Filsuf dan filosof, dua kata itu sering tumpang tindih dalam penyebutannya di ranah praksis. Lantas, manakah penggunaan kata yang benar?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia digital, ketika dicari kata filosof, maka yang tertulis, lihat filsuf. Kata dasar filosof adalah filsuf. Filsuf adalah bentuk tidak baku dari filosof yang bermakna ahli filsafat; ahli pikir; orang yang berfilsafat.

Filsafat, apa itu filsafat? Makanankah? Atau sejenis makhluk? Filsafat itu intinya berpikir, menggunakan logika, berpikir secara rasional, kritis, sistematis. Ia adalah “barang antik” dan “elite” sehingga hanya orang tertentu saja yang mau mempelajari filsafat (berpikir). Jadi beruntung orang yang bisa dan mau bersinggungan dengan “barang antik” yang bernama filsafat ini.

Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia, philo berarti cinta dan sophia adalah kebijaksanaan. Secara sederhana, filsafat adalah cinta kebijaksanaan. Apakah ada manusia di dunia ini yang tidak cinta akan kebijaksanaan? Kupikir tidak ada. semua orang cinta akan kebijaksanaan.

Semua orang mau hidup bijaksana, menjalani hidup dengan bijak. Tentu kebijaksanaan tersebut tidak akan hadir dengan sendirinya jika tidak diusahakan, dicari, dan ditemukan. Salah satu cara untuk menghadirkan kebijaksanaan itu adalah dengan filsafat.

Filsafat dapat mengantarkan seseorang menjadi orang yang bijaksana karena filsafat adalah untuk mencari kebenaran dan kebijaksanaan itu sendiri. Mengutip dari paparan Fahruddin Faiz, pengampu ngaji filsafat di Masjid Jenderal Sudirman Yogyakarta yang diadakan setiap Rabu malam, pada sesi ngaji Hannah Arendt, beliau membabar bahwa untuk menjadi bijaksana ada tiga cara:

Pertama, berpikir sendiri, berkontemplasi sendiri.

Kedua, berdasarkan pengalaman, yaitu mengalami sendiri. Itulah mengapa bapak/ibu atau si mbah biasanya lebih bijaksana daripada yang lebih muda karena pengalamannya. Namun, yang muda pun bisa jauh lebih bijaksana karena ilmunya, yaitu berpikir sendiri.

Ketiga, meniru atau imitasi. Bila berpikir sendiri tidak bisa apalagi mengalami sendiri juga belum, maka meniru adalah jalan terakhir untuk menjadi bijaksana. Meniru orang-orang yang menurut kita bijaksana yang layak untuk ditiru, menjadi contoh teladan. Baik meniru perilakunya, pikirannya, dan apa-apa dari orang tersebut yang dapat menjadikan kita menjadi seseorang yang bijaksana.

Selain itu, untuk apa sih manusia berfilsafat atau apa yang mendorong seseorang untuk berfilsafat? Setidaknya ada tiga faktor:

Pertama, rasa ingin tahu. Filsafat berawal dari rasa heran, keingintahuan (curiosity) atau kata Aristoteles, filsafat berawal dari ketakjuban. Berangkat dari rasa ingin tahu, maka seseorang akan mengajukan pertanyaan, baik kepada dirinya maupun kepada orang lain, sehingga ia akan menemukan jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

Anak kecil misalnya, karena sering melihat ibunya salat, maka muncul rasa ingin tahunya, muncul pertanyaan, “Ibu sedang apa?” Salat. “Salat itu apa? Kenapa ibu salat?”, dan muncul pertanyaan-pertanyaan terkait lainnya yang dapat mengolah daya pikir untuk berpikir lebih mendalam lagi hingga sampai ke akar-akarnya.

Secara sekilas memang pertanyaan yang diajukan si anak terkesan receh, tapi dengan pertanyaan itu membuat kita jadi berpikir tentang apa esensi kita salat, misalnya. Oh iya ya, kenapa saya harus salat? Kenapa salat harus menghadap kiblat, bukankah Tuhan ada di mana saja dan mahamelihat?

Begitulah filsafat, makhluk satu ini sedang mengajak manusia untuk berpikir sampai kepada akar, hakikat, dan substansinya yang terdalam. Karena alasan inilah kemudian orang malas mempelajari filsafat, sebab malas berpikir. 

Di sisi lain, orang malas mempertanyakan sesuatu yang telah mapan, buang-buang waktu saja, sesuatu itu sudah begitu adanya dan akan tetap begitu sehingga orang tidak mau lagi mengasah rasa ingin tahunya. Efeknya makin dewasa, rasa ingin tahu tersebut dibunuh, akibatnya daya berpikir kritis tidak lagi mencuat ke permukaan. Orang dengan mudah menyerap begitu saja informasi yang didapat tanpa mempertanyakan kebenarannya.

