Sejak televisi ditemukan dan diproduksi secara massal, televisi menjadi media informasi alternatif selain radio dan surat kabar. Kehadiran televisi tidak separah radio yang pernah mematikan dunia pesuratkabaran. Hal itu karena aturan siaran sudah diberlakukan jauh sebelum televisi diproduksi massal sebagai media.

Televisi memiliki daya tarik tersendiri yaitu informasi yang disampaikan berupa gambar dan suara. Tidak seperti radio yang hanya suara saja. Atau surat kabar yang hanya berupa gambar dan tulisan. Televisi lebih menarik sebagai hiburan mata.

Seiring berjalannya waktu, televisi bukan hanya sebagai media informasi tetapi juga menjadi media hiburan. Stasiun televisi menghadirkan berbagai hiburan yang dapat dinikmati oleh masyarakat. beberapa dekade, televisi mewarnai keluarga Indonesia. Saat bercengkerama sore, istirahat akhir pekan keluarga memilih sambil menonton televisi. Itu sebabnya dunia penyiaran televisi di Indonesia menjadi salah satu lahan industri besar.

Bukan hanya hiburan keluarga, malah menjadi hiburan warga. Masyarakat berkumpul untuk bisa menonton televisi. Biasanya satu desa hanya ada dua rumah yang memiliki televisi. Sehingga, televisi mampu mengumpulkan orang dalam jumlah besar. Kegiatan ini yang menjadi nostalgia zaman dahulu yang kini tidak ada lagi. Kalau pun ada yang membuat tentu rasanya sudah tidak seperti dulu lagi.

TVRI sebagai stasiun televisi plat merah pernah menguasai saluran televisi di Indonesia. hadir akhir tahun 60-an, TVRI menjadi satu-satunya stasiun televisi di Indonesia. berbagai program siaran TVRI mewarnai kehidupan keluarga di Indonesia seperti Dunia dalam Berita, Ria Jenaka, Album Minggu, Berpacu dalam Melodi, dan sebagainya.

Awal 90-an, televisi swasta merupakan tahun lahirnya stasiun televisi swasta. TVRI bukan lagi menjadi satu-satunya stasiun televisi. Hanya saja stasiun televisi swasta tidak begitu saja menjangkau pelosok negeri. Masyarakat perlu memasang parabola atau antena UHF dulu agar bisa menikmati siaran saluran televisi swasta.

Banyaknya saluran televisi membuat perusahaan stasiun televisi berlomba-lomba menarik hati masyarakat. Berbagai program dibuat yang menjadi ciri khas stasiun televisi tersebut. Seperti SCTV dengan program news-nya, Indosiar dengan program hiburan, TPI dengan program siaran pendidikan, dan RCTI dengan adopsi film luar negeri.

Satu dekade terakhir, televisi mulai ditinggalkan masyarakat. Masyarakat beralih ke media sosial sebagai media hiburan alternatif. Hal itu karena program siaran televisi mulai menjemukan. Tim kreatif siaran televisi mulai kehilangan ide hiburan sehingga jauh dari kata layak untuk dilihat. Selain itu, stasiun televisi juga dimiliki oleh partai politik. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai penyelenggara dan pengawas siaran di Indonesia juga tidak tegas dalam melakukan pengawasan siaran. Hasilnya, masyarakat membuat siaran sendiri melalui media sosial.

Siaran televisi kalah pamor dengan Youtube yang siarannya tanpa batas. Masyarakat bisa memilih sendiri jenis tontonan tanpa diganggu iklan. Meskipun muncul iklan juga tidak selama iklan di televisi. Selain itu, siaran di media sosial juga diproduksi sendiri oleh masyarakat.

Melalui media sosial, masyarakat berlomba-lomba memproduksi siaran sendiri dan dipublikasi sendiri. Siaran di media sosial lama-kelamaan juga mengarah seperti siaran di stasiun televisi. Siaran hiburan media sosial mulai semaunya dan tidak mendidik.

Kualitas tontonan di suatu negara tergantung dari selera masyarakatnya. Media hiburan masih menyiarkan tontonan tidak mendidik  karena masih banyak masyarakat yang menontonnya. Stasiun televisi mengadakan program siaran tentunya berdasarkan rating. Rating tidak akan bagus apabila hanya sedikit orang yang menonton. Dengan sedikitnya rating tentu akan sedikit iklan yang masuk. Hal itu membuat program siaran tersebut diganti dengan program siaran yang lain.

Masalah yang terjadi yaitu, masyarakat tidak mematikan atau mengganti saluran apabila menemukan siaran televisi yang tidak bermutu. Begitu juga dengan tontonan di media sosial. Masyarakat masih menonton siaran pada saluran yang tidak mendidik. Hal itu menambah jumlah penonton pada saluran tersebut. Sehingga, program siaran tersebut masih tetap berlangsung.

Di tengah jemunya masyarakat terhadap siaran televisi, masih ada beberapa stasiun televisi yang masih sesuai dengan visinya. Tentunya visi tersebut tidak sesuai dengan selera masyarakat banyak. Seperti saluran dakwah pada TVMu sebagai televisi Muhammadiyah, TVNU milik Nahdhatul Ulama, ada juga Badar TV yang juga fokus pada siaran agama Islam, atau DAAI TV dengan siaran ajaran agama Buddha. Baru-baru ini ada saluran TV baru dengan nama SJTV dengan program pendidikan yang ditawarkan.

Akankah stasiun TV tersebut bisa eksis siaran di tengah sepinya minat masyarakat terhadap televisi. Perlu perjuangan untuk bisa menghidupi jalannya produksi siaran. Apalagi jika ratingnya kecil tentu perusahaan perlu mencari sumber pemasukan lain untuk menutupi biaya operasional. Sumber utama pemasukan televisi berasal dari iklan. Stasiun TV perlu juga berlomba-lomba membuat program siaran unggulan yang masih sesuai dengan visi perusahaan.

Setiap tulisan pasti ada pembacanya. Setiap siaran pasti ada penontonnya. Hal yang perlu diperhatikan adalah kenyamanan dan kepuasan penontonnya. Selain itu, pemilik perusahaan juga perlu tegas untuk tidak terikat pada afiliasi politik tertentu sehingga siaran bisa objektif dan tidak mengotak-kotakkan pemirsa televisi.