Karyawan Swasta
9 bulan lalu · 292 view · 6 min baca menit baca · Agama 96616_45568.jpg
https://www.google.com

Bisakah Kita Jadi Manusia?

Peran Positif atau Negatif Agama Dalam Konflik Kemanusiaan

Saya terusik oleh status Mas Gun –panggilan akrab Goenawan Mohamad- beberapa hari lalu (2/10/2018). Di laman facebooknya, Mas Gun menulis demikian, “Bisakah kita, di hari-hari bencana dan kesedihan ini, berhenti mengumbar permusuhan politik, dan bersama membantu yg menderita? Bisakah kita jadi manusia?”

Bisakah kita jadi manusia ? Pertanyaan yang terdengar simpel alias sederhana. Sayangnya, jawabannya tidak sesederhana yang kita kira. Bahkan akhir-akhir ini kita sulit untuk jadi manusia. Pasalnya, kita sudah kebas dengan rasa kemanusiaan. Persetan bencana di Lombok, di Donggala serta Palu sana. Selama masih ada yang bisa kita goreng, selama masih ada celah yang bisa kita komentari, kita nyinyiri, maka itulah yang terpenting. Itulah prioritas hidup kita. Menjerembabkan lawan politik sedalam-dalamnya, agar mereka tak mampu membela diri dan bungkam seribu bahasa.

Bahkan, pertanyaan Mas Gun soal bisakah kita jadi manusia adalah sebentuk pertanyaan yang terlalu mewah. Sebab di lapangan yang terjadi adalah pertanyaan-pertanyaan serupa, siapa yang bisa kita sogok ? Anda pendukung PKI ? Anda pendukung penista agama, bukan ? Anda muslim ? Anda Kristen ? Begitulah. Dus, pertanyaan yang diajukan Mas Gun adalah pertanyaan langka yang tidak kita ketemukan dalam keseharian kita.


Maka ketika Presiden Jokowi bergegas ke Palu, dua hari setelah bencana gempa dan tsunami melanda (30/9), beberapa kalangan mencurigainya. Presiden sedang berkampanye kata mereka. Jangan gunakan pesawat kepresidenan. Jangan gunakan fasilitas negara. Jangan bagi ini-itu. Mereka lupa, bahwa Jokowi masih berstatus sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan. Jokowi masih Presiden Republik Indonesia. Suatu kewajaran, bahkan keharusan seorang Presiden cepat tanggap dengan bencana yang menimpa warganya.

Apalagi tetiba seorang petinggi Ormas berkicau dalam sebuah kesempatan. "Gus Nur ditetapkan tersangka, Palu langsung diberikan bencana. Siapa yang berhadapan dengan mereka (ulama) langsung dibayar kontan (diberi bencana) oleh Allah SWT” (jawapos.com). Sungguh betapa dahsyatnya. Tuhan pun seakan-akan sudah berhasil didikte untuk menurunkan bencana kepada siapa saja yang berseberangan dengan mereka. Tanpa disadari, ketika berkata demikian, mereka seakan-akan telah mengangkat diri mereka setara dengan Tuhan. Padahal, Kanjeng Nabi Muhammad Mustafa Saw pun, sang Kekasih Allah, malah berujar, “Aku hanyalah manusia. Jika aku memerintahkan sesuatu tentang agama, ikutilah. Tetapi jika aku memerintahkan sesuatu yang berasal dari pendapatku, sebenarnya aku hanya seorang manusia. Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian.” (HR Muslim).

Bisakah kita jadi manusia ? Setiap menjelang akhir September kita pun kerasukan hantu PKI. Partai yang tewas lebih dari setengah abad lalu itu masih menyisakan ketakutan. Rupanya tragedi 30 September atau dalam versi Bung Karno sebagai “Gestok” –Gerakan Satu Oktober- lukanya masih belum kering, meski sudah terjadi puluhan tahun. Selepas tujuh jenderal dibunuh, jutaan manusia lainnya digorok, dikubur dan dihilangkan. Sisanya dibuang ke Pulau Buru, sebuah pulau terpencil di Kepulauan Maluku. Baik yang dibunuh atau dibuang, status mereka satu. Mereka dianggap sebagai bagian dari keluarga besar Komunis, baik dekat maupun jauh. Dan Komunis –dalam benak mereka- adalah sejenis setan yang harus selalu diperangi sepanjang masa.

