2 bulan lalu · 538 view · 5 min baca menit baca · Filsafat 39939_64856.jpg

Bisakah Tuhan Dikatakan sebagai Sesuatu?

Sebagai orang beriman, kita semua tentu percaya bahwa Tuhan adalah pencipta dari segala sesuatu (khâliq kulli syai). Tak terhitung berapa banyak jumlah ayat Alquran dan hadis yang menjelaskan tentang hakikat itu.

Namun, satu pertanyaan yang mungkin tak pernah kita pikirkan ialah: Kalau memang Tuhan pencipta segala sesuatu, lalu bisakah Tuhan sendiri dikatakan sebagai sesuatu? Kalau bisa, mengapa makhluk-nya juga dikatakan sebagai sesuatu? Bukankah itu artinya kita mempersamakan Tuhan dengan ciptaan?

Dan kalau Tuhan dikatakan sebagai pencipta segala sesuatu—sementara kita katakan bahwa Tuhan itu juga termasuk sesuatu—bukankah itu artinya kita mengandaikan adanya Tuhan yang diciptakan oleh Tuhan?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas mungkin tampak mudah. Tapi, jika ditelisik lebih jauh lagi, dari pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terlahir diskusi-diskusi teologis yang boleh jadi memusingkan banyak kepala. Tulisan ini hanya akan terfokus pada pertanyaan di atas: Bisakah Tuhan dikatakan sebagai sesuatu?

Dalam menjawab pertanyaan tersebut, Jahm bin Shafwan (w. 128 H), tokoh sentral dalam mazhab jahmiyyah/jabriyyah, mengatakan tidak. Tuhan tidak bisa disebut sebagai sesuatu. Karena, kalau kita sebut Tuhan sebagai sesuatu, itu artinya kita mempersamakan Tuhan dengan makhluk.

Dalam sejarah teologi Islam, mazhab jahmiyyah memang dikenal sebagai mazhab mu'atthilah (tidak mengakui adanya sifat-sifat Tuhan yang berkonsekuensi pada persamaan dengan makhluk). Karena itu, sangat wajar jika salah satu tokoh mereka berpandangan demikian.


Namun, dalam buku al-Masâil al-Khamsûn fi Ushûl al-Dîn, Fakhr al-Din al-Razi (w. 606 H), salah seorang eksponen ternama dalam mazhab Asy'ari, menjawab iya. Tuhan bisa dikatakan sebagai sesuatu. Dalam bahasa Arab, kata "sesuatu" itu merupakan terjemahan dari kata syai.

Tapi, jawaban yang menyatakan bahwa Tuhan bisa dikatakan sebagai sesuatu itu tentu harus diikuti dengan penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan kata "sesuatu" itu? Kata al-Razi, perkataan kita bahwa Allah itu adalah sesuatu (syai) hanya bermakna bahwa Allah Swt itu ada (maujûd). Tidak kurang, tidak lebih.

Dengan demikian, kata "sesuatu" itu bermakna ada. Tuhan itu ada. Dan ketika makna yang dimaksud ialah demikian maka sudah pasti semua beriman tak akan memberikan penolakan. Allah itu adalah sesuatu. Apa maksudnya? Maksudnya, sekali lagi, Allah itu ada. Semua orang beriman pasti akan mengamini itu.

Tapi apakah dengan mengatakan begitu kita hendak menyamakan Tuhan dengan makhluk? Tentu saja tidak. Ketika Anda mengatakan bahwa Tuhan itu ada, dan diri Anda juga ada, apakah dengan begitu Anda mempersamakan diri Anda dengan Tuhan?

Tuhan ada tapi berbeda dengan segala yang ada. Sebagaimana Tuhan itu adalah sesuatu tapi berbeda dengan segala sesuatu. Dalam al-Quran dinyatakan bahwa Tuhan itu, laisa kamitslihi syai (tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia).

Dengan demikian, kendatipun kita menyebut Tuhan sebagai sesuatu, untuk lebih memperjelas, barangkali sebutan itu perlu dilanjutkan dengan penegasan bahwa Dia itu berbeda dengan segala sesuatu. Sebagaimana ketika kita meyakini Tuhan sebagai dzat yang ada, kita juga meyakini bahwa Tuhan itu berbeda dengan segala sesuatu yang ada.    

