisa menjadi wartawan. Kemunculan portal-portal berita bisa saja memberitakan hal-hal yang menipu banyak orang. Di saat sekarang ini, hoax tidak terbendung lagi. Antara hoax dan berita benar sulit terbedakan. Orang-orang menulis berita sesuka hatinya.

Paus Fransiskus prihatin dengan situasi ini. Kemuculan portal-portal berita bukannya semakin maju dalam memberitakan kebenaran, malah semakin memperbanyak berita-berita palsu. Akhirnya, setiap hari masyarakat mengonsumsi berita-berita sampah.

Masalahnya adalah, menurut Paus, mereka yang kita sebut sebagai wartawan tidak turun ke jalan. Dalam bahasa Paus, mereka tidak menghabiskan “sol sepatu”. Menulis berita tanpa turun ke jalan telah menjadi suatu kebiasaan. Sayangnya, “krisis industri penerbitan berisiko mengarahkan pemberitaan yang hanya dirancang di ruang redaksi, di depan komputer, di pusat-pusat berita, di jejaring sosial, tanpa pernah keluar ke jalan. Tanpa ‘menghabuskan sol sepatu’ (turun ke jalan), tanpa bertemu orang untuk mencari cerita atau memverifikasi situasi tertentu dengan mata kepala sendiri” (Pesan Paus untuk Hari Komunikasi Sosial sedunia ke-55, hal. 3).

Untuk itu, dengan parahnya situasi ini, Paus sangat mengharapkan para wartawan untuk menjadi pewarta yang benar-benar blusukan, mencari kebenaran dari setiap peristiwa yang ada. Tidak ada cara lain dari suatu pemberitaan, selain memang harus turun ke jalan, melihat realitas yang ada, dan kemudian mengolahnya sebelum disiarkan kepada publik.

“Dalam komunikasi, tidak ada yang bisa sepenuhnya menggantikan “melihat” secara pribadi. Beberapa hal hanya dapat dipelajari dengan mengalami. Kita tidak berkomunikasi hanya dengan kata-kata, tetapi dengan mata, dengan nada suara, dan dengan gerakan” (Pesan Paus untuk Hari Komunikasi Sosial sedunia ke-55, hal. 8-9).

Singkat kata, wartawan memang harus blusukan.

Pesan untuk Kita

Dalam pesan Paus, dikatakan bahwa ada wartawan yang tidak turun lapangan tetapi menulis berita dari dalam kamarnya. Alhasil, setiap hari ada begitu banyak berita. Hoax dan berita benar bergabung jadi satu, sehingga kita sulit membedakannya.

Pesan Paus ini, menyiratkan satu hal bagi kita sebagai konsumen, bahwa kita mesti berhati-hati dengan berita-berita yang setiap hari muncul di grup whatsapp, di facebook, di instagram, di twitter, dan media-media lainnya. Penting bagi kita untuk memverifikasi berita yang ada. Verifikasi berita bisa dilakukan dengan mendengar berita di televisi, radio, ataupun media cetak, seperti majalah dan koran. Bila ragu dengan berita yang ada, sebisa mungkin tidak perlu disebarkan. Jangan sampai, kita menjadi korban dari berita yang ditulis oleh wartawan yang tidak pernah turun lapangan.