Perubahan iklim merupakan perubahan unsur-unsur iklim dalam jangka waktu panjang (50-100 tahun) yang dipengaruhi oleh aktivitas manusia (antropogenik) yang menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK) (Handoko 1993).

Variabilitas iklim dan anomali cuaca (El Nino dan La Nina) tidak termasuk perubahan iklim. Namun, apabila terjadi dalam jangka waktu panjang dan tidak sesuai dengan siklusnya, maka dapat dikatakan sedang terjadi perubahan iklim.

Menurut United Nations Frameworks on Climate Change (UNFCC), kelompok gas yang tergolong GRK antara lain; CO2, CH4, N2O, SF6, PFCs, HFCs dan lainnya. GRK secara alami berperan sebagai pengatur stabilitas suhu bumi agar tidak terlalu dingin sehingga disebut efek rumah kaca.

Konsentrasi GRK di atmosfer mengalami trend yang makin meningkat. Peningkatan tersebut paling banyak disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti penggunaan bahan bakar fosil, deforestasi, eksploitasi sumberdaya alam berlebihan, pertanian tidak berkelanjutan, pemupukan kimia, penggunaan mesin pendingin, kegiatan industri dan lainnya.

Peningkatan konsentrasi GRK ini berdampak pada peningkatan suhu rata-rata global (pemanasan global), mencairnya lapisan es di kutub dan puncak gunung, peningkatan tinggi muka air laut, dan cuaca ekstrem. Oleh karena itu, kegiatan mitigasi perubahan iklim perlu dilakukan. 

Ekosistem wilayah pesisir yang terdapat hutan bakau (mangrove), rawa pasang surut dan padang lamun memberikan dampak dan manfaat terhadap mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di sepanjang pantai secara global. Pesisir berperan memberikan perlindungan dari abrasi pantai, perlindungan dari badai dan peningkatan muka air laut, pencegah banjir pasang laut, pengatur kualitas air dan udara pesisir, penyedia habitat biodiversitas pesisir, dan penyedia sumber pangan bagi masyarakat sekitar.

Selain beberapa manfaat tersebut, ekosistem pesisir juga mampu menyerap dan menyimpan cukup besar karbon biru pantai dari laut dan atmosfer. Karbon biru adalah karbon yang diserap dan disimpan oleh ekosistem pesisir. Karbon yang diserap dan disimpan oleh organisme lingkungan laut ini tersimpan dalam bentuk sedimen.

Bahkan, karbon tersebut dapat tertimbun tidak hanya selama puluhan tahun atau ratusan tahun (seperti halnya karbon di ekosistem hutan), tetapi selama ribuan tahun. Sehingga konsep karbon biru (blue carbon) perlu dibangun dan dikembangkan dengan baik dalam rangka upaya mitigasi perubahan iklim.

Hasil Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP UNFCCC) ke-22 di Marrakesh, Maroko, karbon biru ditargetkan mampu berkontribusi dalam upaya  pengurangan emisi karbon di dunia. Secara global, sebanyak 151 negara memiliki karbon biru, tetapi hanya 50 negara yang mengagendakannya untuk pengurangan emisi dalam komitmen NDC-nya.

Menurut Badan Informasi Geospasial (BIG), Indonesia merupakan negara maritim, dengan luas wilayah perairan 6.315.222 km2 dengan panjang garis pantai 99.093 km2 serta jumlah pulau 13.466 pulau yang bernama dan berkoordinat. Maka dari itu, pesisir Indonesia menyimpan kekayaan biodiversitas kehidupan laut dan ekosistem pesisir yang sangat besar, yaitu memiliki kawasan coral triangle mencakup 52 persen ekosistem terumbu karang dunia, ekosistem mangrove sekitar 3,1 juta hektare atau 23 persen dari mangrove dunia dan 30 juta hektare padang lamun (seagrass) yang terluas di dunia.

Namun, berdasarkan data REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation), kerusakan ekosistem mangrove relatif lebih tinggi dibanding ekosistem padang lamun yang mencapai 3,7 persen per tahun dengan tingkat kerusakan paling tinggi terjadi di pulau Jawa terutama Pantura.

Pada 20 tahun ke depan, sebagian besar ekosistem penyerap karbon biru (blue carbon sinks) diperkirakan akan musnah, sehingga kemampuan tahunan untuk mengikat karbon akan menurun. Untuk mempertahankan situasi saat ini, butuh pengurangan emisi sebesar 4-8% sebelum tahun 2030 atau 10% sebelum tahun 2050.

Konsep blue carbon dititikberatkan pada tiga ekologi, yaitu mangrove, rawa pasang surut dan padang lamun (seagrass). Mangrove merupakan hutan bakau yang tumbuh di wilayah pesisir yang mampu menyerap dan menyimpan karbon. Diperkirakan bahwa rata-rata tingkat penyerapan karbon tahunan untuk mangrove rata-rata antara 6 sampai 8 Mg CO₂e / ha (ton CO₂ ekuivalen per hektar).

