Membaca tulisan di Qureta dengan judul Ambarwati Rexy di Pusaran Niqab terus terang sulit menanggapinya buat saya yang memutuskan memakai hijab bukan karena paksaan, tekanan sosial, apalagi ikut-ikutan karena fashion style karena maraknya muslimah yang makin tergerak untuk mengenakan hijab

Seperti kita ketahui, di tahun 1990an, hijab bisa dibilang belum banyak terlihat. Baru akhir-akhir ini banyak muslimah yang berhijab, entah karena benaran hijrah jiwa atau hanya sekadar ikut-ikutan atau tekanan suami dan keluarga. 

Sebenarnya argumen atau tweet war dengan tema yang sama sudah sering terjadi. Tapi mungkin tidak seheboh kali ini, hingga timeline saya penuh dengan orang-orang yang balik menghujat Mbak Rexy. 

Saya bersekolah di SD, SMP, SMA Katolik. Saya open minded untuk belajar agama lain. Bisa dibilang, saya lebih senang pada hal spiritual daripada religius. Sekolah saya terdiri dari berbagai suku dan bangsa serta agama.

Teman-teman dan keluarga besar pun sangat beragam suku, bangsa, dan agama. Justru yang muslim tidak banyak. Saya merasa teman-teman saya yang nonmuslim welcome saat saya empat tahun lalu memutuskan belajar memakai hijab. 

Minggu lalu saya ikut acara almamater saya, SMA Katolik. Di luar sangkaan saya, tidak ada ada siswi-siswi yang melihat saya sebagai salah satu fasilitator di acara 'Sisterhood Camp" dengan pandangan aneh. Mereka merasa saya adalah bagian keluarga, senior mereka. Saya juga merasa ada di keluarga besar almamater saya, meskipun saya satu-satunya alumni yang berhijab di situ. 

Selama acara, satu grup yang terdiri dari lima puluh siswi yang saya fasilitasi dengan nyaman dan sopan bertanya ke saya jika mereka kurang jelas saat mengerjakan proyek mereka.

Dan yang lucu, sepanjang acara, saya dengar siswi yang bukan muslim mengingatkan teman-teman muslim untuk salat di jam salat. Begitu pun para guru.

Acara sisterhood ini memang diikuti dari semua angkatan. Tujuannya untuk mempererat hubungan lintas angkatan kelas 10, 11, dan 12, serta mencegah bullying kakak kelas ke adik kelas.

Keberagaman itu asyik. Kita jadi lebih menghargai kuasa Allah yang menciptakan manusia dengan detail yang berbeda-beda. Tidak hanya fisik, tapi juga kebiasaan, prinsip hidup, dan lain-lain.

Selesai acara, saat saya berfoto berdua dengan suster (rohaniawan ordo Carolus Boromeus) kepala sekolah, teman-teman alumni yang kebanyakan kakak kelas berseloroh, "Wah, dua hijaber berfoto."

Entahlah. Saya tidak pernah usil dengan gaya berpakaian orang. Juga tidak pernah merasa diri saya lebih suci karena selembar pashmina di kepala saya. 

Saya juga sudah memutuskan tidak mau ambil pusing dengan omongan orang karena 'pilihan fashion' saya. Ada sebagian muslimah yang memutuskan berhijab syar'i terkadang memandang rendah yang berhijab modis. Sementara yang tidak berhijab terkadang mengira orang yang berhijab tidak open minded.

Saya tidak mau orang menilai saya karena pakaian saya dan saya tidak ingin melakukan hal yang sama ke orang lain.

Sudah saatnya kita saling menjaga keberagaman budaya di Indonesia, menghargai pilihan fashion, dan tidak merasa lebih baik dari yang lain karena pilihan fashion. 

Sejak Pemilihan Presiden 2014 dan diperparah di 2019, saya lelah membaca timeline yang berisi debat kusir bahkan saling hujat karena pilihan fashion. Saya lihat dua pihak yang sangat terpolarisasi dan tidak saling ingin memaklumi. 

Saya sebenarnya sedih melihat ini. Karena kita capek meributkan hal-hal yang tidak penting, bukan membahas ide besar untuk negara.

Untuk yang bercadar merasa diri lebih suci dibandingkan yang tidak berhijab bahkan terhadap yang berhijab. Padahal aturan mengenakan niqab atau cadar ini masih debatable

Ada sebagian bahkan menuduh gerakan kembali ke kebaya sebagai gerakan pemurtadan. Ini menurut saya berlebihan. Karena kebaya adalah kebudayaan sebagian penduduk Indonesia. Nenek saya pun berkebaya, berjarik (kain batik), dan berkerudung pashmina ala kadarnya untuk menutup rambut. 

Sementara yang tidak berhijab juga memberikan label dan generalisasi yang kurang baik terhadap yang berhijab sebagai orang yang tidak terbuka, orang yang bodoh, atau terkekang. 

Padahal, menurut saya, hijab yang saya kenakan sama sekali tidak mengubah karakter dan identitas saya, apalagi membatasi kebebasan berpikir saya. 

Bisakah kita damai dan fokus membangun negeri ini? Bisakah kita akhiri ini?
Kita yang mencintai negeri ini dengan keberagamannya, bisakah tetap mencintai budaya masing-masing? 

Yang memilih bercadar juga tidak mengeluarkan meme yang menyindir perempuan yang tidak berhijab, apalagi disamakan dengan permen. Apalagi menghakimi perempuan yang tidak berhijab perempuan tidak benar. Toh zaman sekarang hijab lebih kepada fashion style, karena ada perempuan berhijab tapi terkena kasus.

Yuk, ah, sesama perempuan dewasa, kita saling menghargai pilihan masing-masing. Kita sama-sama merawat keberagaman dan persatuan Indonesia.