Peneliti
1 tahun lalu · 364 view · 4 menit baca · Budaya 63271.jpg
https://drscdn.500px.org

Bissu; dari Khayangan hingga Pelestarian Sastra Bugis

Warisan Leluhur yang Kini Terasing dan Langka

Salah satu yang menarik perhatian dalam naskah La Galigo adalah ulasan tentang Bissu. Menurut catatan Sharyn Graham (2003) dalam artikelnya “Bissu in La Galigo”, bahwa Bissu menjadi obyek yang vital dalam penulisan La Galigo, yang memperkirakan naskah Lontara dan La Galigo kemungkinan direkam dan disusun oleh kependetaan Bissu.

Hikayat yang paling sering dilisankan oleh Bissu adalah proses penciptaan dunia. Oleh Bissu, menyebutkan bahwa mitos penciptaan Bugis kuno oleh dewa yang bukan pria maupun wanita, memiliki kekuatan dan bermakna ganda, yang dikenal dengan Bissu.

Turun dari Khayangan

Konon, cita-cita tertinggi dewa adalah menurunkan To Manurung, seorang raja yang diturunkan dari langit ke bumi, demi mensinergikan tiga tingkatan jagad. Dalam kitab La Galigo, ada tiga tingkatan dari jagad raya, pertama Botting Langiq adalah tingkatan teratas bumi; kedua, Ala Kawa, adalah tingkatan tengah bumi; dan ketiga, Buruq liung adalah bagian bawah bumi.

Lalu, dewa mengirim dua To Manurung sebagai sisi Bataraguru untuk dikirim ke dunia, salah satunya disebut Annurungeng Tellinoe atau Bissu pemberani (Bissu Terru’), Bissu pertama juga dikenal dengan nama Lae-lae sebagai penyempurna kehadiran leluhur orang Bugis tersebut. Melalui bantuan atau perantara Bissu, manusia dapat berkomunikasi dengan dewa di khayangan.

Dalam mitos La Galigo diceritakan bahwa Batara Guru, sang anak dewa, muncul di danau (To Tompoq), lalu ia bermaksud memperistri We Nyelling Timong, saudara sepupunya, tapi sayangnya ia ditolak. Lalu Batara Guru meminta Bissu untuk membantunya agar pujaan hati menyambut cintanya.

Bissu yang dikenal sebagai Panrita atau orang suci lalu meramu obat pembangkit cinta We Nyelling Timong. Misi Bissu berhasil. Akhinya, dengan bantuan Bissu, keduanya lalu menikah dan dianugerahi anak yang diberi nama Sawerigading yang memiliki saudara kembar perempuan bernamaWe Tenriabeng.  

Seperti hikayat leluhurnya, kecenderungan tertarik kepada saudara juga menimpa Sawerigading. Nah, demi mencegah pernikahan antar saudara kembar Sawerigading dan We Tenriabeng, Bissu mengurus pernikahan Sawerigading dengan seorang perempuan yang tinggal di seberang danau bernama We Cudaiq.

Tantangan bagi Sawerigading untuk menemui We Cudai adalah menyeberangi danau. Sesuai petunjuk, untuk menyeberangi danau, Sawerigading diharuskan menebang sebuah pohon besar Walenreng untuk dibuatnya menjadi perahu. Selama tiga bulan Sawerigading berusaha, namun belum juga mampu menebang pohon besar itu, termasuk mengorbankan 40 gadis perawan dan laki-laki perjaka.

Saat ritual Sawerigading gagal dan upaya merobohkan Walenreng nyaris pupus, maka turunlah bantuan dari langit, seorang Bissu Angkuru Tebba yang akhirnya mampu menebang Walenreng tersebut.

Setelah Walenreng berhasil ditebang, bumi lalu memancarkan cahaya terang. Kayu Walenreng pun dibuat menjadi perahu yang lebar, yang konon mampu menampung tujuh pasar. Sawerigading pun berlayar menuju Pammana (Wajo), menikahi We Cidaiq. Pernikahan keduanya dikaruniai anak bernama La Galigo.

Ritual Adat dan Pelestarian Karya Sastra Bugis

Dalam tradisi sejarah, Bissu adalah bagian yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Bugis Sulawesi Selatan. Bissu diakui telah ada sejak masa sebelum kedatangan Islam. Bahkan, dalam naskah kuno La Galigosebuah naskah kesusastraan terpanjang di dunia melebihi naskah Mahabarata dari India, Bissu telah tercatat dan menjadi bagian penting dalam hikayat tradisi kesusatraan yang kuno itu.

Bissu memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat Suku Bugis, khususnya dalam upacara adat, yang sekaligus memerankan pelestarian karya-karya sastra Bugis. Di era kerajaan, dalam praktek kehidupan sehari-hari, Raja dan Bissu menciptakan kehidupan ritual sendiri.

Ritual itu berupa pemberkatan sebelum memulai musim tanam dan panen, juga untuk keperluan perjalanan yang aman. Bissu juga dipercaya memiliki kekuatan supranatural juga kadang berperan sebagai dukun yang mengobati orang sakit, menasbihkan perkawinan, serta mendoakan kehamilan perempuan.

Orang Terpilih

Sebagaimana pendeta dan kaum Brahmana pada umumnya, Bissu pun tidak menikah. Jadi, proses regenerasi Bissu tidak dalam bentuk genetik. Bissu adalah orang terpilih, yang oleh Bissu tua dianggap telah memenuhi kriteria dan telah melewati rangakaian ritual adat.

Dalam naskah  La Galigo dijelaskan mengenai kriteria menjadi Bissu. Pertama, bahwa siapapun bisa menjadi Bissu asal mampu mematuhi dan mempertahankan aturan Bissu Pangaderan yang ada dalam masyarakat Bugis, termasuk Calabai yang mendapat berkah Arajang (dewa) yang disebut sebagai Calabai Tungke.

Kedua, seorang Bissu harus mengikut upacara ritual secara bertahap untuk mendapat restu dari Bissu lain, yang biasa disebut Puang Matowa dan Puang Malolo. Calabai yang telah terpilih menjadi Bissu tidak boleh lagi bepergian tanpa tujuan. Ia telah resmi menjadi tetua adat, yang dimintai saran serta doa-doa untuk kemaslahatan warga.    

Terasing dan Langka

Pada perkembangannya di era negara modern, peran Bissu mulai bergeser. Ketika pada tahun 1950-an, pemerintah mengeluarkan kebijakan berupa pembersihan  apa yang disebutnya sebagai kelompok atau aliran anti-Islam. Kebijakan unifikasi pasca-proklamasi kemerdekaan praktis berpegaruh terhadap eksistensi para bangsawan dan Bissu.

Tak ada pilihan bagi para bangsawan untuk bertahan dalam tekanan kekuatan politik negara yang baru saja diproklamirkan lepas dari penjajahan. Saat bangsawan tak lagi di struktur pemerintahan, juga berpengaruh terhadap keberadaan Bissu. Padahal, peninggalan kerajaan tak mungkin dihapus begitu saja. Karenanya, salah satu kebijakan yang diambil dalam rumah tangga kerajaan adalah mempekerjakan Bissu menjaga warisan kerajaan.

Kini, komunitas Bissu nyaris tidak bisa lagi ditemukan beraktivitas, kecuali pada acara ritual adat tertentu. Mereka dieluk-elukkan saat menyajikan tarian dan doa-doa, memeragakan kesaktian dengan menusukkan sebilah pisau ke leher tanpa meninggalkan bekas. Tapi, setelah upacara selesai, Bissu seakan kembali ke dalam dunianya yang sendiri dan sepi.

Artikel Terkait