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi Institut Pertanian Bogor (IPB) Daniel Murdiyarso mengatakan bahwa pemanfaatan hutan bakau merupakan salah satu upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Keberadaannya bisa menyerap emisi yang bertebaran di udara dengan sangat banyak.

Kemampuan mangrove dalam menyerap emisi di bumi mencapai 20 kali dari kemampuan hutan tropis. Satu hektare hutan mangrove di Indonesia tersimpan potensi karbon yang jumlahnya 5 kali lebih banyak dari karbon hutan dataran tinggi. Dan faktanya, saat ini hutan mangrove di Indonesia menyimpan cadangan karbon 1/3 dari total yang ada di dunia.

Mangrove menyediakan setidaknya US $ 1,6 miliar setiap tahun dalam jasa ekosistem, yang meliputi: mendukung perikanan dengan menyediakan bertelur penting bagi spesies ikan komersial; penyaringan polutan dan kontaminan dari perairan pesisir dan berkontribusi terhadap kualitas air laut pesisir yang sehat; dan melindungi pembangunan pesisir dan masyarakat terhadap badai, banjir dan abrasi.

Dalam 50 tahun terakhir, antara 30-50% dari hutan bakau telah hilang secara global dan mereka terus hilang pada tingkat 2% setiap tahun.

Penyebab utama kerusakan ekosistem mangrove adalah berkembangnya sektor perikanan budi daya untuk pembangunan tambak serta pembangunan pesisir yang tidak berkelanjutan. Para ahli memperkirakan bahwa emisi dari degradasi hutan bakau dapat setinggi 10% dari total emisi dari deforestasi global, meskipun mangrove hanya 0,7% dari luas hutan tropis .

Rawa pasang surut adalah perairan pantai dengan tanah dalam yang dibangun melalui akumulasi sedimen mineral dan bahan organik dan kemudian dibanjiri dengan air asin yang dibawa oleh gelombang pasang surut. Sebagian besar karbon di ekosistem rawa pasang surut ditemukan di tanah. Diperkirakan bahwa rata-rata tingkat tahunan penyerapan karbon oleh rawa pasang surut antara 6 sampai 8 Mg CO2e / ha (Mg CO2 ekuivalen per hektar).

Rawa pasang surut mampu menyaring polutan dari limpasan tanah dan karenanya membantu menjaga kualitas air di wilayah pesisir. Mereka menyediakan habitat penting bagi banyak tahapan siklus hidup spesies laut yang penting, perikanan yang sehat dan ekosistem laut pesisir.

Rawa pasang surut juga berfungsi sebagai penyangga untuk masyarakat pesisir, menyerap sebagian energi dari badai dan banjir rob dan membantu untuk mencegah abrasi. Rawa pasang surut  mengalami penyusutan atau kerusakan sebesar 1-2% setiap tahunnya. Ancaman utama terhadap ekosistem  rawa pasang surut, yaitu adanya pengembangan pesisir, konversi ke pertanian, dan naiknya permukaan laut.

Padang lamun (seagrass) merupakan area terendam yang terdapat tanaman berbunga yang ditemukan di padang rumput di sepanjang pantai setiap benua kecuali Antartika. Karbon terakumulasi di lamun dari waktu ke waktu dan disimpan hampir seluruhnya dalam tanah, yang telah diukur hingga dalam empat meter.

Meskipun peranan lamun kurang dari 0,2 persen dari lautan di dunia, mereka menyerap sekitar 10 persen dari karbon yang terkubur dalam sedimen laut setiap tahunnya. Setiap hektarenya, lamun dapat menyimpan hingga dua kali lebih banyak karbon dibanding hutan terestrial.

Padang lamun mampu menyaring sedimen dan nutrisi lain dari air dan terus-menerus membangun dan mengamankan sedimen, sebagai buffer pantai dari abrasi, badai dan banjir. Selain itu, padang lamun juga menjadi habitat penting bagi perikanan dan spesies laut seperti kura-kura laut dan bulu babi.

Lamun berada di antara ekosistem yang paling terancam di dunia, dengan kerugian global tahunan sekitar 1,5% dan makin cepat dalam beberapa dekade terakhir. Secara global, sekitar 29% dari ekosistem lamun bumi telah hilang. Ancaman utama untuk lamun yaitu adanya degradasi kualitas air karena pemanfaatan lahan yang buruk, seperti penggundulan hutan mangrove dan pengerukan atau penimbunan wilayah pesisir.

Ekosistem pesisir merupakan wilayah yang harus kita jaga bersama sebagai salah satu wujud Sustainable Development Goal’s (SDGs). Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam upaya menjaga ekosistem pesisir antara lain: penanaman mangrove; tidak mendirikan bangunan di tepi pantai; tidak membuang sampah sembarangan; serta pembangunan yang berlandaskan keberlanjutan lingkungan.

Menjaga ekosistem pesisir dengan konsep blue carbon merupakan upaya kita bersama dalam mitigasi perubahan iklim.

Daftar Pustaka