Saat terbangun di pagi hari, secara tidak sadar hal yang pertama dilakukan yaitu mencari keberadaan gadget kita. Bagi banyak orang mereka akan merasa berada di sebuah adegan film horor apabila terputus dengan kehidupan di media sosialnya. Akan timbul kecemasan dan gejala penarikan diri terhadap media sosial dalam diri mereka. 

Apakah mungkin untuk hidup tanpa mengetahui apa yang dimakan sahabat kalian di pagi hari? Apa pakaian yang mereka kenakan hari ini? Secara tidak sadar akan muncul perasaan selalu ingin tahu tentang apa yang dilakukan orang lain di kehidupannya. Membuat kita menjadi sibuk mengurusi kehidupan orang lain dibandingkan kehidupan diri kita sendiri.

Tentunya kita tidak akan menyadarinya jika kita sudah sangat terikat dengan kehidupan di media sosial. Kita tidak sadar bahwa waktu yang sangat berharga milik kita ternyata sudah dirampas begitu saja oleh media sosial. Mata dan jari kita seolah tidak pernah lelah memandang dan menggerakkan layar gadget.

Terbukti dengan menjamurnya fenomena "Generasi Menunduk". Saat kita berada di tempat umum, pemandangan yang kita lihat bukanlah pemandangan orang-orang yang saling berbincang dan tertawa dengan teman ataupun keluarga mereka. Namun, yang kita lihat hanyalah sekumpulan orang yang menundukkan kepalanya dan sunyi tanpa canda tawa dan riuh percakapan.

Raganya memang berada di tempat, tetapi jiwanya entah sedang berada di alam mana. Tidak heran jika fenomena seperti itu disebut bahwa media sosial mendekatkan yang jauh, tetapi menjauhkan yang dekat. Bagaimana bisa? Memang seperti itulah realita yang terjadi saat ini.

Orang-orang seperti itu tidak lagi peduli dengan keadaan yang ada di sekitarnya. Rasanya seperti tidak mampu meninggalkan media sosial sejenak walaupun hanya untuk menoleh.

Dalam diri kita pasti terbesit rasa kesal karena tidak bisa meletakkan gadget kita, timbul rasa iri dengan teman yang ada di media sosial, rasa ingin tahu yang berlebihan, dan merasa lelah dengan memikirkan hal apapun yang ada di media sosial.

Sebenarnya akan ada banyak hal yang bisa kita lakukan apabila kita bisa berhenti sejenak mengurusi dunia maya dan lebih memperhatikan dunia nyata kita. Saat Anda merasakan lelah dengan media sosial dalam diri kita akan muncul dengan sendirinya perasaan untuk berhenti menggunakan media sosial.

Rasa yang timbul saat pertama kali meninggalkan media sosial yaitu perasaan ingin kembali ke dunia tersebut. Facebook, instagram, dan media sosial lainnya akan mengirimkan ribuan pesan kepada kita untuk memikirkan kembali apakah kita benar-benar akan meninggalkannya. 

Jangan sampai hal tersebut membuat kita berubah pikiran dan memilih kembali pada kehidupan media sosial kita sebelumnya. Saat sudah memilih untuk memutuskan hubungan, rasanya tidak mungkin akan kembali ke mantan kan?

Hal kedua yang akan terjadi adalah perubahan kebiasaan dalam kehidupan kita yang selama ini sangat terikat dengan media sosial. Kebiasaan mencari gadget saat baru saja membuka mata di pagi hari dapat kita ubah dengan melakukan kegiatan peregangan pada tubuh. Sehingga tubuh kita akan menjadi lebih segar dan bersemangat untuk mejalani hari yang baru.

Selain itu, kebiasaan melihat notifikasi dan stalking tentang kehidupan orang lain di pagi hari dapat kita ganti dengan membaca buku dan minum secangkir teh hangat. Tanpa sadar hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita akan membuat kita tertawa dan bahagia.

Hal ketiga yang dapat dilakukan saat terputus dengan medial sosial yaitu fokus mengembangkan minat dan bakat. Saat berhenti sejenak menggunakan media sosial maka kita akan sadar bahwa kita sudah menghabiskan banyak waktu hanya untuk mengurusi kehidupan maya dan mengesampingkan kehidupan di dunia nyata kita.

Sehingga saat berhenti sejenak menggunakan media sosial, waktu luang yang kita miliki dapat digunakan untuk mengembangkan minat dan bakat di bidang yang positif. Seperti kegiatan menulis. Kita bisa mulai menulis dari sebuah hal yang sederhana terlebih dahulu.

Selain itu, kita akan menemukan kebebasan dan keseimbangan dalam hidup. Memutuskan diri dari media sosial membuat kita sadar bahwa kehidupan yang paling memuaskan bukanlah kehidupan yang mengharuskan kita terikat pada suatu hal ataupun membagikan segalanya secara berlebihan.

Kita akan menjadi lebih membuka diri terhadap pergaulan di sekitar kita sehingga kecanduan terhadap gadget ataupun fenomena "Generasi Menunduk" akan dapat berkurang. Hal tersebut juga akan membuat kita bebas menjadi diri sendiri dan tahu kapan harus mengatakan “cukup untuk hari ini”.

Setelah terputus selama beberapa waktu dengan media sosial kemudian kembali menggunakannya dan saat melihat postingan di masa lalu akan timbul perasaan dalam diri kita bahwa itu terlalu berlebihan untuk dibagikan di media sosial. Kita akan menjadi lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan menjadi tahu bahwa tidak perlu berbagi secara berlebihan, tetapi hanya “cukup” berbagi saja.

Saat sudah bisa menyadari bahwa kita lelah dengan kehidupan di media sosial maka cobalah untuk berhenti dan putus sejenak dengan kehidupan media sosial kita. Lakukanlah hal-hal yang membuat kita bahagia tanpa adanya perasaan cemas dan terikat dengan kehidupan di media sosial.

Mungkin saja tidak selamanya kita bisa terputus dengan media sosial, tetapi diri kita sendirilah yang harus dapat mengurangi penggunaannya dan harus dapat bersikap bijak. Sehingga kehidupan kita menjadi lebih teratur, tenang, dan tidak memikirkan hal-hal yang seharusnya bukan menjadi permasalahan bagi kita.