Dalil atas kebolehan menamai Allah Swt sebagai sesuatu ialah firman Allah berikut ini:

"Katakanlah: "Siapakah (sesuatu) yang lebih kuat persaksiannya?" Katakanlah: "Allah". Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya)…(QS al-An'am: [6]: 19)

Dalam penggalan ayat tersebut disebut kata syai. Qul Ayyu syaiin akbaru syahâdah? Lalu dijawab: Allah. Dengan demikian, berdasarkan bunyi ayat tersebut, Tuhan bisa disebut sebagai syai, yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai sesuatu. Ayat lain yang dijadikan dalil oleh al-Razi ialah firman-Nya sebagai berikut:

"Setiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan." (QS al-Qashash: [28]: 88). Dalam ayat ini, Tuhan menjadi pengecualian dari kata sesuatu.


Dalam gramatika bahasa Arab, dia menjadi mustatsna (yang dikecualikan). Dan kata syai menjadi mustatsna minhu (yang dikecualikan darinya). Karena Dia dikecualikan dari sesuatu, maka dengan demikian Dia juga bisa disebut sebagai sesuatu.

Sampai di sini mungkin ada yang bertanya: Kalau memang Tuhan itu disebut sebagai sesuatu, lantas mengapa al-Quran menyatakan bahwa Dia adalah pencipta segala sesuatu? Bukankah itu artinya kita mengandaikan adanya Tuhan yang diciptakan oleh Tuhan?

Jawabannya, kendatipun Tuhan disebut sebagai sesuatu, Dia tidak masuk kedalam sesuatu yang Dia ciptakan itu. Mengapa? Karena sejak awal dia sudah terpisah dari "segala sesuatu" itu.

Di sisi lain, kalau kita mengatakan bahwa Tuhan masuk kedalam sesuatu yang Dia ciptakan, keyakinan tersebut akan berkonsekuensi pada kesimpulan bahwa ada sesuatu yang bergantung pada sesuatu, sementara sesuatu itu sendiri bergantung pada sesuatu itu. Ini namanya daur. Dan daur itu mustahil.

Juga, jika kita memasukkan Tuhan kedalam sesuatu yang Dia ciptakan, maka itu artinya Tuhan menjadi ciptaan (makhlûq). Dan ketika ia sudah menjadi ciptaan, maka ketika itu dia tidak lagi menjadi Tuhan.

Hukum kontradiksi juga akan menolak itu. Sebab, ketika kita mengatakan Tuhan sebagai pencipta, lalu kita katakan bahwa Dia itu dicipta, maka seolah-olah kita juga mengatakan bahwa dia itu sebenarnya bukan pencipta, karena Dia dicipta. Dia pencipta, dan Dia bukan pencipta. Ini kontradiktif.  

Alhasil, sesuatu yang menjadi pencipta dari segala sesuatu tidak mungkin diciptakan oleh sesuatu. Jika kita memasukkan Allah dan sifat-sifat-Nya kedalam sesuatu yang Dia ciptakan, maka konsekuensinya akan lahir sekian banyak kemustahilan yang ditolak oleh hukum-hukum akal. 

Dalam idiom ushul fikih, keluarnya Allah dari "segala sesuatu" yang diciptakan-Nya itu dinamai sebagai takhshîsh 'aqli (pengkhususan yang bersandar pada akal). Artinya akal kitalah yang memang tidak akan mampu menerima pemasukkan itu. Karena itu ia terkeluarkan dengan sendirinya.   

Pendek kata, keyakinan bahwa Tuhan itu diciptakan bertentangan dengan hukum-hukum akal. Tidak mungkin ada sesuatu yang dikatakan sebagai Tuhan, tapi dalam saat yang sama Dia juga dikatakan sebagai sesuatu yang diciptakan.

Kesimpulannya, melalui uraian di atas bisa kita katakan bahwa Tuhan bisa disebut sebagai sesuatu (syai). Tetapi yang dimaksud dengan kata tersebut—seperti yang ditegaskan oleh al-Razi—ialah "yang ada".


Ungkapan tersebut tidak berkonsekuensi pada persamaan Tuhan dengan makhluk. Karena sekalipun Tuhan itu disebut sebagai sesuatu, dalam saat yang sama kita tegaskan bahwa Dia itu berbeda dengan segala sesuatu. 

Juga, penamaan Tuhan sebagai sesuatu tak berarti bahwa Dia diciptakan oleh diri-Nya sendiri—sebagai pencipta dari segala sesuatu. Karena Tuhan tak mungkin menjadi ciptaan. Sebagaimana ciptaan tidak mungkin menjadi Tuhan. Demikian, wallahu 'alam bisshawâb.

Artikel Terkait