Kedua, keraguan. Orang yang ragu dan memiliki keraguan di dalam dirinya berarti dia sedang berpikir. Akalnya sedang berjalan mencari jawaban kenapa dia ragu, kenapa pertanyaan itu muncul. Bukan tidak percaya atas apa yang ada di sekitarnya, tetapi dengan meragukan sesuatu, maka dia sedang mencari jawaban dan kebenaran dari apa yang dikeraguinya tersebut.

Dalam presentasi makalah di kelas contohnya. Ketika moderator membuka sesi pertanyaan kepada peserta diskusi, maka akan banyak yang mengacungkan tangannya untuk mengajukan pertanyaan. 

Ada dua asumsi, si penanya mengajukan pertanyaan karena rasa ingin tahu, dalam artian dia tidak tahu atau belum paham dengan yang dijelaskan para presentator atau bisa jadi bertanya karena timbul keraguan dari diri si penanya, apakah yang dia pahami sama pemahamannya dengan pemahaman pemakalah terkait yang dibahas sehingga muncul keraguan dan mengajukan pertanyaan untuk mengonfirmasi.

Ketiga, adanya kesadaran akan keterbatasan diri. Manusia adalah makhluk terbatas dan tak sempurna. Sedangkan Tuhan makhluk tak terbatas dan Maha Sempurna. 

Manusia dengan segala keterbatasannya dan menyadari keterbatasan dirinya berusaha menuju kesempurnaan. Meskipun dia tidak akan pernah sampai pada kata sempurna karena kesempurnaan hanya milik Tuhan semata, tetapi sebisa mungkin terus berusaha, sebab itu manusia diberi akal oleh Tuhan agar dia berpikir dan mempergunakan akalnya. 

Artinya, manusia adalah makhluk terbatas dan dia menyadari keterbatasannya tersebut sehingga dengan mempelajari filsafat, menggunakan akal pikiran, berpikir kritis dan rasional setidaknya sudah ada effort untuk menuju kepada kesempurnaan.

Jadi, dalam arti yang lebih luas, filsafat adalah pandangan dunia seseorang dengan seperangkat prinsip yang digunakan untuk memandu hidupnya. Maksudnya, seseorang memiliki prinsip ideal dalam kehidupannya, dalam menjalani hidup. Prinsip tersebut dijadikan sebagai poros berpikir, bertutur maupun bersikap. Dari rumusan tersebut, muncul ungkapan: setiap orang adalah filsuf, tetapi tidak setiap orang ahli filsafat.

Seseorang dengan prinsip hidup yang dimilikinya akan menjadikannya selalu berpikir, bertindak, dan menjalani kehidupannya sesuai dengan prinsip hidup yang telah dibuatnya sehingga menjadikannya seorang filsuf, tetapi tidak ahli filsafat.

Seperti yang telah diurai di atas bahwa inti filsafat adalah berpikir. Karena manusia berpikir dan menggunakan akalnya, maka dia adalah filsuf. Segampang itu untuk menjadi seorang filsuf? Iya. Tetapi tidak setiap orang dengan pikirannya untuk menganalisis sesuatu bisa menjadi ahli filsafat. Tidak semudah itu, Ferguso.

Lha, di KBBI katanya filsuf itu ahli filsafat? Benar. Namun, bukankah untuk menjadi seorang ahli harus menempuh pendidikan dulu agar ilmunya teruji, melakukan berbagai macam eksperimen serta menuangkan segenap pemikirannya, gagasannya ke dalam bentuk tulisan? Ahli apa pun itu, tidak hanya ahli filsafat, di mana genealogi keilmuannya dan pendidikannya harus jelas.

Dan terutama sekali, kata ahli yang disematkan pada seseorang itu kan bukan si subjek bersangkutan yang meng-aku-kan dirinya sebagai ahli di bidang A, ahli di bidang B, dan seterusnya, tapi orang lain yang memberikannya gelar ahli sesuai dengan karya-karyanya.

Gelar M. Ag (Magister Agama) misalnya, gelar tersebut diberikan oleh pihak kampus. Semacam penghargaan dari pihak kampus atas ketekunannya dalam belajar dan telah berhasil menyelesaikan perkuliahan sampai batas waktu yang telah ditentukan oleh pihak kampus. Jadi tidak didapatkan secara cuma-cuma, ada proses, ada pengorbanan, kesedihan, air mata, kekecewaan, dan kebahagiaan yang mengiringi untuk mencapai dan mendapatkan gelar tersebut. Demikian juga dengan penyebutan untuk ahli filsafat.

Anda yang sudah berkenalan dengan filsafat, asumsi saya bahwa Anda pernah mendengar filsafat itu rumit, susah, bisa membuat gila dan bahkan ada yang mengharamkan. Di sini saya menegaskan, sependek perkenalan saya dengan filsafat, filsafat itu tidak sulit, tidak rumit. Dia akan menjadi sulit dan rumit karena pikiran Anda sendiri yang merumit-rumitkannya.

Dari penjelasan di atas, apakah Anda bingung? Kalau Anda bingung, berarti Anda sedang berfilsafat dan saya telah berhasil membuat Anda berpikir.