"Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, kita sambut 365 hari menjelang Asian Games ke-18 di tahun 2018," kata Presiden Joko Widodo.

Sejuk betul rasanya mendengarkan basmalah diucapkan di acara multinasional seperti ini oleh seorang Presiden Indonesia. Apalagi, bentuk seremonial yang dipilih adalah olahraga memanah. Semakin terasa nuansa islaminya.

Soalnya, akhir-akhir ini banyak kawan saya yang lagi puber tarbiyah mengajak saya untuk ikut belajar memanah dengan alasan bahwa olahraga itu disukai oleh Nabi Muhammad. Belum lagi pesaing Pak Jokowi, yaitu Pak Prabowo, memiliki hobi berkuda yang juga disukai oleh Nabi Muhammad. Ternyata mereka berdua cukup salafi juga, ya.

Sebagai seorang muslim, saya menjadi semakin yakin bahwa negara kita sejatinya memang adalah negara Islam.

Saya tahu bahwa itu semua hanya cocoklogi saya. Namun, yang pasti semua coincidence itu mencerahkan saya menemukan kesimpulan itu. Dan itu adalah kesimpulan yang serius.

Anda suka atau tidak suka, mau tidak mau, pada akhirnya Anda harus mengakui bahwa Indonesia memang adalah negara Islam. Semakin Anda coba untuk memungkirinya, maka akan semakin naif perasaan Anda. Mari kita lihat dengan jujur bersama-sama!

Faktanya, Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Dalam kehidupan sehari-harinya, kita akan selalu melihat Islam, baik dalam fisik maupun kehidupan bermasyarakat kita.

Apa pun itu, baik Pancasila, Marhaenisme, atau bahkan, misalnya, Komunisme yang tertulis dalam konstitusi negara kita sebagai dasar negara Indonesia, tidak akan mengubah pola kehidupan masyarakat kita yang telah ber-Islam selama berabad-abad dan mendominasi negara ini pada sektor dan wilayah mana pun.  Untungnya Pancasila tidak berseberangan dengan Islam.

Dalam sejarahnya sendiri, Pancasila sebenarnya merupakan Piagam Jakarta yang dimodifikasi, di mana Piagam Jakarta merupakan konsep yang terinspirasi dari Piagam Madinah.

Samuel P. Huntington dalam bukunya yang berjudul Clash of Civilization menyebutkan Indonesia sebagai bagian dari peradaban Islam dan bukan menggolongkannya sebagai peradaban Melayu. Indonesia bahkan disebut sebagai negara representatif Islam nomor 2 setelah Iran. Arab Saudi sendiri tidak disebut sebagai bagian dari peradaban Islam mengingat kedekatannya dengan Amerika Serikat yang merupakan negara representatif peradaban Barat.

Coba lihat! Orang luar saja menganggap kita sebagai negara Islam. Lantas, mengapa kita terus-menerus menganggap bahwa Indonesia bukan negara Islam?

Kaum radikalis melakukan serangkaian aksi teroris di Indonesia karena menganggap bahwa kita belum Islam dan ingin mengislamkan negara ini dengan menghapus Pancasila yang katanya adalah thogut dan berusaha menegakkan syariat Islam. Begitu pula dengan gerakan Hizbut Tahrir Indonesia yang arwahnya masih bergentayangan. Tetap ngotot ingin hidup di Indonesia meski nyawanya telah dicabut. Pokoknya, khilafah adalah harga mati.

Padahal, tanpa mereka melakukan itu semua, masyarakat Indonesia tetap akan melaksanakan Islam sebagai jalan hidup mereka, dengan atau tanpa aturan formal syariat apalagi khilafah.

Di lain sisi, kaum liberal dan sekuler juga terus-menerus menekankan bahwa Indonesia bukan negara Islam. Mengulang-ulang kalimat yang sama bahwa penduduk Indonesia bukan hanya yang beragama Islam. Sok toleran.

Padahal, tanpa mereka sebutkan, semua orang Indonesia juga sudah tahu. Mereka lupa bahwa letak substansi ideologi bukan berada pada konstitusi negara melainkan pada kultur masyarakat. Efeknya apa?

Semakin mereka berusaha menekankan bahwa Indonesia bukan negara Islam, maka semakin reaktif masyarakat kita yang dominan Islam ini. Semakin mereka menekankan bahwa Indonesia bukan negara Islam, maka akan semakin besar semangat kaum radikalis untuk ingin “berjihad”. Sadarlah! Hukum Archimedes juga berlaku dalam kehidupan sosial kita.

Masih belum percaya negara Indonesia ini bukan negara Islam? Coba kita lihat fenomena lainnya.

Di jalan raya, saat memandu iring-iringan jenazah, pemandunya bisa dengan beringas memaksa untuk membuka jalanan sehingga jalanan mulus untuk dilewati oleh mobil jenazah hingga ke pekuburan. Tradisi ini diduga terbangun atas dasar anjuran dalam agama Islam agar menyegerakan menguburkan jenazah, yang pada akhirnya mengalami bias makna dan kemudian mengeras hingga hari ini.

Jangan coba-coba untuk menunda meminggirkan kendaraan Anda saat mereka akan lewat. Karena kaca mobil Anda bisa akan pecah setelahnya.

Berikutnya, Anda juga bisa membuktikan bahwa hanya di Indonesia helm bisa digantikan fungsinya oleh peci dan mukenah, terutama di bulan Ramadhan, apalagi di hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Polisi hanya bisa membantu menertibkan kendaraan para jemaah dan menutup mata dari pelanggaran lalu-lintas yang terjadi.

Anda akan sulit menemukan pengendara motor ditilang karena hanya menggunakan peci saat berkendara. Sebab, jika ada, polisinya akan langsung dihujat tidak toleran.

Jadi, sudahlah, ya! Tak perlu lagi ada yang meragukan keislaman masyarakat kita. Tak perlu mengkafirkan masyarakat kita yang sudah ber-Islam selama berabad-abad. Tak perlu juga meragukan toleransi masyarakat kita dalam kehidupan beragama. Kita tidak butuh Islam yang sekadar dijadikan simbol negara, melainkan Islam sebagai nilai dalam kehidupan bermasyarakat kita.