Sebagian besar dari tahanan politik ini dibuang tanpa proses pengadilan. Seperti dialami Basuki Bowo. Dilansir dari merdeka.com, Dia ditahan di kamp konsentrasi Pulau Buru, Maluku, tanpa alasan. Bowo diciduk tentara pada 13 Oktober 1965, lalu dibawa ke Nusakambangan, berlanjut ke Buru setahun sesudahnya dengan alasan terlibat pengurusan Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI). Organisasi mahasiswa ini disebut sayap politik PKI. Bowo mengatakan rekan-rekannya sesama mahasiswa yang menjadi anggota Perhipi juga dicokok.

Bowo ditahan 14 tahun tanpa ada remisi, tanpa pengadilan, dan setelah dibebaskan dari Buru pada 1979 masih harus lapor setiap tiga bulan ke koramil terdekat di Jakarta Selatan. Selama di Buru, dia dilarang membaca buku, menulis, dan menerima surat dari keluarga. Tahanan politik diperintahkan tentara bekerja membangun rumah, bercocok tanam, dan kerja kasar lainnya dari pukul 4 pagi sampai jam 18.00. "Tidak ada keterangan ditahan untuk apa," kata Bowo. "Yang kami ketahui saat itu kami termasuk golongan B, artinya tahanan politik dianggap terlibat (G 30 S) tapi tidak terbukti," imbuhnya.

Kemanusiaan mereka dicerabut begitu saja. Mereka diperlakukan tak lebih sebagai budak, bahkan mungkin lebih rendah dari budak. Ketika perbudakan di belahan dunia lain sedang dikikis habis. Indonesia di awal 70-an hingga 80-an masih menggalakkannya, meski dengan label “Tapol” alias Tahanan Politik.

Jadi apa tugas manusia ? Seperti pernah dikatakan Multatuli, “kewajiban manusia adalah menjadi manusia." Masalahnya kita menganggap manusia lain - seperti yang disebut Jan Paul Sartre –sebagai neraka. “Other is hell” ujar Sartre. Other (orang lain) ‘liyan’ menegaskan bahwa keberadaan liyan selalu mengancam eksistensi diri. Hal tersebut karena eksistensi liyan yang selalu mengobjekkan diri kita, oleh karenanya tak heran Sartre menganggap orang lain sebagai “neraka”.


Lebih jauh dari itu,  secara tragis Sartre menyimpulkan ,”Human is useless passion!” (Manusia adalah hasrat kesia-siaan!”). Ini dikarenakan manusia, dalam pandangan Sartre memiliki hasrat atau keinginan yang tak berkesudahan. Keinginan yang tak ada habis-habisnya. Oleh karenanya, bagi kapitalisme, manusia tak ubahnya adalah objek yang terus menerus dimanfaatkan. Manusia dijejali produk-produk kapitalis, diseragamkan oleh mereka, sehingga keunikan sebagai individu tidak ada lagi.

Lalu, sampai sejauh mana kita layak disebut manusia ? Ketika nilai-nilai kemanusiaan semakin luntur. Di tengah bencana, musibah yang semestinya memersatukan kemanusiaan, justru yang muncul makhluk-makhluk berupa manusia tapi berhati serigala. Tipikal manusia semacam ini tak sungkan menikam sesama manusia lainnya atau dalam bahasa Plautus (195 SM), “Homo homini lupus,” sebuah kalimat bahasa latin yang berarti "manusia adalah serigala bagi sesama manusianya." Alih-alih memikirkan kepentingan sesama anak bangsa, mereka malah berisik dan lantang tentang kepentingan mereka sendiri.

Kondisi hari ini memunculkan manusia-manusia jenis ini. Di tengah bencana Lombok, Donggala dan Palu, mereka sibuk membicarakan kekuasaan. Di tengah kasus-kasus kemanusiaan yang tak kunjung selesai, seperti tragedi 1965, Tanjung Priok, Kuda Tuli dan kerusuhan Mei 1998 mereka malah meributkan Pilpres 2019 dan segala tetek bengeknya.

Bahkan, mereka tak sungkan mencipta hoaks. Tiga hari terakhir ini perhatian kita teralihkan dengan drama pengeroyokan Ratna Sarumpaet (RS). Tokoh yang berada di jajaran Juru Kampanye Nasional Pasangan Prabowo-Sandiaga ini mengaku dikeroyok tiga orang ketika berada di Bandara kota Bandung. Foto-fotonya yang memerlihatkan muka bonyok dan bengkak beredar luas di media sosial. Sontak, ibarat puting beliung, kubu Prabowo-Sandi bereaksi dengan cepat. Media sosial riuh rendah dengan suara kutukan mereka. Bahkan tak sedikit yang menuding kelompok Pro Jokowi berada di belakang pengeroyokan ini.

Untung saja hoaks yang akibatnya bisa memecah anak bangsa ini cepat terkuak. Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Perumpamaan ini mengena pada skenario RS. Polisi memiliki banyak bukti bahwa RS berbohong dan pada tanggal tersebut tidak sedang berada di Bandung, melainkan di Rumah Sakit Bedah Bina Estetika, Menteng Jakarta. CCTV membuktikan hal tersebut. Kedatangan Ratna ke rumah sakit Bedah Bina Estetika tak lain untuk melakukan sedot lemak pipi.

RS sendiri akhirnya mengaku bahwa dirinyalah pencipta hoaks tersebut, bahkan Ia mengaku sebagai pencipta hoaks terbaik. Permohonan maaf Ia layangkan. Begitu pula dengan Prabowo dan kubunya. Mereka serentak menulis cuitan, status serta postingan permohonan maaf. Kita seakan-akan merasakan suasana lebaran dua hari ini. Namun, satu hal, mereka tidak menulis permohonan maaf pada pribadi Presiden Jokowi langsung.

Dengan kenyataan yang seperti ini, masihkah kita yakin dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan ? Kita tidak boleh pesimis. Istilah “Gusti ora sare” adalah nilai filsafat Jawa yang berarti, setiap tindak tanduk kita, setiap apapun yang terjadi di jagad semesta ini tidak lepas dari pantauan Tuhan. Tuhan tidak pernah tidur. Sepanjang sejarah manusia, Tuhan selalu mengirim manusia-manusia terbaik yang selalu mengingatkan manusia lainnya akan nilai-nilai kemanusiaan. Mereka bisa bernama nabi, rasul, wali, atau mujaddid. Dus, meski tidak masuk kategori-kategori tersebut, Tuhan tetap mengirimkan orang-orang besar ke berbagai bangsa. Maka kita kemudian mengenal orang-orang seperti Mahatma Ghandi, Bunda Theresa, Abdul Sattar Edhi, atau Nelson Mandela. Merekalah lentera-lentera di tengah kegelapan malam yang pekat.

Ketika Tuhan tetap “keukeuh” menciptakan makhluk manusia di tengah keangkuhan Iblis dan keberatan Malaikat, tentu Tuhan –meminjam kata-katanya Einsten- tidak sedang bermain dadu. Ia berencana, dan manusia masih meraba-raba rencana-Nya.


Referensi :

https://www.merdeka.com/dunia/saksi-sidang-rakyat-65-mengaku-dibuang-ke-pulau-buru-tanpa-alasan-sidang-rakyat-1965-di-belanda.html

https://www.jawapos.com/jpg-today/30/09/2018/gempa-donggala-dan-palu-ketum-fpi-malah-bilang-begini

Artikel Terkait